Pria Ditemukan Tak Sadar di Klinik Kecantikan Kebayoran Baru
Jakarta Selatan — Seorang pengunjung klinik kecantikan di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri pada Kamis (23/7/2026). Pria yang diketahui bernama Sut...
Jakarta Selatan — Seorang pengunjung klinik kecantikan di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri pada Kamis (23/7/2026). Pria yang diketahui bernama Sutrimo itu langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat setelah petugas klinik menyadari ia tergeletak tanpa reaksi di ruang tunggu sekitar pukul 10.00 WIB. Hingga berita ini diturunkan, korban masih dalam perawatan intensif.
Insiden ini langsung memicu reaksi cepat aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan. Sejumlah petugas diterjunkan untuk mengamankan lokasi, mengumpulkan keterangan saksi, serta menyita rekaman kamera pengawas dan sejumlah alat serta zat yang ada di klinik tersebut. Langkah ini ditempuh lantaran belum diketahui apakah kondisi korban berkaitan langsung dengan tindakan medis yang dijadwalkan di tempat itu.
Kronologi di Balik Pintu Klinik
Berdasarkan keterangan saksi yang enggan disebut identitasnya, Sutrimo tiba seorang diri sekitar pukul 09.15 WIB. Resepsionis mencatatnya sebagai pasien baru yang hendak menjalani konsultasi perawatan kulit. Ia mengisi formulir lalu diarahkan untuk menunggu. "Tidak ada yang mencurigakan dari gerak-geriknya. Beliau tampak sehat seperti pasien biasa," ujar saksi yang merupakan staf administrasi klinik tersebut.
Sekitar 45 menit berselang, seorang perawat yang akan memanggil namanya mendapati Sutrimo sudah terkulai di kursi. Tidak ada tanda kekerasan di tubuhnya, namun menurut petugas yang menangani pertama kali, napasnya terasa sangat lemah dan wajahnya pucat. Tim darurat internal klinik segera memberikan bantuan hidup dasar sebelum merujuknya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina yang berlokasi tidak jauh dari tempat kejadian.
Pernyataan Kepolisian dan Tindakan Penyelidikan
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Yudha Setiawan, menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan pendalaman menyeluruh. Ia menyebut proses penyelidikan meliputi pemeriksaan izin operasional klinik, kualifikasi tenaga kesehatan yang bertugas, hingga uji laboratorium terhadap obat-obatan yang ditemukan di lokasi.
“Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini murni insiden medis, kelalaian, atau dugaan malapraktik. Saat ini status klinik kami jaga agar tidak beroperasi sementara, sembari menunggu hasil pemeriksaan tim kedokteran forensik dan Balai POM terkait sampel zat yang kami amankan,”
ujar AKBP Yudha dalam keterangan pers sore harinya. Ia menambahkan bahwa hasil visum sementara dari rumah sakit tidak menunjukkan adanya trauma benda tumpul, sehingga fokus penyelidikan diarahkan pada kemungkinan reaksi anestesi atau zat lain yang mungkin dikonsumsi korban sebelum atau selama berada di klinik.
Kondisi Korban dan Dampak Regulasi
Pihak keluarga yang dihubungi terpukul atas kejadian ini. Istri korban, Sri Wahyuni, mengaku tidak mengetahui rencana suaminya mengunjungi klinik kecantikan tersebut. “Beliau hanya pamit untuk urusan sebentar. Kami tidak menyangka akan sampai terbaring begini. Mohon aparat mengusut tuntas siapa pun yang bertanggung jawab,” katanya dengan suara bergetar saat ditemui di ruang tunggu ICU.
Manajemen klinik sendiri belum memberikan pernyataan resmi. Plang nama klinik yang biasanya terpasang di depan bangunan ruko dua lantai itu dilepas beberapa jam setelah insiden, meskipun identitasnya telah tercatat luas di kalangan warga sekitar sebagai penyedia layanan perawatan estetika.
Kasus ini memunculkan kembali desakan agar klinik kecantikan di wilayah DKI Jakarta ditertibkan secara berkala. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta per Januari 2026, terdapat 127 klinik kecantikan yang tercatat memiliki izin resmi, namun jumlah klinik ilegal yang terus bermunculan menjadi pekerjaan rumah besar. Kejadian di Kebayoran Baru ini memperkuat argumen perlunya pengawasan ketat, khususnya bagi fasilitas yang menawarkan tindakan invasif di luar standar medis dasar.
Hingga pukul 18.00 WIB, polisi masih memasang garis kuning di depan gedung klinik. Lingkungan sekitar dipadati warga yang ingin melihat langsung lokasi kejadian. Beberapa dari mereka mengaku kaget karena klinik tersebut selama ini dikenal cukup ramai pasien. Penyelidikan masih berlangsung dan polisi berjanji akan menyampaikan perkembangan kasus secara transparan dalam waktu dekat.
Comments (0)