Jakarta — Sebuah ruang baru bernama Paviliun Raden Saleh kini hadir di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), tepatnya di dalam Artotel Curated. Kehadirannya bukan sekadar menambah fasilitas, melainkan menjadi semacam "jembatan memori" yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kesenian di pusat kebudayaan ikonik Jakarta ini.
Dinding bergambar hewan-hewan koleksi Kebun Binatang Cikini sebelum dipindahkan ke Ragunan menghiasi selasar Paviliun Raden Saleh. Visual ini menjadi pengingat bahwa sebelum menjadi pusat kesenian, lahan TIM merupakan lokasi Kebun Binatang Cikini yang legendaris—taman margasatwa pertama di Jakarta yang dibuka pada 1864 dan direlokasi ke Ragunan, Pasar Minggu, pada 1964.
Paviliun ini mengambil nama Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811–1880), pelukis maestro Indonesia abad ke-19 yang karya-karyanya diakui dunia. Raden Saleh memiliki hubungan historis dengan kawasan Cikini: ia pernah memiliki dan menghuni sebuah rumah besar bergaya Eropa di area tersebut pada pertengahan abad ke-19. Rumah itu—kini dikenal sebagai Rumah Sakit PGI Cikini—menjadi saksi bagaimana sang pelukis menghabiskan masa tuanya setelah puluhan tahun menimba ilmu seni lukis di Eropa, terutama Belanda dan Jerman.
Di dalam Paviliun Raden Saleh, pengunjung tidak hanya disuguhi reproduksi lukisan-lukisan sang maestro, tetapi juga narasi kuratorial tentang perjalanan hidup dan pengaruh Raden Saleh terhadap seni rupa Indonesia. Ruang pamer mini ini dirancang menyatu dengan koridor hotel, menciptakan pengalaman seni yang kasual namun tetap berbobot.
## Menghidupkan Kembali "Wisma Seni" yang Hilang
Istilah "Wisma Seni" merujuk pada kompleks bangunan bersejarah di TIM yang pada 2019–2022 mengalami revitalisasi besar-besaran. Dalam proses itu, beberapa bangunan lama—termasuk gedung pertunjukan teater dan ruang pamer—dibongkar atau direnovasi total. Bagi sebagian komunitas seni, hilangnya bangunan-bangunan itu sempat menimbulkan kegelisahan: akankah roh kesenian TIM ikut terkikis bersama puing-puing beton?
Paviliun Raden Saleh hadir sebagai salah satu jawaban. Ia merepresentasikan upaya mengembalikan "ruang spiritual" Wisma Seni dalam format kontemporer. Tidak lagi berupa gedung mandiri, tetapi sebuah ruang seni terintegrasi di dalam ekosistem hotel—sebuah pendekatan adaptive reuse yang jamak ditemukan di kota-kota besar dunia.
Artotel Curated sendiri, sebagai jaringan hotel butik yang dikenal mengusung konsep seni kontemporer, menjadi mitra yang tepat. General Manager Artotel Curated menjelaskan: "Kami ingin setiap tamu yang menginap atau sekadar berkunjung ke sini bisa merasakan pengalaman berseni yang berbeda. Paviliun Raden Saleh bukan sekadar dekorasi, ini adalah ruang apresiasi seni yang otentik." (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah)
### Perbandingan: TIM Lama vs. TIM Setelah Revitalisasi
| Aspek | TIM Sebelum Revitalisasi | TIM Setelah Revitalisasi |
| Gedung pameran | Galeri Cipta II, gedung tua | Galeri Annex, Paviliun Raden Saleh, ruang multifungsi baru |
| Fasilitas penginapan | Tidak ada hotel terpadu | Artotel Curated (100+ kamar, seni terintegrasi) |
| Konektivitas sejarah | Minim narasi historis | Paviliun Raden Saleh, mural sejarah Cikini |
| Pengunjung target | Komunitas seni, akademisi | Komunitas seni + wisatawan umum |
## Konteks Historis: Dari Kebun Binatang ke Pusat Kebudayaan
Kebun Binatang Cikini berdiri sejak 1864 dan menjadi rumah bagi lebih dari
450 spesies satwa sebelum akhirnya dipindahkan ke Ragunan pada 1964. Lahan seluas
9 hektare itu kemudian disulap oleh Gubernur Ali Sadikin menjadi Taman Ismail Marzuki, diresmikan pada
10 November 1968. Nama Ismail Marzuki dipilih untuk menghormati komponis legendaris Indonesia yang lahir di Kwitang, Jakarta Pusat.
Hewan-hewan yang kini hanya bisa dilihat dalam bentuk mural di Paviliun Raden Saleh—gajah, harimau, orangutan—pernah menjadi penghuni nyata di atas tanah yang kini menjadi panggung pertunjukan, studio tari, dan galeri seni rupa.
Sejarawan seni dari Institut Kesenian Jakarta menilai bahwa "Paviliun Raden Saleh berhasil menciptakan lapisan narasi yang memperkaya pengalaman pengunjung TIM. Ini bukan sekadar tempat selfie, melainkan ruang kontemplasi tentang bagaimana seni, sejarah kota, dan pembangunan bisa saling terkait."
Paviliun Raden Saleh di Artotel Curated kini menjadi destinasi baru bagi pecinta seni dan sejarah Jakarta. Dengan jam operasional yang mengikuti jam hotel (24 jam untuk tamu menginap, akses publik terbatas pada jam tertentu), ruang ini menawarkan alternatif baru menikmati seni di luar galeri konvensional. Ke depannya, manajemen berencana mengadakan tur berpemandu, artist talk, dan lokakarya seni rupa di paviliun tersebut.
Comments (0)