Yogyakarta — RI-India Sepakat Restorasi Candi Prambanan

Langit senja merundung di atas kompleks Candi Prambanan ketika dua pemimpin negara menapaki pelataran batu andesit yang telah berusia lebih dari satu milen

Jul 08, 2026 - 22:14
0 0

Langit senja merundung di atas kompleks Candi Prambanan ketika dua pemimpin negara menapaki pelataran batu andesit yang telah berusia lebih dari satu milenium. Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi berjalan berdampingan, menatap tiga candi utama yang menjulang setinggi 47 meter—sebuah mahakarya arsitektur Hindu abad ke-9 yang masih berdiri kokoh di tengah gempa, letusan gunung, dan zaman. Kunjungan itu bukan sekadar wisata kenegaraan, melainkan pembuka babak baru hubungan dua negara yang terikat akar sejarah dan spiritual.

Deklarasi Bersama di Situs Warisan Dunia

Di pelataran Candi Siwa, pemerintah Indonesia dan India menyepakati program konservasi dan restorasi Candi Prambanan yang akan melibatkan para ahli dari kedua negara. Kesepakatan itu diumumkan langsung seusai kunjungan, menandai komitmen konkret untuk mengukuhkan diplomasi budaya dan pelestarian warisan dunia. Kerja sama ini mencakup pertukaran teknologi pemugaran batu, dokumentasi digital, serta pelatihan tenaga konservator.

"Ini bukan sekadar restorasi fisik. Ini adalah jembatan persahabatan abadi antara Indonesia dan India, yang dasarnya sudah diletakkan para leluhur kita ribuan tahun lalu," ujar Presiden Prabowo.

Sementara itu, PM Modi menegaskan bahwa Candi Prambanan—yang dipersembahkan untuk Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa—adalah saksi bisu perjalanan peradaban Hindu yang melampaui batas negara. "Kami hadir di sini bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari keluarga yang ingin merawat warisan bersama," katanya.

Dari Borobudur ke Prambanan, Peta Jalan Pelestarian

Kesepakatan ini bukan kerja sama konservasi pertama antara kedua negara. Sebelumnya, India telah membantu restorasi Candi Borobudur pada 1970-an melalui bantuan teknis dan pendanaan di bawah koordinasi UNESCO. Kini, giliran Prambanan. Dengan luas kompleks mencapai 39,8 hektare yang terdiri atas 240 candi perwara, upaya restorasi membutuhkan sumber daya besar, baik dana, waktu, maupun keahlian. Indonesia akan memimpin pelaksanaan teknis, sementara India akan menyediakan dukungan material seperti batu khusus dan resin konservasi yang digunakan di kuil-kuil kuno di Tamil Nadu dan Odisha.

Para arkeolog menyambut baik rencana ini. Banyak relief cerita Ramayana dan Krishnayana di dinding candi yang mulai aus akibat lumut, pelapukan, dan sentuhan jutaan pengunjung. Tim gabungan akan memetakan kerusakan dengan pemindaian laser 3D, kemudian merancang intervensi yang minimal invasif sesuai prinsip restorasi modern.

InJourney dan Visi Destinasi Kelas Dunia

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), sebagai induk holding BUMN pariwisata, menyambut momentum ini sebagai katalis untuk memperkuat positioning Candi Prambanan di panggung global. Direktur Pemasaran dan Pengalaman Pelanggan InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa program restorasi akan dikawal ketat dan disinkronkan dengan rencana induk destinasi terpadu Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang).

"Kami ingin Prambanan tidak hanya menjadi tempat singgah, melainkan destinasi pengalaman budaya kelas dunia yang menyajikan narasi autentik tentang perjalanan peradaban," ujar Maya dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (25/10).

InJourney menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Prambanan sebesar 30% dalam tiga tahun ke depan pascarestorasi, sekaligus mengembangkan paket wisata sejarah bertema "The Twin Heritage" yang mengaitkan Candi Prambanan dengan Borobudur.

Dampak Multidimensi: Ekonomi, Budaya, dan Geopolitik

Restorasi ini memiliki efek domino yang melampaui sektor pariwisata. Secara ekonomi, pelibatan komunitas lokal dalam program konservasi akan membuka lapangan kerja bagi pemahat batu, juru kunci, dan pemandu wisata spesialis. Dari sisi diplomasi, langkah ini memperkuat poros Jakarta–New Delhi yang dalam beberapa tahun terakhir semakin erat melalui kerja sama maritim, perdagangan, dan pertahanan. Kunjungan PM Modi ke Prambanan juga menandai pengakuan India terhadap kekayaan warisan Hindu di Asia Tenggara sebagai bagian dari Akhand Bharat atau peradaban India Raya yang tersebar melalui jalur rempah dan sutra maritim.

Dalam peta global, Candi Prambanan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1991. Namun, restorasi kali ini diharapkan mengerek statusnya menjadi contoh terbaik pengelolaan warisan transnasional. Indonesia dan India juga berencana mengajukan nomination dossier bersama ke UNESCO untuk memasukkan Jalur Rempah sebagai warisan budaya lintas negara, di mana Prambanan menjadi salah satu simpul utamanya.

Rencana Aksi dan Target Waktu

Tahap pertama restorasi dijadwalkan dimulai pada kuartal kedua 2025, mencakup Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Estimasi biaya awal mencapai Rp 180 miliar, yang akan dibiayai melalui skema berbagi anggaran Indonesia–India dengan dukungan multilateral. Tim teknis gabungan sudah memulai studi kelayakan dan pengumpulan data historis. Proyek ini diproyeksikan tuntas dalam tiga tahun, tepat sebelum peringatan 80 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2029, yang akan dirayakan dengan festival budaya bertajuk "Ramayana Across the Ocean."

“Kami tidak ingin buru-buru,” tegas Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, “Karena setiap batu punya cerita. Tugas kami adalah memastikan cerita itu tetap bisa dibaca generasi mendatang.”

Dengan perpaduan antara semangat pelestarian dan visi pariwisata modern, restorasi Candi Prambanan menjadi lebih dari sekadar proyek fisik. Ia adalah perekat sejarah, lensa masa kini, dan janji masa depan bagi dua negara yang memiliki akar peradaban yang sama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User