Panen Sayur Napi Takalar Wujud Kemandirian Pangan Lapas
Takalar, Juli 2026 — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar kembali mencatat keberhasilan program pembinaan kemandirian pangan. Seorang warga binaan berinisial KL berhasil memanen puluhan ...
Takalar, Juli 2026 — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar kembali mencatat keberhasilan program pembinaan kemandirian pangan. Seorang warga binaan berinisial KL berhasil memanen puluhan kilogram sayuran segar dari lahan budidaya di area Lapas, menandai capaian konkret atas kebijakan akselerasi produksi pangan di lingkungan pemasyarakatan. Panen yang dilakukan di kebun brangasan Lapas Takalar ini melibatkan langsung para narapidana yang telah mengikuti pelatihan pertanian terpadu sejak awal tahun 2026.
Hasil Nyata Program Kemandirian Pangan
Kepala Lapas Takalar menegaskan bahwa panen kali ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bukti efektivitas program one day one prisoner’s product yang digulirkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. “Kami menetapkan target setiap warga binaan harus menghasilkan satu produk pertanian per hari, dan hari ini kita lihat hasilnya,” ujar Kepala Lapas dalam keterangan resmi. Berdasarkan laporan yang diterima, budidaya sayur ini memanfaatkan sistem hidroponik dan konvensional di atas lahan seluas sekitar 500 meter persegi. Jenis sayur yang dipanen antara lain kangkung, bayam, dan sawi hijau. Total hasil panen yang terkumpul mencapai puluhan kilogram dan langsung didistribusikan ke dapur Lapas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan.
Program ini disahkan melalui Rapat Koordinasi Penguatan Ketahanan Pangan di Lapas yang melibatkan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Selatan. Dalam rapat tersebut, ditetapkan bahwa seluruh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan wajib mengoptimalkan lahan tidur menjadi area produktif. Lapas Takalar menjadi salah satu pionir karena telah memulai penanaman sejak Januari 2026 dengan melibatkan 30 orang narapidana sebagai tenaga inti yang mendapat pendampingan teknis dari penyuluh pertanian setempat.
Antusiasme dan Keterampilan Warga Binaan
KL, narapidana yang turut serta sejak tahap persiapan lahan, menyatakan kepuasan mendalam saat melihat hasil kerja kerasnya. “Melihat tanaman yang saya siram dan rawat setiap hari bisa tumbuh subur dan akhirnya dipanen, rasanya ada kepuasan batin yang tidak bisa diungkapkan. Saya merasa bersyukur diberikan kesempatan untuk belajar dan produktif selama di sini,” tutur KL. Kutipan ini menggambarkan aspek psikososial yang menjadi bagian penting dari pembinaan di Lapas. Menindaklanjuti arahan Kepala Divisi Pemasyarakatan Sulawesi Selatan, kegiatan bertani tidak hanya mengejar target produksi tetapi juga menanamkan etos kerja dan tanggung jawab kepada para narapidana.
Pelatihan yang diberikan meliputi teknik persemaian, perawatan tanpa pestisida kimia, hingga penanganan pascapanen. Para peserta dibekali modul sederhana yang disusun bekerja sama dengan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Takalar. Keberhasilan panen ini menjadi evaluasi positif bahwa metode pelatihan on the job training langsung di lahan memberikan dampak lebih signifikan dibandingkan pelatihan teori di dalam kelas. “Kami mencatat peningkatan kemampuan bertani peserta hingga 80 persen setelah dua siklus tanam,” ungkap seorang staf pembinaan yang enggan disebutkan namanya.
Rencana Pengembangan dan Dampak Ekonomi
Pihak Lapas Takalar memastikan bahwa keberhasilan ini akan dijadikan tolok ukur untuk ekspansi program. Rencana ke depan mencakup penambahan varietas tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti cabai, tomat ceri, dan melon yang dapat dijual di luar Lapas melalui skema kerja sama dengan Koperasi Pegawai Lapas. “Dalam keputusan rapat pekan lalu, kami sepakat bahwa 30 persen hasil panen akan dipasarkan kepada masyarakat untuk menopang operasional kegiatan pembinaan. Ini sejalan dengan konsep kemandirian yang kami usung,” terang Kepala Lapas.
Dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, fungsi pembinaan harus mengintegrasikan aspek kemandirian ekonomi agar narapidana dapat kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan yang aplikatif. Program ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden tentang penguatan ketahanan pangan nasional. Ke depan, Lapas Takalar menargetkan seluruh area lahan kosong seluas 2.000 meter persegi dapat diubah menjadi kawasan pertanian terpadu yang mencakup budidaya sayur, perikanan air tawar, dan peternakan ayam petelur. Proyeksi ini diharapkan mampu memenuhi 100 persen kebutuhan pangan warga binaan dan menciptakan siklus ekonomi mandiri di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Dari sisi keamanan, aktivitas bertani terbukti menurunkan tingkat stres dan risiko konflik antarnarapidana. Para petugas melaporkan adanya perubahan perilaku positif dari peserta program. Keterlibatan KL dan rekan-rekannya dalam panen pertama ini diharapkan menjadi motivasi bagi 280 warga binaan lainnya untuk bergabung. Hasil nyata berupa puluhan kilogram sayur segar yang telah dinikmati oleh seluruh penghuni Lapas menjadi bukti konkret bahwa pendekatan pembinaan berbasis kemandirian pangan tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membangun peradaban baru di balik jeruji.
Comments (0)