Suasana politik di Wilayah Otonomi Bangsamoro di Mindanao Muslim (BARMM), Filipina Selatan, kian memanas pasca-pemilihan umum parlemen perdana. Kendati pesta demokrasi di bilik suara telah usai, pertarungan kekuasaan yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik lorong-lorong gedung parlemen. Berbagai kubu politik kini bergerak cepat melobi dan menggalang kekuatan demi mengamankan mayoritas dukungan untuk menentukan siapa yang berhak menduduki kursi perdana menteri pertama di wilayah otonom tersebut.
Persaingan intensif ini memicu keretakan internal di tubuh faksi-faksi lokal, terutama kelompok veteran pejuang kemerdekaan Moro. Namun yang membuat situasi semakin rumit, konstelasi politik lokal di BARMM kini ditarik ke dalam arus persaingan politik nasional yang jauh lebih besar dan sarat kepentingan elite Manila.
Perpecahan Internal MILF dan Perburuan 41 Suara
Teras utama perselisihan ini berpusat pada upaya perburuan 41 suara mayoritas dari total anggota Parlemen Bangsamoro yang baru terbentuk. Tanpa adanya satu pun partai politik yang meraih kemenangan mutlak dalam pemilu, terbentuknya pemerintah baru sepenuhnya bergantung pada kemampuan koalisi untuk menggalang dukungan minimum tersebut sebelum parlemen resmi bersidang bulan depan.
Kondisi ini memicu pembelahan tajam di tubuh Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Dua faksi utama yang sebelumnya bersatu dalam perjuangan otonomi—yakni kelompok yang setia kepada pimpinan puncak MILF Murad Ebrahim dan kubu berpengaruh yang dipimpin Macacua—kini saling berebut pengaruh. Usaha untuk merekonsiliasi kedua faksi tersebut terus menemui jalan buntu seiring makin tingginya pertaruhan kekuasaan.
Berikut adalah gambaran peta kekuatan dan perpecahan politik yang tengah berlangsung di kawasan BARMM:
| Faksi/Kubu Politik | Basis Dukungan Utama | Arah Afiliasi Nasional |
|---|---|---|
| Kubu Murad Ebrahim (MILF) | Elit Struktur Utama MILF & Birokrasi Transisi | Cenderung Merapat ke Istana Malacañang (Marcos Jr.) |
| Kubu Macacua & Oposisi Daerah | Komandan Lapangan & Tokoh Lokal Mindanao | Berpotensi Disokong Kekuatan Politik Davao (Duterte) |
Bayang-Bayang Pertarungan Marcos Jr. vs Sara Duterte
Para pengamat politik menilai bahwa dinamika politik lokal di Bangsamoro tidak lagi berdiri sendiri. Perebutan kursi perdana menteri ini diyakini akan bertransformasi menjadi perang proksi (proxy war) terbuka antara dua kekuatan politik terbesar Filipina saat ini: Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte.
Menjelang Pemilu Presiden Filipina yang dijadwalkan pada tahun 2028, kedua kubu elite nasional tersebut berkepentingan mengamankan kontrol atas wilayah Mindanao yang kaya akan basis pemilih strategis. BARMM, dengan struktur otonominya yang baru, menjadi papan catur pertama untuk mengukur kekuatan relatif masing-masing faksi politik nasional.
"Bangsamoro bukan lagi sekadar eksperimen perdamaian lokal. Kawasan ini telah menjadi benteng pertempuran awal bagi para raksasa politik Manila yang ingin menguji loyalitas wilayah selatan sebelum laga elektoral 2028," ujar seorang analis politik senior kawasan Mindanao dalam keterangannya.
Jika kubu Marcos berhasil mendorong sekutunya memenangkan 41 suara di parlemen BARMM, hal itu akan mengukuhkan pengaruh Istana Malacañang di selatan. Sebaliknya, apabila kelompok yang disokong faksi Sara Duterte berhasil membalikkan keadaan, maka peta kekuatan politik Filipina Selatan dipastikan akan mengalami guncangan hebat.
Pertaruhan Masa Depan Perdamaian di Mindanao
Di luar perebutan pengaruh para elite, masyarakat Bangsamoro menaruh harapan besar agar konflik politik ini tidak merusak proses perdamaian yang telah dibangun bertahun-tahun. Ketidakstabilan di parlemen dikhawatirkan dapat melumpuhkan pelayanan publik dan memperlambat implementasi program pembangunan di wilayah yang baru pulih dari konflik bersenjata tersebut.
Tantangan utama yang dihadapi Parlemen BARMM dalam waktu dekat meliputi:
- Menggalang koalisi stabil untuk memenuhi syarat 41 suara pemilihan Perdana Menteri.
- Mencegah eskalasi perpecahan di tingkat akar rumput antara pendukung faksi MILF.
- Menjaga independensi agenda otonomi daerah dari intervensi politik kekuasaan Manila.
Hasil akhir pertarungan politik di Bangsamoro dalam beberapa minggu ke depan tidak hanya akan menentukan siapa yang memimpin kawasan otonom tersebut, tetapi juga memberi sinyal awal ke mana arah angin politik Filipina bergerak menjelang persaingan elektoral mendatang.
Comments (0)