Musisi legendaris asal Inggris, Phil Collins, kembali menjadi sorotan publik bukan karena karya musiknya, melainkan karena kritik tajam yang ia lontarkan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang tayang di program Piers Morgan Uncensored, mantan drummer band Genesis tersebut menilai bahwa pendekatan politik Trump yang serba transaksional telah menciptakan situasi yang sangat berbahaya bagi tatanan diplomasi global.
Collins secara blak-blakan menyebut Trump sebagai sosok yang "nasty" atau menyebalkan. Menurutnya, pemimpin Amerika Serikat tersebut memainkan politik layaknya seorang pengusaha yang sedang menegosiasikan sebuah kesepakatan dagang, padahal menurut Collins, hubungan internasional sama sekali bukanlah sebuah bisnis.
"Dia melihat segalanya sebagai sebuah kesepakatan. Ini adalah waktu yang sangat menakutkan," ujar Collins dalam wawancara tersebut, dikutip dari berbagai sumber hiburan internasional.
Pernyataan ini menjadi salah satu kritik paling terbuka dari kalangan selebritas dunia terhadap kepemimpinan Trump, khususnya dalam hal kebijakan luar negeri yang sering kali diwarnai dengan ancaman tarif dan penarikan diri dari perjanjian internasional.
Diplomasi Bukan Sekadar Menang dan Kalah
Lebih lanjut, Collins menjelaskan bahwa esensi dari diplomasi adalah mencari titik temu yang menguntungkan semua pihak, bukan sekadar mencari kemenangan sepihak. Ia menekankan bahwa dalam politik luar negeri, sebuah negara terkadang harus menerima kerugian kecil demi mencapai tujuan yang lebih besar dan berkelanjutan.
"Ini adalah diplomasi. Terkadang kau bisa kalah, tapi tetap keluar sebagai pemenang," tegas pelantun lagu In the Air Tonight itu. Menurutnya, pandangan dunia yang hitam-putih dan selalu berorientasi pada profit adalah hal yang keliru dalam konteks hubungan antarnegara yang melibatkan jutaan nyawa dan stabilitas global.
Kritik Collins ini sejalan dengan pandangan banyak analis politik internasional yang menilai bahwa gaya kepemimpinan Trump telah mengubah lanskap geopolitik menjadi arena negosiasi yang penuh ketidakpastian. Berikut adalah perbandingan pendekatan yang disoroti dalam pernyataan Collins:
| Aspek | Pendekatan Trump (Menurut Kritik) | Pendekatan Diplomasi Ideal |
|---|---|---|
| Orientasi | Transaksional (Menang/Kalah) | Kolaboratif (Menang/Menang) |
| Tujuan | Keuntungan jangka pendek | Stabilitas jangka panjang |
| Gaya | Konfrontatif dan "Nasty" | Kompromi dan Musyawarah |
Meskipun demikian, pernyataan Collins ini juga menuai beragam reaksi dari publik. Sebagian penggemar musiknya mendukung sikap kritisnya terhadap kebijakan politik, sementara sebagian lagi berpendapat bahwa seorang musisi sebaiknya fokus pada karya seninya saja dan tidak perlu mencampuri urusan politik praktis. Namun, Collins tampaknya tidak gentar dengan kritik balik tersebut.
Dampak pada Dunia Hiburan dan Politik
Keterlibatan tokoh hiburan dalam mengomentari kebijakan politik bukanlah hal baru, namun intensitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan polarisasi politik yang semakin tajam di Amerika Serikat. Kritik Collins ini menambah daftar panjang tokoh publik yang menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap arah kebijakan Gedung Putih.
Bagi Collins, yang telah lama berkarier di industri musik global dan berinteraksi dengan berbagai budaya serta negara, perspektifnya mencerminkan kekhawatiran tentang bagaimana citra Amerika Serikat di mata dunia. Ia menilai bahwa "politik bisnis" ala Trump berisiko merusak hubungan baik yang telah dibangun selama puluhan tahun melalui jalur diplomatik yang penuh kehati-hatian.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gedung Putih terkait pernyataan Phil Collins tersebut. Namun, pernyataan ini diprediksi akan terus menjadi bahan perbincangan di media sosial, terutama di kalangan penggemar musik dan pemerhati politik internasional yang mengikuti perkembangan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Comments (0)