PTPN I dan Kemenko Pangan Bangun Pusat Pembibitan Modern di Lampung Selatan

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) resmi memulai pengembangan Pusat Riset dan Pembibitan Tanaman Perkebunan di Kabupaten Lampung Selata...

Jul 13, 2026 - 07:01
0 1

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) resmi memulai pengembangan Pusat Riset dan Pembibitan Tanaman Perkebunan di Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (7/1/2026). Inisiatif strategis ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden guna memperkuat kedaulatan pangan nasional melalui modernisasi sektor perkebunan.

Latar Belakang dan Urgensi Proyek

Pusat riset dan pembibitan terpadu ini dirancang untuk memproduksi bibit unggul berbagai komoditas perkebunan strategis, meliputi kelapa sawit, karet, kopi, kakao, dan tebu. Selama ini, ketergantungan pada pasokan bibit impor dinilai melemahkan daya saing produk nasional. Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat, kebutuhan kecambah kelapa sawit nasional mencapai 100 juta unit per tahun, tetapi kapasitas produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 70 persen. Kesenjangan serupa terjadi pada benih kopi dan kakao. Kehadiran pusat pembibitan modern di Lampung Selatan diharapkan menutup defisit tersebut secara bertahap sekaligus menjadi model pengembangan sentra benih unggul di Indonesia.

Dukungan PTPN I dan Infrastruktur Modern

PTPN I menyiapkan lahan seluas 250 hektare di kawasan strategis dengan akses langsung ke Pelabuhan Panjang untuk memudahkan distribusi bibit ke seluruh Indonesia. Direktur Utama PTPN I, Andi Kusumo, dalam keterangan tertulis menegaskan bahwa perusahaan menginvestasikan dana sebesar Rp1,2 triliun untuk membangun laboratorium mutakhir, rumah kaca berteknologi pintar, dan pusat pelatihan bagi tenaga penyuluh.

"Ini adalah wujud nyata komitmen PTPN I dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Kami tidak hanya membangun pusat pembibitan, tetapi juga sentra riset yang akan melahirkan varietas unggul adaptif perubahan iklim,"

Fasilitas ini akan dilengkapi bank plasma nutfah untuk melestarikan sumber daya genetik tanaman perkebunan asli Indonesia. Kerja sama riset juga dijalin dengan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Lampung dan Institut Pertanian Bogor, guna mempercepat inovasi di bidang pemuliaan tanaman.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Percepatan Target

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Mayjen TNI (Purn) Sudirman, dalam rapat koordinasi yang digelar di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, menyatakan bahwa pusat pembibitan ini merupakan bagian dari Program Strategis Nasional 2025-2029. Ia menekankan pentingnya sinergi antara BUMN perkebunan, kementerian teknis, dan pemerintah daerah.

"Kami menargetkan pusat ini mulai beroperasi penuh pada triwulan ketiga tahun 2027. Pemerintah akan memberikan insentif fiskal serta kemudahan perizinan agar pembangunan berjalan sesuai jadwal,"

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Bupati Nanang Ermanto menyambut baik proyek ini. Ia mengharapkan kehadiran pusat riset dan pembibitan akan menyerap ribuan tenaga kerja lokal serta menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Proyek ini diproyeksikan menciptakan sekitar 1.500 lapangan kerja langsung selama masa konstruksi dan 800 tenaga kerja tetap saat operasional. Dampak berganda (multiplier effect) di sektor jasa, transportasi, dan perdagangan diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung Selatan sebesar 1,2 persen per tahun. Petani plasma di sekitar lokasi akan menjadi penerima manfaat pertama program peremajaan kebun menggunakan bibit unggul, yang ditargetkan meningkatkan produktivitas kebun rakyat hingga 30 persen dalam lima tahun pertama.

Komitmen Keberlanjutan dan Lingkungan

Pusat riset ini mengadopsi prinsip perkebunan berkelanjutan melalui penerapan sistem pengelolaan limbah organik, pemanfaatan energi surya, dan konservasi air. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerbitkan persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pada awal Desember 2025. Seluruh operasional juga akan mematuhi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) agar produk bibit yang dihasilkan diterima di pasar ekspor. Dengan demikian, pusat pembibitan modern di Lampung Selatan menjadi langkah konkret pemerintah menuju kemandirian benih sekaligus memosisikan Indonesia sebagai pusat riset perkebunan tropis dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User