PMI Asal Cianjur yang Viral di Libya Akhirnya Tiba di Tanah Air
Cianjur — Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, Ai Juriah (43), akhirnya menginjakkan kaki kembali di kampung halamannya di Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, pada Senin (13/7/2...
Cianjur — Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, Ai Juriah (43), akhirnya menginjakkan kaki kembali di kampung halamannya di Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, pada Senin (13/7/2026). Kepulangan perempuan yang videonya viral bersimbah darah di Libya itu menandai berakhirnya proses pemulangan berliku yang diwarnai dualisme pemerintahan di negara tersebut serta denda senilai Rp150 juta akibat keberangkatan nonprosedural.
Video yang menampilkan Ai Juriah dalam kondisi mengenaskan menyebar luas di media sosial pada awal Juli lalu, memicu desakan publik agar pemerintah segera turun tangan. Kasus ini kembali menguak kenyataan pahit mengenai kerentanan pekerja migran yang berangkat tanpa mengikuti prosedur resmi.
Kendala Dualisme Pemerintahan dan Denda
Perjalanan pulang Ai Juriah tidaklah mudah. Situasi Libya yang masih bergulat dengan dualisme kekuasaan mempersulit koordinasi administrasi. Selain itu, status keberangkatan yang ilegal memicu pengenaan denda hingga Rp150 juta. Meski demikian, kolaborasi intensif antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KPPMI), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tripoli, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Pemerintah Kabupaten Cianjur berhasil menembus kebuntuan. Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, Kombes Pol Singgih Hermawan, menegaskan bahwa kendala berat itu dapat diurai berkat komitmen bersama.
"Kami bekerja bersama seluruh pemangku kepentingan, dari kementerian hingga pemerintah daerah, sehingga proses pemulangan bisa diselesaikan dalam waktu singkat meski ada ganjalan di lapangan," ujar Singgih.
Ia tidak merinci detail negosiasi, tetapi memastikan bahwa semua biaya dan administrasi telah dilunasi sebelum Ai diterbangkan ke Jakarta.
Penjemputan di Bandara dan Serah Terima ke Keluarga
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Ai Juriah langsung dijemput oleh tim terpadu dari kepolisian dan pemerintah daerah. Atas permintaan Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, Ai kemudian dibawa menuju Pendopo Kabupaten Cianjur untuk pertemuan singkat. Usai silaturahmi, ia diantarkan ke kediamannya di Ciranjang. Kapolres Cianjur, AKBP Alexander Yurikho Hadi, menyebut penanganan dilakukan secara humanis dan terkoordinasi.
"Kami fasilitasi pertemuan dengan Bupati di pendopo, lalu mengantarkannya langsung kepada keluarga. Semua berjalan lancar," jelas Alexander.
Polisi Selidiki Dugaan Perdagangan Orang
Di sisi lain, aparat kepolisian tidak hanya berperan dalam pemulangan. Penyelidikan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terus bergulir. AKBP Alexander mengungkapkan bahwa penyidik telah mengantongi identitas terduga pelaku yang memberangkatkan Ai secara ilegal. Sejumlah saksi penting telah dimintai keterangan, termasuk petugas bandara yang memproses keberangkatan Ai, penjual tiket, serta suami Ai sendiri.
"Kami sudah mengantongi nama-nama terduga dan tengah mengumpulkan keterangan saksi kunci. Kami optimistis pelaku bisa segera kami amankan dalam waktu dekat," tegas Alexander.
Polres Cianjur menargetkan penetapan tersangka setelah gelar perkara dilakukan. Proses hukum akan dijalankan secara transparan untuk memberikan efek jera.
Sinergi Lintas Lembaga Jadi Kunci
Keberhasilan pemulangan Ai Juriah dalam tempo relatif singkat—hanya berselang pekan setelah videonya viral—menegaskan efektivitas sinergi antarlembaga. BP3MI Jawa Barat menjadi ujung tombak koordinasi teknis, sementara KBRI Tripoli memainkan peran vital dalam negosiasi dengan otoritas Libya. Komitmen penuh pemerintah daerah serta respons cepat kepolisian turut menjadi faktor penentu. KPPMI juga memantau langsung perkembangan kasus dari awal hingga Ai tiba di tanah air.
Singgih menambahkan, pengalaman pahit Ai harus menjadi peringatan bagi calon pekerja migran agar tidak menempuh jalur ilegal. "Kami terus mengampanyekan pentingnya prosedur resmi demi menjamin keselamatan dan perlindungan hukum," pesannya. Sementara itu, Pemkab Cianjur berencana memperkuat sosialisasi hingga ke tingkat desa guna mencegah kasus serupa terulang. Kini, Ai Juriah telah berkumpul kembali bersama sanak keluarga, meski proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas pemberangkatan ilegal terus berlanjut.
Baca juga:
Comments (0)