Putra Tri Ramadani Sabet Perunggu di World Climbing Series Chamonix
Chamonix, Prancis – Atlet panjat tebing Indonesia, Putra Tri Ramadani, menambah koleksi prestasi internasionalnya dengan merebut medali perunggu pada nomor Lead Putra dalam ajang World Climbing Seri...
Chamonix, Prancis – Atlet panjat tebing Indonesia, Putra Tri Ramadani, menambah koleksi prestasi internasionalnya dengan merebut medali perunggu pada nomor Lead Putra dalam ajang World Climbing Series 2026 yang berlangsung di Chamonix, Prancis. Pada kompetisi yang digelar Minggu (26/7) waktu setempat, Putra tampil solid dan hanya kalah dari dua pemanjat papan atas dunia.
Konsistensi di Tengah Persaingan Elit
Perhelatan World Climbing Series di Chamonix selalu menjadi magnet bagi atlet-atlet terbaik dunia. Kota yang terletak di kaki Mont Blanc ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat panjat tebing, sehingga tekanan dan ekspektasi sangat tinggi. Putra Tri Ramadani, yang saat ini berusia 24 tahun, mampu melewati babak penyisihan dan semifinal dengan catatan positif. Pada partai final, ia menghadapi jalur dengan tingkat kesulitan 8c+ yang dirancang oleh routesetter berpengalaman asal Austria, Klaus Hofmann.
Dengan teknik pemanjatan yang efisien dan pengambilan keputusan yang tepat di setiap crux, Putra berhasil mencapai titik tertinggi kedua di antara enam finalis. Pemanjat Slovenia, Luka Potocar, sukses menyelesaikan jalur dan merebut emas, sementara perak diraih oleh wakil Jepang, Ao Yurikusa. Putra menyusul di posisi ketiga. "Saya bersyukur bisa kembali membawa pulang medali dari ajang sekelas World Climbing Series. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim, pelatih, dan dukungan Federasi Panjat Tebing Indonesia," ujar Putra Tri Ramadani dalam keterangan resmi yang diterima awak media.
Jalur Kejutan dan Strategi Kunci
Nomor lead pada seri Chamonix kali ini menyajikan karakteristik overhang curam dengan banyak slot pinch dan sloper. Di babak final, Putra sempat tertahan pada sektor tengah yang membutuhkan kekuatan jari dan fleksibilitas tinggi. Namun, ia berhasil melakukan resting dinamis yang tepat sebelum melaju ke bagian headwall yang lebih vertikal. Kegagalan menyentuh top hold hanya berselang dua gerakan dari posisi Potocar, yang mengantongi emas.
Pelatih Kepala Timnas Panjat Tebing Indonesia, Burhanudin, menjelaskan bahwa persiapan khusus telah dilakukan. "Kami sudah mempelajari karakter jalur dari rekaman kompetisi sebelumnya. Putra diberikan simulasi dengan volume latihan yang difokuskan pada ketahanan di jalur panjang. Eksekusinya di final sangat terukur. Ini modal penting menuju target berikutnya," kata Burhanudin usai pengalungan medali.
Dukungan Federasi dan Target Jangka Panjang
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, menyambut gembira capaian tersebut. "Medali ini menunjukkan bahwa atlet-atlet kita mampu bersaing di level tertinggi. Kami akan terus memastikan pembinaan berjenjang dan program pemusatan latihan berjalan sesuai standar internasional. Pemerintah juga memberikan perhatian penuh agar panjat tebing Indonesia bisa mengukir sejarah di Olimpiade 2028," ungkap Yenny dalam sambutannya secara virtual.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, turut memberikan apresiasi melalui akun resmi kementerian. "Selamat kepada Putra Tri Ramadani. Prestasi ini membuktikan bahwa putra-putri Indonesia mampu bersinar di panggung dunia. Teruslah berjuang, kami bangga," tulisnya. Medali perunggu ini menjadi penambah motivasi bagi skuat Merah Putih yang tengah mempersiapkan diri menuju Asian Games 2026 dan kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028.
Dari pantauan Apaberita, Putra Tri Ramadani sendiri bukanlah nama asing. Ia sebelumnya mengantongi perak pada nomor lead di Kejuaraan Asia 2025 dan perunggu di seri World Climbing Series Salt Lake City 2025. Dengan tambahan medali dari Chamonix, ia kini masuk dalam daftar pemanjat elite yang diperhitungkan di kalangan IFSC. Putra dijadwalkan segera kembali ke Pelatnas di Jakarta sebelum melanjutkan pertandingan ke seri berikutnya di Innsbruck, Austria, pada Agustus 2026.
Pengamat olahraga panjat tebing, Andri Prasetyo, menilai peningkatan performa ini sebagai buah dari regenerasi yang terstruktur. "Kita melihat sejak 2024, FPTI sudah melakukan peremajaan tim. Putra adalah produk dari sistem itu. Dengan jam terbang yang semakin tinggi, teknik dan mental bertandingnya matang. Jika konsisten, bukan tidak mungkin ia menembus final Olimpiade dan mengejar medali," jelas Andri saat dihubungi terpisah.
Dengan hasil ini, Indonesia menegaskan kembali posisinya sebagai salah satu kekuatan panjat tebing Asia. Total medali yang dikumpulkan oleh Timnas sepanjang 2026 diharapkan terus bertambah, sejalan dengan target yang dicanangkan dalam Rapat Kerja Nasional FPTI awal tahun lalu, yaitu mengamankan tiket Olimpiade sebanyak mungkin dan meraih minimal dua medali emas di Asian Games Hangzhou.
Baca juga:
Comments (0)