Penggunaan Gadget pada Anak Perlu Pengawasan Ketat demi Kesehatan Mata

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus dr. Devina Nur Annisa, Sp.M (K), menyatakan bahwa pengawasan ketat terhadap penggunaan gawai pada anak menjadi keharusan seiring in...

Penggunaan Gadget pada Anak Perlu Pengawasan Ketat demi Kesehatan Mata

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus dr. Devina Nur Annisa, Sp.M (K), menyatakan bahwa pengawasan ketat terhadap penggunaan gawai pada anak menjadi keharusan seiring integrasi teknologi dalam aktivitas belajar sehari-hari. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/8). Dalam kegiatan tersebut, dr. Devina menegaskan bahwa aktivitas jarak dekat yang berkepanjangan, termasuk penggunaan gadget, berpotensi mempercepat progresivitas mata minus pada anak yang memiliki faktor risiko genetis maupun yang telah menggunakan kacamata minus sejak usia dini.

Stimulus Pemanjangan Bola Mata

Perkembangan teknologi telah mengubah pola aktivitas anak, di mana gawai tidak lagi sekadar alat hiburan untuk bermain game atau menonton video. Saat ini, perangkat elektronik tersebut telah menjadi bagian integral dari proses pembelajaran formal dan informal, mulai dari pencarian informasi, pengerjaan tugas sekolah, hingga partisipasi dalam kegiatan pembelajaran daring. Kondisi ini menjadikan penggunaan gadget sebagai sesuatu yang sulit dihindari sepenuhnya dalam kehidupan modern.

Namun demikian, dr. Devina Nur Annisa menegaskan bahwa orang tua wajib memperhatikan kebiasaan anak saat menggunakan perangkat tersebut. Menurutnya, semakin tinggi intensitas aktivitas jarak dekat yang dilakukan anak, semakin besar pula stimulus yang diterima oleh bola mata untuk memanjang. Mekanisme fisiologis tersebut pada gilirannya berkontribusi langsung terhadap peningkatan ukuran minus pada anak. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat sebagian besar interaksi anak dengan gawai dilakukan dalam jarak yang sangat dekat dengan layar.

"Terutama apabila anak kita memang berbakat atau sedari kecil sudah menggunakan kacamata dengan ukuran minus ya," ujar dr. Devina Nur Annisa, Sp.M (K), dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (10/8).

Aktivitas Jarak Dekat Lainnya

Dr. Devina menyatakan bahwa fokus pengawasan orang tua tidak boleh terbatas hanya pada durasi penggunaan gadget semata. Berbagai aktivitas jarak dekat konvensional lainnya turut memberikan dampak serupa terhadap kesehatan refraksi mata anak. Kegiatan seperti membaca buku dalam waktu lama, menggambar, mengerjakan tugas tulis, serta aktivitas pembelajaran di dalam ruangan yang memerlukan fokus visual pada objek dekat, secara kumulatif dapat memperburuk kondisi mata minus.

Oleh karena itu, pihak medis menindaklanjuti temuan klinis tersebut dengan menekankan pentingnya penerapan jeda istirahat secara teratur dalam setiap aktivitas indoor. Praktik ini ditetapkan sebagai bagian dari strategi mitigasi sederhana namun efektif untuk mengurangi beban akomodasi mata. Dr. Devina menegaskan bahwa pengaturan interval istirahat menjadi keputusan penting yang perlu diambil orang tua dan pengajar dalam merancang jadwal kegiatan anak.

"Jadi kegiatan-kegiatan yang anak-anak kita kerjakan di dalam ruangan itu harus ada jeda istirahat," tegas dr. Devina Nur Annisa.

Rekomendasi Penggunaan Gawai

Berdasarkan paparan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, penggunaan gadget memang tidak dapat sepenuhnya dilarang mengingat perannya yang telah besar dalam sistem pendidikan kontemporer. Meski demikian, kebijakan pengawasan di tingkat keluarga menjadi garda terdepan dalam mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan penglihatan anak. Orang tua diimbau untuk tidak hanya membatasi durasi, tetapi juga memastikan ergonomi penggunaan, jarak pandang yang aman, serta pencahayaan yang memadai saat anak berinteraksi dengan layar.

Dalam kesempatan yang sama, pihak Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center Menteng juga menyampaikan komitmennya untuk terus memberikan edukasi preventif kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua akan risiko yang muncul akibat paparan aktivitas jarak dekat berlebihan. Upaya kolaboratif antara praktisi kesehatan mata, lembaga pendidikan, dan keluarga dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga kualitas penglihatan generasi muda di tengah era digitalisasi yang terus berkembang pesat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User