Pramono Dorong RS Mayapada Jadi Standar Internasional di Jakarta
Suasana peresmian Rumah Sakit Mayapada Jakarta Timur (MHJT) pada Kamis (9/8/2026) terasa berbeda. Di tengah lobi modern yang didominasi kaca dan aksen emas
Suasana peresmian Rumah Sakit Mayapada Jakarta Timur (MHJT) pada Kamis (9/8/2026) terasa berbeda. Di tengah lobi modern yang didominasi kaca dan aksen emas, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melangkah mantap ke podium, bukan sekadar untuk meresmikan gedung baru, tetapi untuk menyampaikan sebuah visi besar yang telah lama menghantui sistem kesehatan ibu kota. Rumah sakit kedelapan dari jaringan Mayapada Group ini diharapkan menjadi kunci untuk menahan laju warga yang ‘kabur’ ke luar negeri demi mendapatkan perawatan medis.
Bagi Pramono, kehadiran MHJT bukan cuma soal menambah kapasitas tempat tidur, melainkan sebuah lompatan fundamental. Ia menekankan bahwa rumah sakit ini harus berorientasi pada standar internasional dan tidak lagi puas menjadi sekadar yang terbaik di Indonesia. Pramono secara tegas mematok target agar Mayapada menjadi benchmark layanan kesehatan global.
Ambisi Menjadi Tolok Ukur Global
Dalam pidatonya, Pramono membeberkan kekecewaannya terhadap fenomena lama yang masih bertahan: warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya lebih memilih berobat ke Penang atau Singapura. Ia melihat ironi di balik kemegahan Jakarta—pusat ekonomi dan pemerintahan—yang justru belum mampu menyediakan layanan kesehatan yang dapat menyaingi rumah sakit di negara tetangga.“Saya berharap bahwa ini akan menjadi pilihan bagi warga kita yang selama ini rumah sakitnya mau di Penang, di Singapura, udah nggak usah jauh-jauh. Di Jakarta aja, di Mayapada aja, karena mereka mempunyai fasilitas yang sungguh sangat baik dan lengkap.”Kutipan itu bukan retorika kosong. Pramono menggambarkan sebuah rumah sakit yang tidak lagi menjadikan kompetitor lokal sebagai tolak ukur, melainkan langsung menempatkan diri sejajar dengan institusi medis ternama di Asia Tenggara. Untuk mewujudkan itu, ia menekankan kesadaran kolektif bahwa Jakarta harus bergerak dari sekadar follower menjadi trendsetter dalam standar pelayanan medis.
Fenomena ‘Kabur’ yang Menggerus Ratusan Triliun
Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya, ratusan ribu warga Indonesia berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia dan Singapura. Angka yang diungkap dalam berbagai kesempatan oleh pejabat kesehatan nasional menyebut bahwa fenomena ini mengakibatkan potensi kehilangan devisa hingga lebih dari Rp100 triliun per tahun. Alasan utamanya klasik: kepercayaan terhadap kualitas dokter, kecanggihan alat, dan efisiensi prosedur. Pramono memahami bahwa kepercayaan itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Itu sebabnya, ia tidak hanya berharap pada infrastruktur, tetapi juga pada transformasi pola pikir seluruh pemangku kepentingan. Ia ingin warga Jakarta memiliki medical home yang tidak perlu lagi diragukan.“Saya sangat berharap bahwa pengembangan Mayapada ini akan membantu Jakarta menjadi kota dengan kesadaran kesehatan yang lebih baik. Saya sungguh berharap Rumah Sakit Mayapada ini menjadi rumah sakit internasional yang benchmark-nya, rujukannya, jangan lagi dengan rumah sakit yang ada di Indonesia.”Pernyataan itu menunjukkan bahwa Pramono tidak hanya ingin sekadar menghadirkan opsi, tetapi menciptakan ekosistem yang mampu mengubah perilaku pasien. Ia menginginkan agar pasien tidak lagi membandingkan Mayapada dengan RS A atau RS B di Jakarta, melainkan langsung membandingkannya dengan Mount Elizabeth di Singapura atau Gleneagles di Penang.
Comments (0)