Prabowo: Nuklir Bisa Bermanfaat untuk Medis dan Pertanian, Tapi Juga Mampu Habiskan Peradaban
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa teknologi nuklir ibarat pedang bermata dua—di satu sisi memberi manfaat besar bagi kehidupan manusia, di sisi lain berpotensi memusnahkan peradaban. Perny
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa teknologi nuklir ibarat pedang bermata dua—di satu sisi memberi manfaat besar bagi kehidupan manusia, di sisi lain berpotensi memusnahkan peradaban. Pernyataan itu disampaikan saat menutup Sarasehan Konsorsium Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Di hadapan para rektor dan guru besar, Prabowo memaparkan bahwa kemajuan sains dan teknologi membuat dunia semakin terhubung, sehingga dampak sebuah peristiwa di belahan bumi lain bisa langsung terasa di Indonesia.
Prabowo mencontohkan, nuklir tidak semata identik dengan bom atom atau senjata pemusnah massal. Dalam dunia medis, radioisotop digunakan untuk diagnosis dan terapi kanker. Di sektor pertanian, teknologi nuklir membantu menciptakan varietas unggul melalui mutasi radiasi dan memperpanjang masa simpan bahan pangan. Namun, ketika teknologi yang sama jatuh ke dalam konteks perang, satu ledakan saja bisa menghancurkan kota dan menewaskan jutaan jiwa seketika.
“Bumi kita, planet kita, sudah semakin menjadi kecil karena sains dan teknologi. Sekarang, kejadian belasan ribu kilometer berpengaruh kepada kehidupan kita. Kita tidak bertikai, kita tidak bermusuhan sama siapa, tapi kalau ada perang nuklir di satu belahan dunia, kita akan kena dampaknya.”
Pernyataan itu menegaskan kegelisahan Presiden terhadap eskalasi konflik global. Kendati Indonesia secara geopolitik tidak terlibat langsung dalam ketegangan antarnegara adidaya, posisi geografis dan ekonomi membuat negeri ini sangat rentan. Dampak perang nuklir bagi Indonesia bisa meliputi perubahan iklim drastis, gangguan rantai pasok pangan global, hingga potensi gelombang pengungsi yang sulit dikendalikan.
Lebih lanjut, Prabowo mendorong para ilmuwan dan akademisi untuk memperkuat etika dalam pengembangan sains. Ia menekankan bahwa semua inovasi harus diarahkan demi kemaslahatan umat manusia, bukan menjadi alat penghancur massal. Menurutnya, Indonesia perlu mengambil peran sebagai pelopor penggunaan teknologi nuklir untuk perdamaian, seperti pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang bersih dan aplikasi medis yang lebih luas.
Komitmen itu selaras dengan peta jalan riset energi baru terbarukan nasional. Indonesia memiliki cadangan uranium dan thorium yang signifikan, menjadikan PLTN sebagai kandidat kuat sumber energi masa depan. Akan tetapi, Prabowo menegaskan perlunya pengawasan internasional yang ketat serta transparansi tinggi agar pengelolaan bahan nuklir tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Sarasehan KSTI sendiri merupakan forum strategis yang mempertemukan rektor, guru besar, dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi untuk menyusun arah kebijakan sains dan teknologi nasional. Kehadiran Presiden dalam acara penutupan memperlihatkan perhatian serius pemerintah terhadap isu-isu yang akan menentukan masa depan bangsa di tengah persaingan global yang semakin cepat.
Demikian laporan Apaberita.com.
Comments (0)