JAKARTA — Praktisi psikologi klinis menyarankan individu yang mengalami overthinking atau kecenderungan berpikir berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari untuk segera berkonsultasi dengan tenaga profesional. Anjuran tersebut disampaikan menyusul meningkatnya keluhan terkait kesehatan mental di masyarakat perkotaan, khususnya di Jakarta, dalam beberapa tahun terakhir.
Psikolog klinis dewasa menegaskan bahwa kebiasaan berpikir berlebihan yang telah berdampak pada fungsi sosial, pekerjaan, maupun kualitas tidur tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut. Meski bukan tergolong gangguan mental berat, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius apabila tidak ditangani secara tepat.
"Ketika overthinking sudah mengganggu aktivitas harian, itu sudah menjadi tanda yang perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi ke tenaga profesional," ujar psikolog dalam keterangannya di Jakarta.
Batas Antara Kewaspadaan dan Gangguan Fungsi
Dalam penjelasannya, psikolog membedakan antara berpikir kritis yang wajar dengan overthinking yang bersifat patologis. Berpikir mendalam untuk mengambil keputusan merupakan bagian normal dari proses kognitif manusia. Namun, ketika pola pikir tersebut berulang tanpa penyelesaian, menimbulkan kecemasan berkepanjangan, dan menghambat produktivitas, maka individu tersebut dinilai telah memasuki wilayah yang memerlukan intervensi.
Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain sulit tidur karena pikiran yang terus berputar, kehilangan konsentrasi saat bekerja atau belajar, mudah lelah secara emosional, serta munculnya gejala fisik seperti jantung berdebar dan tegang pada otot. Gejala-gejala tersebut, menurut psikolog, sering kali diabaikan penderitanya karena dianggap sebagai persoalan biasa.
"Banyak orang menganggap ini sekadar kebiasaan. Padahal jika sudah berulang dan mengganggu, ada mekanisme psikologis yang perlu dipahami dan ditangani," tegasnya.
Pendekatan Profesional dan Dukungan Lingkungan
Psikolog menjelaskan bahwa penanganan overthinking umumnya dilakukan melalui pendekatan psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku, yang bertujuan mengidentifikasi pola pikir tidak adaptif dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih sehat. Dalam sejumlah kasus, tenaga profesional juga dapat merekomendasikan evaluasi lanjutan apabila ditemukan indikasi gangguan kecemasan atau depresi yang menyertai.
Selain penanganan klinis, dukungan lingkungan terdekat dinilai memiliki peran signifikan. Keluarga, kolega kerja, dan sahabat diharapkan mampu memberikan ruang aman bagi individu untuk bercerita tanpa dihakimi. Pendekatan yang menyalahkan atau meremehkan keluhan, menurut psikolog, justru memperparah kondisi penderita.
"Dukungan sosial yang sehat mempercepat proses pemulihan. Yang dibutuhkan bukan menghakimi, melainkan mendampingi," ujarnya.
Pentingnya Literasi Kesehatan Mental
Psikolog juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental di tengah masyarakat. Pemahaman yang benar mengenai gejala awal, akses layanan konseling, serta penghapusan stigma terhadap bantuan psikologis menjadi kunci pencegahan yang lebih luas.
Ia menambahkan, konsultasi ke psikolog tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah didiagnosis mengalami gangguan mental. Individu yang merasa beban pikirannya mengganggu kualitas hidup dianjurkan untuk mencari bantuan sejak dini, sebelum kondisi memburuk.
Dengan penanganan yang tepat dan dukungan lingkungan, individu yang mengalami overthinking dinilai memiliki peluang besar untuk kembali menjalani aktivitas harian secara produktif dan seimbang.
Comments (0)