Oct 10, 2026
Hukum

Raja Maroko Kecam Instrumentalisasi Media Spanyol soal Krisis Ceuta

RABAT — Raja Maroko Mohammed VI mengecam keras apa yang disebutnya sebagai "instrumentalisasi" krisis Ceuta oleh sejumlah kalangan politik dan media di Spa

Raja Maroko Kecam Instrumentalisasi Media Spanyol soal Krisis Ceuta

RABAT — Raja Maroko Mohammed VI mengecam keras apa yang disebutnya sebagai "instrumentalisasi" krisis Ceuta oleh sejumlah kalangan politik dan media di Spanyol. Dalam pidato kenegaraan yang disiarkan langsung dari Istana Rabat, penguasa dari dinasti Alawi itu menegaskan bahwa persoalan migran di kantong Spanyol di Afrika Utara telah diperlakukan secara tendensius, jauh dari substansi hubungan bilateral kedua negara yang selama ini dijalin.

Pernyataan itu menjadi babak baru ketegangan diplomatik antara Rabat dan Madrid, yang sebelumnya berlangsung dalam koridor senyap. Pidato tersebut dibacakan dalam momen resmi kenegaraan, sehingga bobot politiknya jauh lebih berat daripada sekadar pernyataan juru bicara kementerian luar negeri.

Menepis Narasi Satu Arah

Raja Mohammed VI menyoroti bagaimana sebagian lingkaran politik dan media di Spanyol membingkai peristiwa masuknya ribuan migran ke Ceuta sebagai "senjata" yang diarahkan Maroko kepada Eropa. Narasi itu, menurutnya, mengabaikan kronologi dan konteks yang lebih rumit.

"Maroko tidak bertindak berdasarkan keputusan tergesa-gesa, dan tidak akan pernah menggunakan isu migrasi sebagai alat tekanan. Yang kami tolak adalah upaya pihak lain menginstrumentalisasi persoalan ini untuk kepentingan politik jangka pendek mereka," tegas Raja Mohammed VI dalam pidato tersebut.

Ia menambahkan bahwa hubungan baik dengan Spanyol tetap menjadi prioritas, namun harus dibangun di atas fondasi kepercayaan, kejujuran, dan penghormatan timbal balik. Pemerintah Maroko, lanjutnya, menginginkan kemitraan yang transparan dan terbuka, bukan hubungan yang dikelola melalui manuver dan keraguan yang terus dipupuk.

Akar Ketegangan di Selat Gibraltar

Krisis memuncak setelah ribuan orang menyeberang ke Ceuta pada Mei lalu, menyusul keputusan Maroko melonggarkan pengawasan di perbatasan. Langkah itu dipandang sebagai respons atas keputusan Spanyol menerima pemimpin Front Polisario, Brahim Ghali, untuk menjalani perawatan medis di wilayah Spanyol tanpa pemberitahuan resmi kepada Rabat.

Spanyol merespons dengan mengerahkan aparat keamanan, memulangkan sebagian besar migran, dan memanggil pulang duta besarnya dari Rabat — sebuah langkah diplomatik yang jarang terjadi antara dua negara bertetangga. Madrid dan Rabat tercatat sebagai mitra dagang utama dengan nilai pertukaran ekonomi yang mencapai miliaran euro setiap tahun.

Sementara itu, sejumlah pejabat Spanyol menuding Maroko sengaja membiarkan arus migran sebagai bentuk pembalasan. Tudingan itulah yang kemudian dibantah tegas oleh Istana Rabat.

Jalan Panjang Menuju Normalisasi

Pengamat hubungan internasional menilai pidato raja menjadi penanda bahwa Maroko ingin menyelesaikan polemik melalui jalur negosiasi, tetapi sekaligus mengirim pesan bahwa klaim historisnya atas Ceuta dan Melilla tidak akan pernah ditinggalkan. Rabat secara konsisten merujuk pada resolusi PBB mengenai dekolonisasi untuk memperkuat posisi itu, meski selalu menekankan penyelesaian secara damai.

Di sisi lain, Madrid menghadapi tekanan domestik dari partai oposisi yang menuntut sikap lebih keras terhadap Rabat. Situasi ini menciptakan dilema: memperkeras nada berisiko mengganggu kerja sama keamanan, migrasi, dan energi yang selama ini menguntungkan kedua pihak.

Sejumlah analis menilai eskalasi ini pada akhirnya akan mereda karena saling ketergantungan yang kuat. Namun mereka sepakat bahwa kepercayaan yang sempat runtuh membutuhkan waktu, konsistensi, dan dialog tingkat tinggi untuk dipulihkan — bukan sekadar pernyataan pers yang saling bersahutan di ruang publik.

Mohammed VI: Maroko tidak pernah menggunakan isu migrasi sebagai alat tekanan. Yang ditolak adalah framing politik sejumlah kalangan di Spanyol. Hubungan dengan Madrid harus dibangun di atas kepercayaan dan kejujuran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User