Washington — Pemerintah Amerika Serikat berencana menandatangani perintah eksekutif dalam dua pekan ke depan guna memperluas kuota impor daging sapi giling dengan tarif lebih rendah sebanyak 300.000 metrik ton untuk masa berlaku 90 hari, sebagai upaya menekan harga pangan yang menjadi sorotan pemilih menjelang pemilu paruh waktu November 2026.
Keputusan pelonggaran tarif impor sementara tersebut diumumkan Presiden Donald Trump pada Minggu (23/8) dan ditegaskan melalui keterangan resmi Gedung Putih. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan komitmen bahwa daging sapi impor yang masuk ke pasar domestik akan dijual dengan harga 25 persen di bawah harga pasar saat ini.
Meski demikian, presiden tidak merinci lebih lanjut mekanisme penetapan harga tersebut. Gedung Putih juga belum menanggapi pertanyaan media mengenai negara pemasok daging sapi maupun kemungkinan pemangkasan harga ekspor oleh negara-negara produsen yang akan menjadi pemasok.
Rincian Kebijakan Tarif Impor Daging Sapi
Rencana pelonggaran tarif impor daging sapi giling ini dinilai pemerintahan AS sebagai jalan tengah untuk menurunkan tagihan belanja bahan makanan konsumen yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi keluhan utama rumah tangga. Tingginya biaya bahan pangan disebut menjadi latar kesulitan konsumen Amerika menghadapi beban belanja yang terus meningkat di tengah tekanan biaya hidup.
Dalam unggahan media sosial sebelumnya, Trump menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang agar tidak mengorbankan sektor peternakan domestik dalam jangka panjang. Ia menyatakan keyakinannya bahwa pembukaan impor secara sementara akan menekan harga di tingkat konsumen sekaligus memberi ruang bagi pemulihan kawanan sapi dalam negeri.
“Kesepakatan ini akan mengurangi harga bagi warga Amerika sekaligus memberikan ruang bagi Kawanan Daging Sapi Hebat Amerika kita untuk kembali berkembang,” ujar Trump.
Namun, rencana tersebut dinilai oleh para produsen daging sapi AS berpotensi merusak upaya pemulihan populasi ternak nasional. Sejumlah ekonom, di sisi lain, menilai kebijakan impor sementara dengan volume terbatas tidak akan banyak mengubah harga di tingkat konsumen mengingat panjangnya rantai distribusi daging sapi di pasar Amerika.
Penolakan Organisasi Peternak Nasional
Langkah tersebut langsung menuai penolakan dari dua organisasi peternak terbesar di AS. National Cattlemen’s Beef Association, kelompok lobi yang mewakili peternak dan pengusaha penggemukan sapi, menyatakan rencana Trump akan merugikan para petani serta peternak dan dapat menghambat ekspansi kawanan sapi nasional.
“Meskipun para produsen daging sapi Amerika memiliki tujuan yang sama untuk menjaga agar harga bahan makanan tetap terjangkau bagi konsumen, membanjiri pasar dengan daging sapi bersubsidi pemerintah di bawah harga pasar bukanlah cara untuk memulihkan kawanan sapi Amerika,” kata CEO asosiasi tersebut, Colin Woodall, dalam sebuah pernyataan.
Woodall menegaskan bahwa pemulihan populasi ternak membutuhkan kepastian pasar bagi produsen domestik, bukan kehadiran pasokan impor bersubsidi yang menurutnya akan menekan harga jual peternak lokal. Sikap serupa disampaikan Presiden United States Cattlemen’s Association, Justin Tupper, yang menilai kebijakan itu melemahkan posisi produsen dalam negeri.
“Anda tidak menempatkan Amerika di urutan pertama dengan menempatkan produsen daging sapi AS di urutan terakhir. Langkah ini akan melemahkan pasar kita dan memperjudikan keamanan pangan dalam prosesnya,” jelas Tupper dalam pernyataan terpisah.
Konteks Politik Jelang Pemilu Paruh Waktu
Tingginya harga bahan makanan telah menjadi isu sentral dalam kontestasi politik AS menjelang pemilu paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Keterjangkauan pangan menjadi bahan kampanye lintas partai, sehingga setiap kebijakan yang menyentuh harga kebutuhan pokok langsung menjadi perhatian publik dan para pengambil kebijakan.
Para pengamat menilai langkah Trump tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meredam tekanan publik terhadap inflasi pangan. Namun, penolakan dari organisasi peternak menempatkan pemerintah dalam posisi yang rumit, mengingat sektor peternakan merupakan basis pemilih yang signifikan di sejumlah negara bagian penghasil sapi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian mengenai jadwal penandatanganan perintah eksekutif maupun negara-negara yang akan memasok daging sapi giling ke pasar AS. Gedung Putih pun belum memberikan penjelasan resmi terkait mekanisme pemangkasan harga ekspor yang dijanjikan dalam rencana kebijakan tersebut.
Comments (0)