Sapi Ternak Diterkam Harimau, Sekolah di Indragiri Hilir Diliburkan

Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, resmi dihentikan sementara pada Senin (27/7/2026). Kebijakan darurat ini ...

Sapi Ternak Diterkam Harimau, Sekolah di Indragiri Hilir Diliburkan

Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, resmi dihentikan sementara pada Senin (27/7/2026). Kebijakan darurat ini diambil setelah seekor sapi ternak milik warga ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka cakaran dan bekas gigitan yang berdasarkan hasil identifikasi awal dipastikan berasal dari serangan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran meluas di kalangan masyarakat, terutama para orang tua murid yang anaknya setiap hari harus menempuh perjalanan melintasi area perkebunan yang berbatasan langsung dengan habitat satwa dilindungi itu.

Kronologi Penemuan Bangkai Sapi dan Jejak Harimau

Peristiwa bermula pada Minggu dini hari (26/7/2026) sekitar pukul 03.30 WIB, ketika Sudirman (52), seorang peternak warga Dusun Mekar Jaya, Desa Sungai Buluh, terbangun oleh suara gaduh dari arah kandang sapinya yang terletak sekitar 150 meter dari rumah. Setelah memeriksa lokasi, ia mendapati satu ekor sapi jantan berbobot sekitar 300 kilogram telah tergeletak tak bernyawa dengan luka robek di bagian leher dan paha belakang. “Saya langsung menduga ini ulah harimau karena bekas cakarannya sangat besar dan dalam,” ujar Sudirman saat ditemui di kediamannya.

Tim gabungan yang terdiri dari Kepolisian Sektor Tempuling, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Indragiri Hilir, serta perangkat desa setempat segera diterjunkan ke lokasi begitu laporan diterima pada pagi harinya. Dari hasil olah tempat kejadian perkara, petugas menemukan sejumlah jejak kaki berukuran diameter 12 hingga 14 sentimeter pada tanah berlumpur di sekitar kandang. Kepala BKSDA Resort Indragiri Hilir, Andi Pratama, menegaskan bahwa karakteristik jejak tersebut sangat khas mengarah pada harimau sumatera dewasa. “Kami menemukan minimal empat titik jejak yang mengindikasikan pergerakan satwa ini dari arah barat menuju kawasan konservasi,” kata Andi dalam keterangan resmi yang disampaikan Senin siang.

Selain jejak kaki, petugas juga menemukan bercak darah dan serpihan kayu dari pagar kandang yang jebol akibat dorongan kuat. Bangkai sapi telah dikuburkan oleh pemiliknya dengan pengawasan aparat setelah sampel luka dan dokumentasi forensik diambil untuk keperluan investigasi lebih lanjut. Tidak ditemukan tanda-tanda keterlibatan manusia dalam kematian ternak tersebut, sehingga dugaan kuat mengarah pada konflik satwa liar dengan pemukiman warga.

Rapat Koordinasi Darurat dan Keputusan Peliburan Sekolah

Menyikapi eskalasi ancaman, Camat Tempuling, Heryanto, memimpin langsung Rapat Koordinasi Darurat pada Senin pagi pukul 08.00 WIB di aula kantor camat. Rapat tersebut dihadiri oleh Kapolsek Tempuling AKP Darmawan, Kepala BKSDA Resort Inhil, Kepala Puskesmas Tempuling, seluruh kepala desa se-Kecamatan Tempuling, serta perwakilan komite sekolah dan tokoh masyarakat. Dalam rapat yang berlangsung selama dua jam tersebut, disepakati bahwa Surat Keputusan Bersama tentang Penghentian Sementara Kegiatan Belajar Mengajar ditetapkan untuk tiga sekolah dasar yang berada dalam radius dua kilometer dari lokasi serangan.

Ketiga sekolah yang terdampak adalah SD Negeri 04 Sungai Buluh, SD Negeri 07 Teluk Meranti, dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah. “Keputusan ini berlaku selama tiga hari ke depan terhitung mulai 27 hingga 29 Juli 2026, dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan situasi di lapangan,” ujar Heryanto. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini diambil semata-mata untuk menjamin keselamatan peserta didik. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir, total murid yang terdampak akibat peliburan ini mencapai 547 siswa.

Kepala SD Negeri 04 Sungai Buluh, Rosmawati, menyatakan pihaknya sepenuhnya mendukung keputusan tersebut. “Kami sudah menginstruksikan kepada seluruh wali kelas untuk memberikan materi pembelajaran jarak jauh melalui grup WhatsApp orang tua murid selama masa libur darurat ini,” jelasnya. Sementara itu, sejumlah orang tua murid mengaku lega dengan kebijakan cepat pemerintah meskipun menyayangkan kondisi yang memaksa anak-anak mereka belajar dari rumah. “Lebih baik anak saya di rumah dulu daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap Nurhayati, orang tua siswa kelas 3 SD Negeri 07 Teluk Meranti.

Langkah Antisipasi dan Imbauan kepada Warga

BKSDA bersama Kepolisian Sektor Tempuling telah menyusun sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah insiden serupa sekaligus melindungi warga dari potensi serangan susulan. Sebanyak 15 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan patroli rutin setiap enam jam di sepanjang jalur yang menghubungkan permukiman warga dengan area perkebunan kelapa sawit dan hutan sekunder. Selain itu, BKSDA memasang dua unit kamera pengintai di titik-titik strategis yang diduga menjadi jalur lintasan satwa tersebut.

Heryanto juga mengimbau seluruh warga, khususnya para pekebun dan peternak, untuk tidak beraktivitas sendirian di kebun pada malam hari serta segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan harimau. “Kami minta warga meningkatkan kewaspadaan. Jangan keluar rumah saat gelap jika tidak mendesak, dan pastikan kandang ternak dalam kondisi kokoh,” tegasnya. Pemerintah desa setempat juga telah menyediakan tiga unit rumah singgah sementara bagi peternak yang kandang ternaknya berada terlalu dekat dengan titik serangan, agar dapat memindahkan hewan peliharaan mereka ke lokasi yang lebih aman.

Di sisi lain, Kepala BKSDA Resort Inhil, Andi Pratama, menyatakan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau untuk mempertimbangkan opsi pemasangan perangkap kandang (box trap) jika dalam waktu 2x24 jam ke depan harimau tersebut kembali terdeteksi mendekati pemukiman. “Opsi translokasi akan menjadi langkah terakhir jika satwa ini benar-benar tidak bisa kembali ke habitatnya secara alami,” pungkas Andi. Hingga berita ini diturunkan, situasi di Kecamatan Tempuling dilaporkan masih kondusif, namun warga tetap diminta untuk tidak lengah dan terus mengikuti arahan dari pihak berwenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User