Angin kencang yang berembus di atas bukit-bukit kapur Nusa Penida membawa hawa panas menyengat di tengah puncak musim kemarau. Di balik pesona tebing-tebing indahnya yang tersohor hingga mancanegara, tersembunyi kerentanan ekologis yang amat tinggi. Rumput belukar dan ilalang yang mengering kini menyelimuti sebagian besar wilayah daratan, menciptakan hamparan bahan bakar alami yang siap tersulut oleh percikan api sekecil apa pun.
Ancaman nyata tersebut terbukti ketika kepulan asap mendadak terlihat meliuk di wilayah Desa Tanglad. Tanpa membuang waktu, informasi cepat yang masuk melalui grup WhatsApp langsung direspons secara sigap oleh aparat kepolisian dan warga setempat. Kapolsek Nusa Penida, Kompol I Ketut Kesuma Jaya, memimpin langsung 22 personel Polsek Nusa Penida bersama Babinsa Desa Tanglad dan elemen masyarakat menuju titik lokasi untuk memadamkan api serta menyisir sisa-sisa bara yang masih menyala.
Respons cepat ini menjadi faktor penentu agar kobaran api tidak meluas dan melahap kawasan vegetasi yang kian merana akibat cuaca panas. Penanganan dini sangat krusial mengingat topografi wilayah yang berbukit serta hembusan angin laut yang dapat membuat api merembet dalam hitungan detik.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, karena kondisi rumput dan ilalang yang kering sangat mudah terbakar. Api dapat dengan cepat merembet dan meluas, sehingga kewaspadaan dan kepedulian bersama sangat diperlukan," ujar Kompol Kesuma Jaya saat mengonfirmasi kejadian tersebut.
Pemetaan Risiko: Seluruh Desa Nusa Penida Rentan Terbakar
Kekhawatiran aparat dan warga lokal terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukanlah kecemasan tanpa alasan. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klungkung, tingkat kerentanan wilayah ini berada pada taraf yang patut diwaspadai. Data menunjukkan bahwa total luas wilayah Klungkung yang masuk dalam pemetaan risiko karhutla mencapai 26.362,88 hektare.
Dalam dokumen analisis BPBD tersebut, Kecamatan Dawan dan Kecamatan Nusa Penida menjadi dua wilayah utama yang mendominasi kategori risiko kelas sedang hingga tinggi. Yang lebih memprihatinkan, seluruh desa yang berada di pulau Nusa Penida secara teknis tercatat masuk dalam zona risiko karhutla.
Berikut adalah rincian peta risiko bencana di Kabupaten Klungkung berdasarkan data analisis BPBD:
| Kategori Risiko Bencana | Luas Wilayah Terdampak | Kawasan Risiko Tinggi |
|---|---|---|
| Kebakaran Hutan & Lahan (Karhutla) | 26.362,88 Hektare | Nusa Penida (Desa Batumadeg, Bunga Mekar, Sakti, Pejukutan, Kutampi, Suana) & Kecamatan Dawan |
| Potensi Bahaya Kekeringan | 31.314,04 Hektare | Seluruh Wilayah Kepulauan Nusa Penida |
Enam desa utama—yaitu Desa Batumadeg, Bunga Mekar, Sakti, Pejukutan, Kutampi, dan Suana—menjadi sorotan utama karena berada pada garis depan ancaman kebakaran kelas tinggi. Di desa-desa ini, padang ilalang kering membentang luas dan berbatasan langsung dengan kawasan pemukiman serta jalur perlintasan wisatawan.
Kekeringan Ekstrem Memperparah Potensi Bencana
Ancaman karhutla di Nusa Penida kian tereskalasi oleh kondisi geografis dan iklim lokal yang mengalami fenomena kekeringan parah. Berdasarkan analisis BPBD Klungkung, luas wilayah yang terpapar potensi bahaya kekeringan mencapai angka fantastis, yakni 31.314,04 hektare. Angka ini mencakup hampir seluruh wilayah daratan kepulauan Nusa Penida.
Kombinasi antara minimnya curah hujan, keterbatasan pasokan air, dan tingginya temperatur udara menciptakan skenario yang sangat berisiko. Ketika vegetasi berubah menjadi bahan bakar kering, kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah tanpa pengawasan dapat memicu kebakaran lahan skala besar.
Oleh karena itu, kepolisian bersama jajaran TNI dan BPBD terus memperketat patroli dialogis ke desa-desa. Petugas tidak hanya bersiap dengan peralatan pemadaman darurat, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat dan pelaku pariwisata agar bersama-sama menjaga lingkungan Nusa Penida tetap aman dari bahaya api.
Comments (0)