Pihak Sekolah Buka Suara soal Siswa Meninggal Usai Diduga Dibully
PEMALANG – Kepala SMP Negeri 4 Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Indah Palupi, akhirnya angkat bicara terkait peristiwa meninggalnya seorang siswa yang diduga menjadi korban perundungan...
PEMALANG – Kepala SMP Negeri 4 Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Indah Palupi, akhirnya angkat bicara terkait peristiwa meninggalnya seorang siswa yang diduga menjadi korban perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di ruang kerjanya pada Selasa, 11 Juni 2025, sebagai respons atas viralnya kabar tersebut di berbagai platform media sosial dan pemberitaan daring.
Indah Palupi menegaskan bahwa pihak sekolah telah menerima laporan awal mengenai kejadian tersebut dan langsung menindaklanjuti dengan melakukan investigasi internal. “Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya salah satu peserta didik kami. Pihak sekolah, bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang, telah membentuk tim khusus untuk mendalami kronologi peristiwa ini secara menyeluruh,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban berinisial FA, seorang siswa kelas VIII, dikabarkan meninggal dunia pada Minggu, 9 Juni 2025, setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Dugaan perundungan muncul setelah keluarga korban menemukan sejumlah luka memar di bagian tubuh korban dan mengaitkannya dengan kejadian di sekolah beberapa hari sebelum korban mengembuskan napas terakhir.
Kronologi dan Langkah Investigasi Sekolah
Dalam kesempatan tersebut, Indah Palupi menjelaskan bahwa pihaknya pertama kali menerima informasi dari wali kelas pada Jumat, 7 Juni 2025, ketika korban tidak hadir tanpa keterangan. Setelah dilakukan penelusuran, orang tua korban mengabarkan bahwa anaknya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. “Kami sempat menjenguk korban di rumah sakit pada Sabtu, 8 Juni 2025, bersama dengan perwakilan guru dan komite sekolah. Saat itu kondisi korban sudah lemah, namun kami tidak menduga akan terjadi hal yang lebih buruk,” tuturnya.
Menindaklanjuti temuan luka yang dilaporkan keluarga, sekolah langsung berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor Randudongkal dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan setempat. Tim investigasi internal yang dibentuk terdiri dari guru bimbingan konseling, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan perwakilan komite. Mereka bertugas mengumpulkan keterangan dari rekan sekelas korban, guru mata pelajaran, serta memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di area sekolah.
“Kami berkomitmen untuk transparan dalam proses ini. Semua bukti dan keterangan yang kami kumpulkan akan diserahkan kepada pihak berwenang untuk proses hukum lebih lanjut. Sekolah tidak akan melindungi siapapun yang terbukti terlibat dalam tindakan perundungan,” tegas Indah Palupi. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk catatan harian korban dan percakapan daring yang diduga berkaitan dengan intimidasi yang dialami korban.
Pernyataan Dinas Pendidikan dan Polisi
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Bambang Suryadi, yang turut hadir dalam konferensi pers, menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan status pengawasan khusus terhadap SMP Negeri 4 Randudongkal. “Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, kami akan melakukan audit menyeluruh terhadap iklim keamanan sekolah. Jika ditemukan kelalaian, sanksi tegas akan dijatuhkan,” ujar Bambang.
Dari pihak Kepolisian Resor Pemalang, Kasat Reskrim AKP Hendra Wijaya membenarkan bahwa laporan resmi telah diterima pada Senin, 10 Juni 2025. “Kami telah memeriksa empat orang saksi, termasuk dua orang teman sekelas korban dan satu guru. Autopsi terhadap jenazah korban juga telah dilakukan di RSUD Dr. M. Ashari pada hari yang sama untuk memastikan penyebab pasti kematian,” jelas Hendra. Hasil autopsi awal, lanjutnya, menunjukkan adanya trauma tumpul di bagian perut dan punggung, namun masih menunggu hasil laboratorium toksikologi untuk memastikan tidak ada faktor lain.
Duka Keluarga dan Imbauan Anti-Perundungan
Keluarga korban, yang diwakili oleh paman korban, Sutrisno, menyampaikan rasa kecewa dan berharap pelaku dihukum seberat-beratnya. “Kami tidak menuntut apapun selain keadilan. Anak kami adalah anak yang pendiam dan tidak pernah bercerita tentang masalah di sekolah. Kami baru tahu setelah melihat luka-luka di tubuhnya,” kata Sutrisno dengan nada terisak. Ia juga mengimbau sekolah untuk lebih peka terhadap tanda-tanda perundungan di kalangan siswa.
Menanggapi hal tersebut, Indah Palupi mengakui bahwa sekolah mungkin gagal mendeteksi gejala awal perundungan. “Ini menjadi evaluasi besar bagi kami. Ke depan, kami akan memperketat pengawasan di jam istirahat dan jam pulang sekolah, serta mengaktifkan kembali program satuan tugas anti-perundungan yang sebelumnya kurang berjalan optimal,” akunya. Sekolah juga berencana menggandeng psikolog dari Puskesmas setempat untuk memberikan pendampingan bagi siswa-siswa yang berpotensi menjadi korban maupun pelaku.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus perundungan di satuan pendidikan Indonesia. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2024, tercatat sedikitnya 148 kasus perundungan di lingkungan sekolah, dengan 45 persen di antaranya terjadi di jenjang SMP. Pemerintah daerah setempat diharapkan segera mengeluarkan surat edaran tentang penguatan program pencegahan kekerasan di semua sekolah menengah pertama di Kabupaten Pemalang sebagai langkah preventif.
Hingga berita ini diturunkan, proses penyidikan oleh Polres Pemalang masih berlangsung. Pihak sekolah menyatakan siap bekerja sama penuh dan membuka akses data bagi penyidik. Sementara itu, proses pemakaman korban telah dilaksanakan pada Selasa siang di Tempat Pemakaman Umum Desa Randudongkal, dihadiri oleh keluarga, guru, dan sejumlah teman sekelas yang turut berduka. Pihak sekolah juga telah menyiapkan layanan konseling darurat bagi siswa yang mengalami trauma akibat kejadian ini.
Comments (0)