Rosan Sebut Danantara Kini Diburu Investor Asing Berkat Prabowo

CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan P. Roeslani menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Danantara telah bertransformasi menjadi mitra strategis yang paling di...

Jul 13, 2026 - 11:05
0 0

CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan P. Roeslani menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Danantara telah bertransformasi menjadi mitra strategis yang paling diminati investor asing. Pernyataan itu disampaikan Rosan di sela-sela pertemuan dengan perwakilan dana investasi global di Jakarta, Rabu (15/5/2024). Ia menyebut lonjakan minat ini tak lepas dari arahan langsung Presiden Prabowo yang memposisikan Danantara sebagai motor utama pengelolaan aset negara dan pembiayaan proyek-proyek prioritas nasional.

“Kami menyaksikan sendiri, setiap kali Presiden Prabowo memimpin roadshow investasi atau pertemuan bilateral, pintu bagi Danantara terbuka lebar. Investor melihat komitmen yang tegas, kepastian hukum, dan proyek-proyek yang siap dieksekusi. Ini yang membuat mereka berebut menjadi mitra,” ujar Rosan dalam forum tertutup yang dihadiri lebih dari 50 institusi keuangan dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia Pasifik.

Data internal Danantara mencatat, sepanjang kuartal pertama 2024 saja, nilai letter of intent (LoI) yang masuk mencapai US$ 18,7 miliar, meningkat 340% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut mencakup 12 proyek strategis di sektor hilirisasi mineral, infrastruktur digital, energi terbarukan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Minat Investor Asing Meroket

Rosan merinci, lonjakan minat paling signifikan berasal dari investor Timur Tengah, khususnya Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang mengincar proyek energi hijau dan pengembangan smelter terintegrasi. Sementara dari Asia, konsorsium asal Jepang dan Korea Selatan menunjukkan ketertarikan pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan pabrik baterai di Kalimantan serta Sulawesi.

“Presiden Prabowo memberi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah. Hilirisasi adalah keniscayaan. Danantara hadir sebagai jembatan antara visi besar itu dengan modal jangka panjang dari mitra global,” ungkap mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu.

Pada kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Riyadh bulan lalu, misalnya, ditandatangani perjanjian pendanaan sebesar US$ 5 miliar untuk proyek kawasan industri hijau di Kalimantan Utara. Proyek tersebut menjadi salah satu dari lima portofolio unggulan Danantara yang akan ditawarkan dalam Investment Summit bulan depan di Nusa Dua, Bali.

Proyek Strategis Jadi Daya Tarik Utama

Staf Khusus Presiden Bidang Investasi, Felix Mambo, yang turut mendampingi Rosan, menjabarkan empat pilar proyek yang menjadi magnet bagi investor. Pertama, pengembangan 15 smelter baru dengan target operasi penuh sebelum 2029. Kedua, pembangunan jaringan transmisi listrik hijau sepanjang 8.000 kilometer untuk mendukung pusat data dan industri berkelanjutan. Ketiga, percepatan fase II IKN yang membutuhkan investasi non-APBN sekitar US$ 32 miliar. Keempat, transformasi digital layanan publik melalui infrastruktur fiber optik nasional.

“Semua proyek ini telah melalui uji kelayakan dan masuk dalam Rencana Induk Investasi Strategis yang disahkan langsung oleh Presiden dalam rapat terbatas pada Februari lalu. Danantara bertindak sebagai aggregator dan lead investor, sehingga risiko bagi mitra asing bisa dimitigasi,” jelas Felix.

“Kami tidak hanya menawarkan proyek, tetapi kepastian tata kelola. Setiap rupiah yang masuk diawasi oleh komite investasi independen dan diaudit oleh BPK. Ini yang membedakan era sekarang.”

Rosan menambahkan, transparansi dan penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi syarat mutlak dalam setiap kerja sama. Ia mengklaim seluruh portofolio Danantara telah meraih sertifikasi hijau dari lembaga internasional seperti Climate Bonds Initiative dan IFC Performance Standards.

Peran Langsung Presiden Prabowo

Sejumlah pengamat menilai, branding Danantara yang sempat redup pasca-pandemi kini menguat tajam berkat diplomasi investasi Presiden Prabowo yang agresif namun terukur. Dalam setiap kunjungan luar negeri, Presiden selalu menyertakan CEO Danantara sebagai anggota delegasi inti, sebuah praktik yang tidak lazim pada pemerintahan sebelumnya.

“Presiden Prabowo memahami bahwa institusi investasi negara harus dipimpin oleh profesional dengan jaringan global. Beliau memilih Rosan yang punya rekam jejak di Kamar Dagang dan jaringan bisnis internasional. Kombinasi political will dan teknokrasi inilah yang menciptakan kepercayaan investor,” kata ekonom senior Universitas Indonesia, Dian Masyita.

Di tingkat operasional, Danantara juga menerima mandat baru melalui Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Investasi Strategis. Aturan itu memberi kewenangan kepada holding investasi ini untuk membentuk Special Purpose Vehicle (SPV) bersama mitra asing tanpa melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga proses pendanaan dan eksekusi bisa berjalan lebih lincah.

“Ini terobosan fundamental. SPV-SPV tersebut memungkinkan pembiayaan kreatif, termasuk penerbitan green bond dan sukuk internasional yang sudah oversubscribed hingga 2,5 kali pada penerbitan perdana Maret lalu,” papar Rosan.

Komitmen Danantara sebagai Mitra Strategis

Rosan menegaskan, Danantara tidak akan sekadar menjadi kendaraan fiskal, tetapi juga mitra aktif yang terlibat dalam transfer teknologi dan pengembangan kapasitas lokal. Dalam proyek smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), misalnya, skema kerja sama mensyaratkan alih pengetahuan kepada teknisi Indonesia dalam waktu lima tahun pertama operasi.

“Investor datang dengan modal dan teknologi, kami menyediakan sumber daya dan pasar. Tapi kami ingin memastikan bahwa setelah 10-15 tahun, bangsa ini bisa berdiri sendiri mengelola aset-aset strategis tersebut. Itu pesan langsung Presiden Prabowo kepada saya,” ucapnya.

Sejalan dengan itu, Danantara juga memperkuat struktur internal. Dewan pengawas kini diisi oleh para mantan menteri dan gubernur bank sentral, sementara komite audit melibatkan firma internasional big four. Rekrutmen tim investasi dilakukan secara global, menghasilkan komposisi profesional dari Goldman Sachs, Temasek, dan Mubadala yang kini mengisi posisi kunci.

Dengan semua fondasi tersebut, Rosan optimistis realisasi investasi pada semester kedua 2024 akan melampaui target US$ 30 miliar. “Kami tidak hanya diburu oleh investor. Kami kini yang memilih mitra terbaik untuk Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User