Pria Hilang Terseret Arus Sungai Kampar Usai Standing Motor di Jembatan
Rantau Berangin, Kampar — Seorang pemuda berinisial RM (21) dilaporkan hilang setelah terjatuh dari Jembatan Rantau Berangin ke aliran Sungai Kampar, Kamis (18/7) sore. Peristiwa nahas tersebut terj...
Rantau Berangin, Kampar — Seorang pemuda berinisial RM (21) dilaporkan hilang setelah terjatuh dari Jembatan Rantau Berangin ke aliran Sungai Kampar, Kamis (18/7) sore. Peristiwa nahas tersebut terjadi saat korban bersama rekan-rekannya tengah melakukan aksi berbahaya standing motor di atas struktur jembatan yang menghubungkan Desa Rantau Berangin dengan wilayah seberang sungai. Hingga berita ini diturunkan, korban belum ditemukan dan proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
Kronologi Aksi Berbahaya yang Berujung Petaka
Berdasarkan keterangan saksi mata yang dihimpun aparat Kepolisian Sektor Rantau Berangin, insiden bermula sekitar pukul 16.30 WIB. RM yang mengendarai sepeda motor matik berhenti di lajur jembatan bersama dua orang temannya. Mereka kemudian melakukan pose standing—berdiri di atas jok motor sambil menjaga keseimbangan—tepat di sisi pagar pembatas jembatan yang hanya berketinggian sekitar 120 sentimeter. Aksi itu direkam menggunakan telepon seluler untuk diunggah ke media sosial.
Salah seorang saksi, AN (25), menyatakan bahwa korban sempat kehilangan kendali saat roda belakang motor tergelincir pada permukaan jembatan yang licin setelah diguyur hujan ringan. "Dia mencoba turun, tapi tangannya terlepas dari stang. Tubuhnya terpental ke arah pagar dan langsung jatuh ke sungai," ujar AN. Korban tidak mengenakan alat pelindung diri apa pun, termasuk rompi atau tali pengaman. Arus Sungai Kampar yang saat itu sedang tinggi akibat musim kemarau dengan debit air deras langsung menyeret tubuh RM ke tengah aliran dalam hitungan detik.
Upaya Pencarian oleh Tim Gabungan
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru, Hery Marantika, dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa pihaknya menerima laporan pada pukul 17.10 WIB dan segera mengerahkan satu regu penyelamat ke lokasi kejadian. "Kami memberangkatkan tujuh personel dengan peralatan SAR air, termasuk perahu karet dan alat selam, untuk melakukan penyisiran di sepanjang aliran Sungai Kampar," ungkap Hery. Operasi pencarian yang dimulai sejak Kamis malam terpaksa dihentikan sementara pada pukul 23.00 WIB karena faktor keamanan dan penerangan, kemudian dilanjutkan Jumat pagi.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polairud, personel Polsek Rantau Berangin, serta relawan dari komunitas peduli sungai setempat membagi area pencarian menjadi tiga segmen. Segmen pertama mencakup radius 500 meter dari titik jatuh, segmen kedua hingga 1,5 kilometer, dan segmen ketiga diperluas hingga lima kilometer ke arah hilir yang mengarah ke wilayah Kabupaten Pelalawan. Hingga pukul 14.00 WIB Jumat (19/7), korban masih belum ditemukan. "Kami akan terus melanjutkan pencarian hingga tujuh hari ke depan, sesuai prosedur operasi standar. Jika tidak ditemukan, status akan dievaluasi," tambah Hery.
Kondisi Jembatan dan Peringatan Berulang
Jembatan Rantau Berangin yang menjadi lokasi kejadian merupakan jembatan penghubung vital dengan panjang sekitar 180 meter dan lebar jalan 4,5 meter. Struktur pagar pembatas di kedua sisinya hanya setinggi sekitar 120 sentimeter, cukup rendah untuk dipanjat atau dijadikan pijakan saat melakukan aksi fotografi maupun rekaman video. Pemerintah Kecamatan Rantau Berangin sebenarnya telah mengeluarkan imbauan larangan melakukan aktivitas berbahaya di atas jembatan, termasuk aksi standing motor, sejak September tahun lalu setelah maraknya konten serupa di media sosial.
Camat Rantau Berangin, Erwinsyah Siregar, menyatakan bahwa pihaknya telah memasang papan peringatan di kedua ujung jembatan. "Kami sudah ingatkan berkali-kali, baik melalui spanduk, pengumuman di balai desa, maupun patroli Satpol PP. Tapi masih saja ada anak muda yang nekat demi konten viral," tegasnya. Ia menambahkan bahwa insiden ini kemungkinan akan mendorong pemerintah daerah untuk memasang pagar yang lebih tinggi serta menambah kamera pengawas di sekitar jembatan guna mencegah kejadian serupa.
Respons Kepolisian dan Imbauan Keselamatan
Kapolres Kampar, AKBP Mohammad Kholid, dalam konferensi pers singkat di Mapolres Bangkinang menyampaikan bahwa pihaknya telah memintai keterangan dua rekan korban yang berada di lokasi saat kejadian. Keduanya, YS (20) dan FP (22), mengakui bahwa aksi tersebut sengaja dilakukan untuk membuat konten media sosial. Polisi mengamankan sepeda motor yang digunakan serta telepon seluler yang berisi rekaman detik-detik sebelum korban terjatuh sebagai barang bukti.
"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mempertaruhkan keselamatan jiwa hanya untuk mengejar popularitas di platform digital. Jembatan, danau, dan sungai bukanlah panggung pertunjukan," ujar AKBP Kholid. Ia juga mengingatkan bahwa tindakan semacam itu dapat dijerat dengan Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juncto Pasal 503 KUHP tentang perbuatan yang membahayakan keamanan umum. Polres Kampar akan meningkatkan patroli di titik-titik rawan yang kerap dijadikan lokasi aksi berbahaya serupa, termasuk Jembatan Rantau Berangin dan beberapa jembatan lainnya di sepanjang Daerah Aliran Sungai Kampar.
Trauma Warga dan Harapan Penemuan Korban
Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi warga sekitar, terutama keluarga korban yang terus berharap RM dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Ibunda korban, MS (48), saat ditemui di posko darurat yang didirikan relawan, hanya bisa menangis sambil menyaksikan tim penyelam menyisir dasar sungai. "Anak saya bukan perenang andal. Saya sudah melarangnya melakukan aksi-aksi seperti itu, tapi dia tetap nekat," ucapnya dengan suara bergetar.
Hingga berita ini ditulis, operasi pencarian masih berlangsung. Pihak Basarnas mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Kampar untuk segera melaporkan jika melihat tanda-tanda keberadaan korban. Cuaca yang cerah hari ini diharapkan dapat membantu proses pencarian lebih optimal. Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa konten berbahaya di media sosial dapat mengancam nyawa kapan saja.
Comments (0)