KATHMANDU — Nama Tenzing Norgay Sherpa dan Edmund Hillary tercatat abadi dalam sejarah sebagai manusia pertama yang mencapai puncak Everest pada 1953. Tujuh dekade kemudian, anak Tenzing, Jamling Tenzing Norgay Sherpa, membawa pesan yang jauh berbeda dari kemenangan pendakian: pegunungan tertinggi dunia sedang mengirim sinyal bahaya iklim yang tak bisa diabaikan.
Dalam sebuah film berjudul "Tenzing" yang dirilis Apple TV, kisah pendakian legendaris 1953 itu dikisahkan dari sudut pandang Tenzing Norgay Sherpa. Namun bagi Jamling yang kini berusia 61 tahun, film itu bukan sekadar nostalgia sejarah keluarga, melainkan pengingat bahwa gunung yang dulu mereka taklukkan kini berada dalam ancaman serius akibat perubahan iklim.
Banjir Bandang Ratakan Desa Thame
Dua tahun lalu, Jamling menyaksikan langsung dampak nyata krisis iklim saat desa ayahnya, Thame, di ketinggian 3.800 meter, disapu banjir bandang dahsyat yang dipicu letusan danau glasial atau glacial lake outburst flood (GLOF).
"Banjir itu menyapu setengah desa Thame dari peta. Ini ancaman besar. Begitu gletser menyusut, permukaan air danau akan naik, lalu suatu hari akan jebol dan meluap. Dan itulah yang sedang terjadi sekarang," ujar Jamling kepada AFP.
Data menunjukkan Nepal memang berada di garis depan krisis iklim. Dengan sekitar separuh wilayah negara tertutup pegunungan, komunitas di lembah dan hilir sungai menjadi kelompok paling rentan.
Gletser di Everest Mencair Cepat
Jamling menegaskan tanda-tanda pemanasan global kini terlihat jelas di tubuh Everest. Para pemandu mulai menemukan genangan air di Camp 2 pada ketinggian sekitar 6.400 meter — lokasi yang selama ini selalu berupa es padat.
- Foto perbandingan memperlihatkan gletser yang menyusut jauh sejak pendakian sang ayah pada 1953.
- Cuaca yang tak lagi dapat diprediksi meningkatkan risiko bagi para pendaki.
- Avalanche atau longsor salju makin sering terjadi dan mempersempit ruang aman pendakian.
Bagi komunitas Sherpa yang menggantungkan hidup dari pendakian gunung, perubahan ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi langsung mengancam nyawa dan mata pencaharian.
Warisan Sang Ayah dan Beban Generasi Baru
Jamling sendiri mengikuti jejak sang ayah mendaki Everest pada 1996, impian yang ia simpan sejak usia delapan tahun. "Dia adalah panutan terbesar saya, pahlawan saya. Saya ingin menjadi seperti dia," kenangnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa biaya yang harus dibayar dari keajaiban pegunungan kian mahal. "Nepal sangat rentan karena separuh negara kami tertutup pegunungan. Ini akan berdampak pada orang-orang yang tinggal lebih rendah di lembah di sepanjang sungai," tegasnya.
| Fakta Kunci | Data |
|---|---|
| Pendakian pertama Everest | 1953 (Tenzing & Hillary) |
| Ketinggian Desa Thame | 3.800 mdpl |
| Genangan air ditemukan | Camp 2, sekitar 6.400 mdpl |
| Kondisi sebelumnya | Selalu berupa es padat |
Pesan Jamling jelas: perubahan iklim tidak mengenal ketinggian. Gunung yang dulu menjadi simbol pencapaian manusia kini menjadi bukti nyata kerapuhan planet. Bagi Nepal dan dunia, peringatan dari Himalaya ini adalah panggilan untuk bertindak sebelum terlambat.
Comments (0)