Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) meluruskan informasi yang beredar luas di media sosial terkait rekaman video drone yang memperlihatkan dugaan bangkai atau posisi perahu cepat (speedboat) rombongan jurnalis di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Tim SAR gabungan menegaskan bahwa hingga saat ini titik keberadaan kapal beserta 8 korban hilang di perairan Selat Sunda tersebut masih belum ditemukan.
Klarifikasi resmi ini disampaikan menyusul viralnya potongan visual udara yang diunggah oleh salah satu akun media sosial, yang mengeklaim telah mendeteksi keberadaan lambung kapal di perairan dangkal dekat gugusan pulau vulkanik tersebut. Tim penyelamat langsung mengerahkan armada patroli laut untuk menyisir koordinat yang ditunjuk dalam rekaman tersebut, namun hasilnya masih nihil.
Kronologi Verifikasi dan Penelusuran Video Viral
Operasi verifikasi lapangan dilakukan secara intensif demi memastikan validitas informasi yang berkembang di kalangan masyarakat maupun keluarga korban. Berikut rangkaian tindakan yang diambil oleh tim gabungan:
- Analisis Citra Digital: Tim IT dan analis pencarian Basarnas melakukan verifikasi metadata dan koordinat visual dari rekaman video drone yang beredar luas di platform daring.
- Pemberangkatan Rigid Inflatable Boat (RIB): Unit reaksi cepat SAR diberangkatkan menuju titik koordinat spesifik di sebelah barat daya Gunung Anak Krakatau guna pengecekan langsung di perairan.
- Penyisiran Visual dan Sonar: Petugas melakukan pemeriksaan visual permukaan laut dan pemindaian bawah air dangkal, namun tidak mendeteksi tanda-tanda serpihan maupun badan kapal.
- Pernyataan Resmi: Otoritas SAR memastikan obyek pada video tersebut kemungkinan besar adalah karang bawah laut atau anomali visual gelombang, bukan kapal yang dimaksud.
"Kami sudah melakukan pengecekan dan penyisiran langsung ke koordinat yang diindikasikan pada video viral tersebut. Hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda keberadaan kapal maupun korban di lokasi itu. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap mengacu pada rilis resmi Basarnas," ujar Kepala Kantor SAR dalam keterangan persnya.
Perluasan Sektor Pencarian Korban di Selat Sunda
Memasuki fase lanjutan operasi pencarian, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Banten, Basarnas Lampung, Polairud, TNI Angkatan Laut, serta relawan nelayan lokal sepakat untuk memperluas radius penyisiran hingga 25 nautical mile (NM) dari titik perkiraan kapal hilang kontak (Last Known Position/LKP).
Pencarian kini difokuskan pada beberapa sektor strategis yang disesuaikan dengan pergerakan arus laut dan arah angin terkini:
- Sektor Utara Krakatau: Meliputi perairan Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku yang menjadi jalur potensial serpihan hanyut ke arah Lampung Selatan.
- Sektor Selatan dan Barat: Menjangkau wilayah perairan terbuka menuju Samudra Hindia guna mengantisipasi korban yang terbawa arus laut lepas.
- Sektor Pesisir Banten: Melibatkan patroli darat dan perahu nelayan di sepanjang pantai Anyer hingga Tanjung Lesung.
Tantangan utama yang dihadapi di lapangan mencakup kondisi cuaca buruk, gelombang tinggi mencapai 2,5 meter, serta arus bawah laut yang sangat kuat di sekitar palung Selat Sunda. Kendati demikian, pengerahan kapal patroli berukuran besar dan pemantauan udara tetap dioptimalkan untuk memaksimalkan peluang evakuasi para korban yang masih dalam pencarian.
Comments (0)