Pembukaan Pekan, Rupiah Terkoreksi ke Rp18.090 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Senin (13/7/2026) pagi langsung terdepresiasi 25 poin ke posisi Rp18.090 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penu...

Jul 13, 2026 - 14:54
0 0

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Senin (13/7/2026) pagi langsung terdepresiasi 25 poin ke posisi Rp18.090 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di level Rp18.065. Tekanan terhadap mata uang Garuda datang di tengah penguatan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat serta sentimen domestik yang masih dibayangi oleh dinamika konsolidasi fiskal.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diakses secara real-time, pergerakan rupiah sejak sesi awal langsung dibuka di zona merah dan sempat menyentuh level terendah harian Rp18.095 dalam 30 menit pertama perdagangan. Pelaku pasar menyebut bahwa kombinasi faktor eksternal dan teknikal menjadi pemicu utama pelemahan kali ini.

Faktor Global Menekan Mata Uang Garuda

Sentimen global didominasi oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat pada Jumat pekan lalu yang menunjukkan kenaikan upah per jam di luar sektor pertanian sebesar 0,4 persen secara bulanan, lebih tinggi dari ekspektasi 0,3 persen. Angka ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Gubernur The Fed, Jerome Powell, dalam pernyataan terakhirnya juga menegaskan bahwa jalur penurunan inflasi masih belum cukup meyakinkan untuk segera melonggarkan kebijakan.

Ekonom Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Nurhayati Murti, menyampaikan bahwa rupiah memang berada dalam posisi rentan terhadap penguatan dolar AS.

“Diferensial suku bunga antara Indonesia dan AS yang masih lebar—saat ini BI rate berada di 5,75 persen sementara Fed fund rate 5,50 persen—belum cukup memberikan bantalan terhadap arus modal keluar. Apalagi jika ketidakpastian fiskal domestik ikut menambah persepsi risiko,”
ujarnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pagi ini tercatat menguat tipis ke level 105,80, melanjutkan tren penguatan yang telah berlangsung dalam dua minggu terakhir. Penguatan ini secara langsung menekan sebagian besar mata uang Asia, termasuk yen Jepang, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia.

Respons Bank Indonesia

Menanggapi pergerakan tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Nurul Huda, menyampaikan bahwa bank sentral terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kami melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), untuk meredam volatilitas yang berlebihan. Pelemahan ini masih dalam koridor fundamental dan likuiditas valas tetap terjaga,”
jelasnya melalui pesan singkat.

Huda menambahkan bahwa posisi cadangan devisa per akhir Juni 2026 sebesar 138,5 miliar dolar AS cukup untuk menjadi buffer dari tekanan eksternal jangka pendek. BI juga mengandalkan kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) yang telah berjalan efektif menambah pasokan valas domestik.

Dinamika Domestik dan Pergerakan Politik

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati percepatan penyerapan APBN 2026 yang hingga triwulan kedua baru mencapai 38,1 persen dari total pagu. Rendahnya realisasi belanja pemerintah dikhawatirkan menahan laju pertumbuhan domestik yang berimplikasi pada minat investasi asing. Menteri Keuangan, Suminto Aji, dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR pada 10 Juli lalu, memastikan akan ada akselerasi belanja melalui proyek strategis nasional pada kuartal ketiga.

Di ranah politik, keputusan Presiden Prabowo Subianto yang baru saja merombak struktur kabinet pada Jumat (10/7) juga menjadi perhatian. Masuknya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang baru, Airlangga Hartarto, dinilai akan memberikan sinyal keberlanjutan reformasi struktural. Meski begitu, pasar masih bersikap wait and see terhadap efektivitas tim ekonomi baru dalam menjaga stabilitas makro.

Proyeksi dan Rekomendasi

Kepala Riset Ekonomi Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.150 per dolar AS sepanjang pekan ini, bergantung pada rilis data inflasi AS dan keputusan Rapat Dewan Gubernur BI pada 15-16 Juli 2026.

“Kami memperkirakan BI akan menahan suku bunga di 5,75 persen dengan narasi dovish yang terukur. Stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kredibilitas komunikasi kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten,”
katanya.

Josua menyarankan pelaku usaha untuk meningkatkan lindung nilai (hedging) melalui instrumen derivatif valas sebagai antisipasi volatilitas lanjutan. Sementara itu, investor asing disarankan mencermati lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang dijadwalkan pada Selasa (14/7) sebagai indikator minat portofolio terhadap aset Indonesia.

Hingga berita ini ditulis, rupiah masih berada di kisaran Rp18.080–Rp18.100 per dolar AS dengan volume transaksi yang moderat. Pasar masih menanti kepastian arah kebijakan moneter global dan efektivitas respons bauran kebijakan domestik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User