Prabowo: Lima Bendungan Baru Dongkrak Produksi Beras 1 Juta Ton
Presiden Prabowo Subianto menyatakan pembangunan lima bendungan baru secara serentak akan mendorong tambahan produksi beras nasional hingga satu juta ton per tahun. Pernyataan tersebut disampaikan lan...
Presiden Prabowo Subianto menyatakan pembangunan lima bendungan baru secara serentak akan mendorong tambahan produksi beras nasional hingga satu juta ton per tahun. Pernyataan tersebut disampaikan langsung dari Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat (14/3/2025), dalam rangkaian peresmian serentak lima infrastruktur sumber daya air strategis.
Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa kelima bendungan tersebut merupakan bagian dari proyek strategis nasional yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan air. “Dengan selesainya lima bendungan ini, kita harapkan produksi padi kita bertambah sekitar satu juta ton beras per tahun. Ini langkah nyata menuju swasembada pangan yang berkelanjutan,” tegas Presiden.
Peresmian Serentak dari Meninting
Peresmian digelar secara hibrida, dengan pusat kegiatan di Bendungan Meninting yang memiliki kapasitas tampung 12,8 juta meter kubik. Bendungan ini mengairi Daerah Irigasi (DI) Meninting seluas 1.559 hektare dan DI Jurang Sate seluas 596 hektare. Selain menyediakan air irigasi, bendungan ini juga berfungsi sebagai pengendali banjir, penyedia air baku 150 liter per detik, dan potensi pembangkit listrik mikrohidro.
Empat bendungan lain yang diresmikan secara virtual adalah Bendungan Keureuto di Aceh Utara (kapasitas 215,9 juta m3, mengairi 9.420 ha), Bendungan Margatiga di Lampung Timur (kapasitas 42,3 juta m3, mengairi 16.588 ha), Bendungan Lolak di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (kapasitas 16,2 juta m3, mengairi 2.214 ha), dan Bendungan Rukoh di Pidie, Aceh (kapasitas 128,5 juta m3, mengairi 11.950 ha).
Rincian Dampak pada Produksi Padi
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang disampaikan dalam acara tersebut menunjukkan bahwa total luas lahan yang akan terairi dari kelima bendungan mencapai 42.786 hektare. Dengan peningkatan indeks pertanaman dari rata-rata 1,5 menjadi 2,5 kali per tahun, produksi padi tambahan diperkirakan mencapai 635.000 ton gabah kering giling (GKG) per tahun, yang setara dengan sekitar 364.000 ton beras. Namun, Presiden optimistis angka tersebut dapat melampaui satu juta ton beras jika seluruh program pendukung—termasuk penyediaan benih unggul, pupuk, dan mekanisasi—berjalan optimal.
“Ini bukan sekadar bendungan. Ini adalah ekosistem pertanian modern. Kita integrasikan dengan program pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, dan cetak sawah baru. Target kita jelas: Indonesia tidak boleh bergantung pada impor pangan,” ujar Presiden di hadapan para petani dan pejabat daerah.
Komitmen Swasembada Pangan
Menteri PUPR, Dody Hanggodo, yang mendampingi Presiden dalam peresmian itu, menyatakan bahwa total investasi kelima bendungan mencapai Rp7,03 triliun. “Pembangunan ini sesuai arahan Bapak Presiden untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan pada tahun 2027. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus memberikan dampak nyata bagi petani,” kata Menteri Dody.
Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan program pendampingan intensif di seluruh daerah irigasi baru. Program tersebut mencakup bantuan alat mesin pertanian, penyediaan pupuk bersubsidi tepat waktu, dan pendampingan penyuluh pertanian lapangan.
Respons Masyarakat dan Petani
Ketua Kelompok Tani Makmur, H. Lalu Ahmad, yang hadir di lokasi, menyambut baik peresmian ini. “Kami sekarang bisa menanam tiga kali setahun, tadinya hanya sekali. Pendapatan kami pasti naik. Terima kasih, Pak Presiden,” ucapnya.
Peresmian serentak ini sekaligus menjadi penanda rampungnya 10 bendungan yang dibangun dalam kurun 2023-2025, melengkapi 50 bendungan yang sudah beroperasi sebelumnya. Dengan tambahan ini, total bendungan besar di Indonesia yang dikelola Kementerian PUPR mencapai 60 unit, dengan total luas layanan irigasi lebih dari 1,2 juta hektare.
Presiden Prabowo menutup pidatonya dengan instruksi tegas kepada jajarannya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur air di kawasan timur Indonesia, khususnya bendungan di Nusa Tenggara Timur dan Maluku. “Air adalah sumber kehidupan. Kalau kita kuasai air, kita kuasai pangan. Kalau pangan kuat, negara kuat,” pungkas Presiden.
Baca juga:
Comments (0)