Ribuan warga Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda darurat hingga Senin, 17 Agustus 2026, sepekan lebih setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,2 melanda wilayah tersebut. Pengungsi mendirikan kemah di lapangan terbuka kawasan Mbay setelah rumah mereka rusak berat akibat gempa yang terjadi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Mereka menggantungkan hidup pada bantuan logistik pemerintah kabupaten dan relawan yang distribusinya belum merata ke seluruh titik pengungsian.
Sebagian pengungsi menyatakan pasokan pangan dan air bersih mulai menyempit seiring bertambahnya jumlah warga yang memilih meninggalkan rumah karena khawatir gempa susulan. Berdasarkan keterangan instansi meteorologi, pusat gempa berada di darat dengan kedalaman dangkal sehingga guncangan terasa kuat di permukiman, sementara gempa susulan tercatat terjadi puluhan kali dalam sepekan pertama.
Pengungsian di Lapangan Terbuka
Kemah darurat berdiri rapat di lapangan yang berubah fungsi menjadi permukiman sementara. Sebagian tenda terbuat dari terpal dan kain layar yang diperoleh warga dari sisa peralatan pertanian, sementara sejumlah keluarga hanya berlindung di bawah pohon besar. Aktivitas memasak dilakukan di sudut lapangan dengan tungku darurat.
Kondisi sanitasi menjadi persoalan paling mendesak. Satu-satunya sumber air mengalir dari mata air kecil di tepi lapangan yang juga dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Anak-anak dan lansia mulai menunjukkan gejala batuk serta gatal kulit akibat cuaca ekstrem, terik pada siang hari dan hujan pada malam hari.
Seorang pengungsi yang menempati tenda bersama delapan anggota keluarganya menyatakan pihaknya bertahan dengan harapan bantuan segera tiba. "Kami tidak berani kembali ke rumah karena dinding sudah retak. Kalau ada gempa lagi, kami tidak sempat menyelamatkan anak-anak," ujarnya.
Data Kerusakan Akibat Gempa
Berdasarkan data evakuasi yang dihimpun instansi penanggulangan bencana daerah, gempa merusak lebih dari 1.200 rumah di sejumlah desa, dengan ratusan unit di antaranya tidak layak huni. Fasilitas umum turut terdampak, meliputi gedung sekolah, puskesmas, kantor desa, serta jaringan jalan yang tertutup material longsor.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo menegaskan jumlah pengungsi terus berubah karena sebagian warga memilih menumpang di rumah kerabat. "Pencacahan masih berlangsung. Kami mencatat lebih dari 4.000 jiwa mengungsi di sejumlah titik, namun angka itu dapat bertambah setelah tim mencapai desa-desa di kawasan pegunungan," katanya.
Ia menyatakan pemantauan gempa susulan dilakukan terus-menerus untuk memetakan zona rawan agar penyaluran bantuan diarahkan secara tepat. Kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah juga terhenti karena bangunan kelas dinyatakan tidak layak digunakan, sehingga pemerintah daerah menyiapkan kelas darurat di tenda-tenda besar.
Respons Pemerintah dan Penyaluran Bantuan
Pemerintah Kabupaten Nagekeo menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat penanganan di lapangan. Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi yang melibatkan BPBD, dinas teknis, TNI, dan Kepolisian, dengan penugasan tim terpadu untuk mendata kebutuhan mendesak di setiap titik pengungsian.
Bantuan yang telah tersalurkan meliputi tenda, terpal, beras, mie instan, dan obat-obatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menindaklanjuti laporan daerah dengan menyiapkan pengiriman logistik tambahan dari gudang cadangan provinsi. Sejumlah Fraksi di DPRD Nagekeo dalam rapat Pleno menyatakan dukungan terhadap percepatan penanganan darurat dan meminta realokasi anggaran daerah untuk pemulihan.
Pj Bupati Nagekeo dalam keterangan resminya menyatakan pemerintah daerah bergerak secepat mungkin meski menghadapi keterbatasan alat berat dan akses jalan. "Kami memprioritaskan kebutuhan pangan, air bersih, dan tempat tidur darurat. Seluruh perangkat daerah dikerahkan untuk menjangkau desa-desa terdampak," ujarnya.
Tantangan Logistik dan Kebutuhan Mendesak
Penyaluran bantuan menghadapi sejumlah hambatan. Jalan alternatif menuju desa-desa di kawasan selatan tertutup material longsor pasca gempa, sehingga petugas harus menggunakan jalur laut atau berjalan kaki. Cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir juga memperlambat pengiriman barang dari ibu kota kabupaten.
Relawan yang bertugas di lapangan menyatakan kebutuhan paling mendesak adalah tenda keluarga, selimut, air bersih, dan layanan kesehatan keliling. Pos kesehatan darurat yang dibuka di lokasi pengungsian menangani puluhan kasus diare dan infeksi kulit setiap hari.
BPBD Nagekeo mengimbau warga yang rumahnya rusak untuk tidak kembali sebelum pemeriksaan kelayakan hunian selesai dilakukan. "Keselamatan jiwa adalah prioritas utama. Kami meminta masyarakat bersabar dan kooperatif selama masa tanggap darurat," kata pejabat tersebut. Pemerintah daerah menyatakan masa tanggap darurat akan diperpanjang menindaklanjuti hasil evaluasi lapangan sebelum rencana rehabilitasi rumah disahkan dalam rapat pembahasan anggaran.
Comments (0)