Pemuda Berilmu dan Terampil Disebut Pilar Utama Peradaban Bangsa
JAKARTA — Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun peradaban tidak semata-mata ditentukan oleh luas wilayah, jumlah penduduk, maupun melimpahnya kekayaan alam, melainkan oleh mutu sumber daya manus...
JAKARTA — Keberhasilan suatu bangsa dalam membangun peradaban tidak semata-mata ditentukan oleh luas wilayah, jumlah penduduk, maupun melimpahnya kekayaan alam, melainkan oleh mutu sumber daya manusia yang dimilikinya. Generasi muda yang dibekali ilmu pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta etika dipandang sebagai fondasi utama bagi keberlangsungan pembangunan nasional dalam jangka panjang.
Kekayaan alam yang berlimpah dinilai tidak akan memberikan manfaat secara optimal apabila tidak dikelola oleh manusia yang berilmu dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, penyiapan generasi muda melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan dipandang bukan sekadar agenda sektor pendidikan, melainkan investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Pemuda sebagai Pewaris Estafet Pembangunan
Dalam perjalanan sebuah negara, kelompok pemuda menempati posisi strategis karena mengemban peran ganda, yakni sebagai penerima hasil pembangunan sekaligus calon penyelenggara pembangunan pada masa berikutnya. Di tangan generasi inilah ilmu pengetahuan dikembangkan, teknologi diciptakan, kebudayaan diteruskan, serta berbagai persoalan kebangsaan dicarikan jalan keluarnya.
Posisi strategis tersebut kian relevan mengingat Indonesia diperkirakan memasuki masa bonus demografi, yakni ketika jumlah penduduk usia produktif melampaui penduduk usia nonproduktif. Tanpa penyiapan ilmu dan keterampilan yang memadai, ledakan jumlah angkatan kerja muda dikhawatirkan justru menjadi beban, alih-alih kekuatan pendorong kemajuan.
Dengan demikian, upaya mempersiapkan pemuda yang menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan dinilai menjadi prasyarat bagi keberlangsungan peradaban bangsa. Kualitas pembangunan manusia pada akhirnya menentukan apakah potensi besar bangsa dapat dikelola secara produktif atau justru terabaikan.
Kedudukan Ilmu dalam Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, ilmu menempati kedudukan yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. bahkan diawali dengan perintah membaca, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-'Alaq ayat 1.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)
Perintah tersebut dipahami tidak terbatas pada aktivitas membaca tulisan, melainkan juga sebagai dorongan untuk mengamati, meneliti, memahami, dan menggali pengetahuan dari berbagai fenomena kehidupan. Landasan ini menegaskan bahwa tradisi belajar merupakan bagian integral dari ajaran Islam.
Allah Swt. juga berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu bukan semata sarana untuk memperoleh pekerjaan atau kedudukan sosial. Ilmu dipandang memiliki nilai yang lebih tinggi karena mampu mengangkat kualitas manusia, mempertajam pemahaman terhadap persoalan, serta memperbaiki kualitas pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan
Pandangan mengenai pentingnya pembangunan manusia sejalan dengan pemikiran Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya memerdekakan manusia, baik lahir maupun batin, sehingga peserta didik mampu bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
"Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani."
Semboyan yang bermakna di depan memberi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang memberi dorongan itu hingga kini menjadi rujukan utama penyelenggaraan pendidikan nasional. Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan konsep tripusat pendidikan, yakni bahwa pendidikan berlangsung melalui tiga lingkungan, yaitu keluarga, perguruan atau sekolah, dan masyarakat.
Berdasarkan gagasan tersebut, keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak semata. Keluarga berperan menanamkan nilai dasar dan akhlak, lembaga pendidikan menyalurkan ilmu pengetahuan serta keterampilan, sedangkan masyarakat menyediakan ruang pengamalan bagi generasi muda.
Karakter sebagai Pelengkap Ilmu dan Keterampilan
Selain penguasaan ilmu dan keahlian, pembentukan karakter dinilai menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan pemuda. Ilmu tanpa etika dan tanggung jawab dipandang berpotensi disalahgunakan, sementara keterampilan tanpa integritas tidak akan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan pemuda yang utuh mencakup tiga dimensi sekaligus, yaitu penguasaan ilmu pengetahuan, keahlian teknis, serta kematangan akhlak. Ketiganya dipandang sebagai pilar yang saling menopang dalam menjaga keberlanjutan peradaban bangsa di tengah persaingan global yang kian ketat.
Comments (0)