Saham JELI-BACH Ambruk, RANS Gaet Konglomerat Besar
Jakarta – Aroma pasar modal domestik di awal Juli 2026 diwarnai dua wajah yang kontras. Di satu sisi, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi G
Jakarta – Aroma pasar modal domestik di awal Juli 2026 diwarnai dua wajah yang kontras. Di satu sisi, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH) yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru mengalami tekanan jual hebat. Sementara itu, PT RANS Simba Digital Entertainment Tbk (RANS) berhasil memikat sejumlah nama besar konglomerat sebagai investor strategis, menegaskan bahwa tidak semua IPO lahir dengan nasib serupa.
Saham JELI, yang bergerak di bidang makanan olahan siap saji, ditutup melemah 24,8 persen dari harga IPO sebesar Rp200 ke level Rp150 pada akhir pekan pertamanya. Sementara BACH, perusahaan logistik berbasis teknologi, anjlok 15 persen dari harga perdana Rp300 menjadi Rp255. Kedua saham ini menjadi penghuni terbaru gelombang IPO yang langsung dibuang investor, memicu keraguan terhadap kualitas emiten pendatang baru.
Faktor di Balik Aksi Jual Saham JELI dan BACH
Analis pasar modal, Mira G. Kusuma dari Kiwoom Sekuritas, menuturkan bahwa valuasi kedua emiten ini dianggap terlalu tinggi dibandingkan fundamental dan prospek pertumbuhannya. “JELI masuk ke subsektor makanan yang sudah padat dan marginnya tipis, sementara BACH masih minim kontrak jangka panjang yang bisa jadi jaminan pendapatan berulang,” jelasnya. Kondisi ini diperburuk oleh sentimen investor ritel yang masih trauma dengan sejumlah IPO sebelumnya yang kinerjanya di bawah ekspektasi.
Selain itu, aksi ambil untung besar-besaran terjadi karena banyak investor yang memborong saham saat penawaran perdana hanya untuk mendapatkan keuntungan cepat di hari pertama. Ketika harga tidak naik sesuai ekspektasi, mereka memilih keluar dan memicu domino effect penurunan. Volume transaksi JELI dan BACH pun sempat membengkak hingga tiga kali lipat rata-rata harian emiten sejenis.
RANS Boyong Konglomerat, Sinyal Kepercayaan
Berbeda dengan JELI dan BACH, RANS yang merupakan emiten di bidang konten digital, event, dan lisensi justru mencuri perhatian karena berhasil menggandeng jajaran konglomerat ternama sebagai investor strategis. Dalam seremoni pencatatan saham yang dihadiri langsung oleh Haji Isam, Boy Thohir, dan Anindya Bakrie, terpancar optimisme bahwa perusahaan milik pasangan artis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini memiliki prospek cerah.
“Kehadiran para investor kawakan ini bukan hanya soal dana, tapi juga akses jaringan dan kredibilitas. Mereka tidak akan masuk jika tidak melihat peta pertumbuhan yang jelas di RANS,” ujar seorang investment banker yang terlibat dalam proses IPO RANS.
RANS berhasil mengumpulkan dana IPO sebesar Rp1,2 triliun, yang sebagian besar diserap oleh para konglomerat sebagai pemodal siaga (cornerstone investors). Rencana penggunaan dana difokuskan pada ekspansi bisnis konten dan pengembangan platform digital, termasuk akuisisi perusahaan media baru. Pasar pun merespons positif, dengan saham RANS menguat tipis di hari pertama dan bertahan stabil di zona hijau.
Kontras yang Mencerminkan Kematangan Pasar
Perbedaan nasib ini menunjukkan bahwa investor kini semakin selektif. Mereka tidak lagi membabi buta mengejar setiap IPO, melainkan mencermati rekam jejak pemilik, tata kelola, dan validasi dari pemodal institusi besar. Kehadiran nama-nama beken di jajaran investor RANS menjadi semacam stempel yang mengurangi persepsi risiko, sesuatu yang tidak dimiliki oleh JELI dan BACH yang mayoritas pemegang sahamnya adalah pendiri dan kerabat dekat tanpa rekam jejak bisnis yang teruji publik.
Namun, bukan berarti JELI dan BACH tidak punya peluang. Kedua emiten ini masih memiliki fundamental usaha riil. JELI, misalnya, mengoperasikan tiga pabrik di Jawa Tengah dengan kapasitas produksi yang berpotensi menggaet pasar ekspor. Sementara BACH tengah menjajaki kerja sama dengan platform e-commerce besar untuk layanan logistik last-mile. Apabila strategi tersebut berhasil, bukan tidak mungkin saham mereka akan menemukan level keseimbangan yang lebih menguntungkan investor jangka menengah.
Sementara itu, pengamat menilai bahwa euforia IPO yang tidak diimbangi dengan edukasi investor hanya akan menciptakan korban baru. “Kita perlu lebih banyak roadshow yang jujur soal risiko, bukan hanya menjual janji manis,” tegas Mira. Regulator pun diharapkan lebih ketat menyeleksi emiten yang akan melantai, agar kasus ambruknya saham pasca-IPO tidak terus berulang dan merusak kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Saham JELI & BACH kompak ambruk setelah IPO, beda nasib dengan RANS yang boyong Haji Isam, Boy Thohir, & Anindya Bakrie. Pasar makin selektif pilih emiten, dukungan konglomerat jadi kunci! #IPO #PasarModal #Saham #RANS[SOCIAL_TG]: 📉 JELI -24,8%, BACH -15% di minggu pertama. 😎 RANS? Malah bawa Haji Isam, Boy Thohir, Anindya Bakrie. Nasib IPO memang tak selalu manis ya.
Comments (0)