Oct 12, 2026
Politik

Pemerintah Uji Cairan Pemadam Brasil Atasi Karhutla Sumatera

JAKARTA — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah, salah satunya melalui pengujian cairan pemadam api produk...

Pemerintah Uji Cairan Pemadam Brasil Atasi Karhutla Sumatera

JAKARTA — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah, salah satunya melalui pengujian cairan pemadam api produksi Brasil di Provinsi Sumatera Selatan. Langkah tersebut ditetapkan sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas nasional dalam menangani bencana lingkungan yang berulang setiap tahun, khususnya pada musim kemarau.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rapat koordinasi di Jakarta menyatakan bahwa pengujian tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden untuk mempercepat penanganan karhutla secara terpadu. "Kami sedang menguji cairan pemadam api yang berasal dari Brasil di Sumatera Selatan, dengan tujuan memastikan efektivitasnya pada lahan gambut yang selama ini menjadi titik paling sulit dipadamkan," ujar Menteri dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan data yang dihimpun, karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan menjadi perhatian serius karena dampaknya yang melintasi batas negara. Asap dari kebakaran tersebut tercatat pernah mengganggu aktivitas penerbangan serta meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di beberapa provinsi. Pemerintah menyatakan bahwa pengujian cairan pemadam api dari luar negeri dilakukan dengan tetap mengedepankan prosedur standar keselamatan dan uji kelayakan lingkungan.

Pengujian pada Lahan Gambut dan Lahan Mineral

Pengujian cairan pemadam Brasil tersebut dilaksanakan pada dua jenis lahan, yakni lahan gambut dan lahan mineral, dengan melibatkan tim gabungan yang terdiri atas unsur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah setempat. Tim lapangan mencatat bahwa cairan tersebut memiliki keunggulan dari sisi daya serap dan kecepatan pemadaman pada permukaan lahan yang terbakar.

"Hasil sementara menunjukkan cairan ini mampu menekan titik panas dalam waktu lebih singkat pada lahan gambut dibandingkan metode konvensional. Namun kami tetap melakukan evaluasi menyeluruh sebelum mengambil keputusan lebih lanjut," kata pejabat yang mendampingi Menteri dalam kunjungan kerja tersebut.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyambut positif uji coba tersebut. Gubernur Sumatera Selatan menyatakan bahwa wilayahnya menjadi salah satu daerah dengan risiko karhutla tinggi, sehingga dukungan teknologi pemadaman menjadi kebutuhan mendesak. "Kami menyiapkan dukungan personel dan logistik agar pengujian berjalan sesuai rencana, termasuk koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota," ujarnya.

Selain pengujian cairan pemadam, pemerintah juga menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pelaku pembakaran hutan dan lahan dapat dikenai sanksi pidana serta denda. Kepolisian bersama penyidik lingkungan disebut telah menindaklanjuti sejumlah laporan masyarakat terkait dugaan pembakaran lahan.

Sinergi Pusat dan Daerah dalam Rapat Koordinasi

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Karhutla, pemerintah menetapkan sejumlah langkah strategis, antara lain penguatan sistem deteksi dini melalui satelit, operasi modifikasi cuaca, serta pengerahan helikopter pembom air (water bombing). Rapat tersebut juga memutuskan pembentukan posko terpadu di tingkat provinsi dan kabupaten untuk mempercepat respons terhadap laporan titik api.

Kepala BNPB menyatakan bahwa kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau menjadi prioritas. "Kami telah memetakan daerah rawan, menyiapkan personel terlatih, serta memastikan ketersediaan peralatan pemadaman di titik-titik kritis. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan," tegasnya.

Pemerintah juga disebut tengah menjajaki kerja sama teknis dengan sejumlah negara yang memiliki pengalaman dalam penanganan kebakaran lahan, termasuk Brasil, melalui mekanisme kerja sama bilateral. Kerja sama tersebut mencakup transfer teknologi, pelatihan personel, serta pengembangan metode pemadaman yang adaptif terhadap karakteristik lahan di Indonesia.

Evaluasi dan Proyeksi ke Depan

Meski pengujian cairan pemadam dinilai menjanjikan, pemerintah menegaskan bahwa hasil akhir akan ditentukan melalui evaluasi ilmiah yang melibatkan lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Aspek yang dinilai meliputi efektivitas pemadaman, dampak terhadap ekosistem, biaya operasional, serta kemudahan penerapan di lapangan.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas karhutla pada periode tertentu mengalami fluktuasi seiring kondisi cuaca dan intensitas pengawasan. Pemerintah menargetkan penurunan signifikan pada tahun berjalan melalui kombinasi pencegahan, penegakan hukum, dan teknologi pemadaman.

Pengamat lingkungan menilai bahwa keberhasilan penanggulangan karhutla tidak hanya bergantung pada teknologi pemadaman, tetapi juga pada pengelolaan lahan berkelanjutan dan partisipasi masyarakat. "Pencegahan jauh lebih murah dibandingkan pemadaman. Perlu penguatan di tingkat desa, termasuk penyuluhan kepada petani dan perusahaan," ujar seorang akademisi dari sebuah universitas di Jakarta.

Dengan pengujian cairan pemadam api asal Brasil tersebut, pemerintah berharap memiliki alternatif metode yang lebih efektif dalam menghadapi karhutla, khususnya di wilayah gambut yang selama ini menjadi tantangan terbesar. Keputusan akhir mengenai adopsi teknologi ini akan ditetapkan setelah seluruh tahapan evaluasi selesai dan hasilnya dilaporkan dalam rapat pleno lintas kementerian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User