Oct 16, 2026
Politik

Jusuf Kalla Beberkan Tiga Pilar Kepemimpinan di Makassar

MAKASSAR — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa seorang pemimpin wajib menguasai tiga pilar utama agar mampu menjalankan amanah kepemimpinannya secara efe...

Jusuf Kalla Beberkan Tiga Pilar Kepemimpinan di Makassar

MAKASSAR — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa seorang pemimpin wajib menguasai tiga pilar utama agar mampu menjalankan amanah kepemimpinannya secara efektif. Ketiga pilar tersebut adalah kapasitas intelektual, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membangun dan memelihara kepercayaan publik. Pernyataan itu disampaikan Kalla dalam pidato kuncinya pada forum Makassar Leadership Summit yang digelar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Dalam forum yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, pelaku usaha, birokrat, dan organisasi kemasyarakatan tersebut, Kalla menyatakan bahwa kepemimpinan bukan semata persoalan posisi atau jabatan formal. Menurutnya, jabatan hanya alat, sedangkan mutu kepemimpinan ditentukan oleh kualitas individu yang mengisinya.

"Pemimpin itu harus pintar, harus berani, dan yang paling penting harus dipercaya. Tanpa tiga hal itu, jabatan setinggi apa pun tidak akan membawa perubahan," ujar Kalla di hadapan peserta forum.

Kecerdasan sebagai Fondasi Pengambilan Keputusan

Kalla memaparkan bahwa kecerdasan seorang pemimpin tidak cukup hanya diukur dari nilai akademik atau derajat pendidikan formal. Ia menyebut kecerdasan yang dimaksud mencakup kemampuan membaca situasi, memahami persoalan secara utuh, serta merumuskan solusi yang dapat dieksekusi. Menurutnya, seorang pemimpin yang tidak cakap membaca data dan perkembangan zaman akan tertinggal dan berpotensi menimbulkan kebijakan yang keliru.

Ia mencontohkan pengalaman panjangnya selama menjabat sebagai Wakil Presiden pada dua periode berbeda, yakni mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004–2009 dan Presiden Joko Widodo pada 2014–2019. Pada kedua periode itu, kata Kalla, hampir seluruh keputusan strategis selalu lahir dari proses kajian yang mendalam, bukan dari dorongan sesaat.

Kalla juga menyatakan bahwa kecerdasan harus disertai kemampuan berkomunikasi. Seorang pemimpin, lanjut dia, wajib mampu menjelaskan kebijakan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Tanpa kemampuan tersebut, kebijakan yang baik sekalipun berisiko ditolak karena tidak dipahami.

Keberanian Menghadapi Tekanan dan Risiko

Pilar kedua yang ditekankan Kalla adalah keberanian. Ia menilai keberanian menjadi pembeda antara pemimpin yang berorientasi pada popularitas jangka pendek dan pemimpin yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Menurut Kalla, hampir setiap kebijakan penting selalu menghadapi resistensi, sehingga pemimpin dituntut berani menanggung risiko politik.

Ia menyebut sejumlah kebijakan yang pernah menuai kritik tajam, namun terbukti diperlukan, seperti penyesuaian harga dan tata kelola energi. Menurut Kalla, pemimpin yang tidak berani mengambil keputusan sulit akan kehilangan momentum dan pada akhirnya membebani generasi berikutnya.

Meski demikian, Kalla menekankan bahwa keberanian harus tetap berpijak pada kerangka hukum dan konstitusi. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, setiap kebijakan pemerintahan wajib dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Karena itu, keberanian tanpa landasan hukum, tegas dia, akan berubah menjadi kesewenangan.

Kepercayaan sebagai Modal Utama Kekuasaan

Pada bagian akhir pidatonya, Kalla menempatkan kepercayaan sebagai pilar terpenting di antara ketiganya. Ia menyatakan bahwa kekuasaan tanpa kepercayaan akan cepat kehilangan legitimasi. Menurutnya, kepercayaan publik tidak dapat dibeli atau dibangun secara instan, melainkan diperoleh melalui konsistensi antara ucapan dan perbuatan.

"Kalau pemimpin sudah tidak dipercaya, apa pun programnya akan diragukan. Kepercayaan itu mahal dan sulit dikembalikan kalau sudah rusak," tegas Kalla.

Ia mengingatkan bahwa dalam sistem demokrasi, pemimpin dipilih berdasarkan kontrak politik dengan rakyat. Oleh sebab itu, janji kampanye harus dijalankan dan setiap hasil kerja wajib dilaporkan secara transparan. Kalla menilai pengelolaan komunikasi publik yang baik, termasuk melalui pers, menjadi instrumen penting untuk merawat kepercayaan tersebut.

Rehat dari pidatonya, forum kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi panel yang membahas tantangan kepemimpinan di era digital. Sejumlah pembicara menyoroti derasnya arus informasi yang menuntut pemimpin bergerak lebih cepat sekaligus lebih hati-hati dalam menjaga reputasi.

Makassar Leadership Summit sendiri digelar sebagai ruang pertemuan lintas sektor untuk membahas penguatan kapasitas kepemimpinan di kawasan Indonesia timur. Penyelenggara menyatakan forum ini akan menghasilkan sejumlah rekomendasi yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah dan lembaga terkait sebagai bahan penyusunan kebijakan pengembangan sumber daya manusia.

Menutup pidatonya, Kalla berpesan agar generasi muda tidak menunggu jabatan untuk mulai memimpin. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan dapat dimulai dari lingkup terkecil, seperti organisasi kemahasiswaan, komunitas, hingga lingkungan tempat tinggal. Menurut dia, pengalaman memimpin di level kecil menjadi laboratorium penting sebelum seseorang mengemban tanggung jawab publik yang lebih besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User