Prabowo: Kebaikan Rakyat Indonesia Kerap Disalahgunakan Pihak Tak Bertanggung Jawab
JAKARTA — Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyampaikan analisis mendalam mengenai kerawanan yang dihadapi bangsa Indonesia akibat karakter masyarakatnya yang terlalu baik hati dan mudah percaya....
JAKARTA — Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyampaikan analisis mendalam mengenai kerawanan yang dihadapi bangsa Indonesia akibat karakter masyarakatnya yang terlalu baik hati dan mudah percaya. Dalam sebuah forum strategis yang digelar di Jakarta baru-baru ini, Prabowo menyatakan bahwa sifat luhur tersebut justru seringkali menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk kepentingan sempit mereka.
"Bangsa kita ini memiliki hati yang bersih, jiwa yang pemaaf, dan kecenderungan untuk selalu melihat kebaikan pada setiap orang. Namun justru karena itulah, terlalu sering kebaikan ini dibajak oleh oknum-oknum yang tidak tahu diri. Ini keprihatinan saya yang mendalam," ujar Prabowo dengan nada serius.
Karakter Bangsa yang Tereksploitasi
Prabowo menguraikan bahwa sikap saling percaya dan gotong royong yang menjadi fondasi budaya Indonesia sejatinya adalah kekuatan, namun dalam konteks modern, ia melihat adanya kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkannya dengan kewaspadaan dan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, globalisasi dan era digital telah membuka pintu bagi berbagai bentuk manipulasi, mulai dari penipuan finansial hingga propaganda ideologis yang mengancam kedaulatan bangsa.
"Kita terlalu sering memberikan kepercayaan penuh kepada orang asing, kepada janji-janji manis investasi, bahkan kepada narasi yang belum tentu benar arahnya. Ini bukan soal menjadi sinis, tapi soal menjaga diri dan menjaga kedaulatan bangsa," tegasnya.
Akar Sejarah Sikap Percaya dan Keterbukaan
Sejarawan senior, Prof. Dr. Mulyadi, yang turut hadir dalam forum tersebut, mengamini pandangan Prabowo. "Sejak zaman kerajaan, nenek moyang kita dikenal sebagai bangsa yang ramah dan terbuka terhadap pendatang. Sikap ini memang memudahkan terjalinnya hubungan dagang dan diplomasi, namun di era modern dengan kompleksitas kepentingan global, keterbukaan itu harus disertai filter yang kuat," jelasnya. Ia mencontohkan bagaimana banyak kontrak pertambangan di masa lalu yang merugikan negara karena para negosiator lokal terlalu percaya pada itikad baik investor asing.
Data dari Kepolisian RI menunjukkan peningkatan laporan penipuan daring sebesar 35 persen pada tahun 2024, dengan modus yang semakin canggih menyasar masyarakat pedesaan yang masih awam teknologi. "Ini bukti nyata bahwa kebaikan dan ketidaktahuan seringkali dimanfaatkan. Kami mendukung seruan Pak Prabowo agar literasi digital menjadi bagian dari gerakan nasional," ujar Kepala Divisi Humas Polri, Irjen. Pol. Dedi Prasetyo, saat dimintai tanggapan terpisah.
Dampak Nyata di Masyarakat
Fenomena eksploitasi terhadap kebaikan hati rakyat bukan sekadar wacana. Kasus-kasus penipuan berkedok investasi bodong, penggandaan uang, hingga penyalahgunaan data pribadi terus merugikan warga kecil. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Saputra, menilai bahwa karakter lugu dan baik hati memang menjadi pedang bermata dua. "Di satu sisi menciptakan harmoni sosial, di sisi lain menjadikan kita rentan terhadap eksploitasi. Ini terlihat jelas dalam masifnya penyebaran berita bohong yang justru dipercaya tanpa verifikasi," ujarnya.
Imbauan Pendidikan Karakter dan Bela Negara
Dalam paparannya, Menteri Pertahanan itu mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya program pendidikan karakter dan bela negara yang kini tengah digalakkan oleh pemerintah. Ia menekankan bahwa generasi muda harus dibekali dengan kecerdasan emosional dan literasi digital yang memadai agar tidak mudah terpedaya oleh bujuk rayu yang dapat merugikan diri sendiri maupun negara.
"Pendidikan bela negara bukan hanya soal fisik dan militer, melainkan juga membangun ketahanan mental. Rakyat harus pintar membaca situasi, mampu membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya ingin memanfaatkan," kata Prabowo. Ia mengusulkan pengintegrasian materi antisipasi manipulasi dalam kurikulum sekolah serta pelatihan bagi aparatur desa dalam mendeteksi potensi ancaman non-militer.
Langkah Konkret ke Depan
Untuk mengatasi masalah tersebut, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk tokoh agama, pendidik, dan pemimpin komunitas, untuk bersama-sama membangun kesadaran kolektif. "Kita harus tetap mempertahankan kebaikan hati sebagai jati diri bangsa, tetapi dengan mata yang terbuka lebar. Jangan sampai niat baik kita diperalat untuk menghancurkan dari dalam," pungkasnya.
Forum tersebut dihadiri oleh lebih dari 500 peserta yang terdiri dari perwakilan organisasi masyarakat, akademisi, dan purnawirawan TNI. Diskusi berlangsung hangat dan menghasilkan sejumlah rekomendasi yang akan disampaikan kepada Presiden guna memperkuat ketahanan sosial-budaya nasional.
Baca juga:
Comments (0)