Sep 18, 2026
Hukum

NGANJUK — Kebakaran Gunung Wilis Picu Kemunculan 46 Titik Panas

Kepulan asap tebal kembali membubung tinggi menutupi langit di kawasan lereng Pegunungan Wilis. Musim kemarau ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah J

NGANJUK — Kebakaran Gunung Wilis Picu Kemunculan 46 Titik Panas

Kepulan asap tebal kembali membubung tinggi menutupi langit di kawasan lereng Pegunungan Wilis. Musim kemarau ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Jawa Timur kini memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup parah. Berdasarkan pantauan citra satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemantauan lapangan, terdeteksi sebanyak 46 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah administratif Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Ponorogo.

Kondisi vegetasi yang mengering akibat cuaca terik serta tiupan angin kencang membuat kobaran api dengan cepat merembet ke area vegetasi alasia dan semak belukar. Medan pegunungan yang curam dan berada di ketinggian sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam kebakaran biasa, sehingga menyulitkan proses pemadaman awal oleh petugas di lapangan.

Ancaman Karhutla di Lereng Pegunungan

Penyebaran titik panas di kawasan Gunung Wilis tidak hanya mengancam kelestarian ekosistem hutan lindung, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan air bersih bagi warga pemukiman sekitar lereng. Kebakaran ini utamanya membakar kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola oleh pihak Perhutani di wilayah KPH Kediri dan KPH Madiun.

Berikut adalah rincian sebaran titik panas dan wilayah yang terdampak berdasarkan pendataan sementara tim gabungan di lapangan:

Wilayah Kabupaten Jumlah Titik Panas Jenis Vegetasi Terdampak Status Penanganan
Nganjuk (Kec. Sawahan & Loceret) 26 Titik Pinus, Alang-alang, Semak Pemadaman Darat & Sekat Bakar
Ponorogo (Kec. Ngebel & Pulung) 20 Titik Hutan Rimba Campur, Semak Dry Pemantauan & Lokalisir Api

Kebakaran hutan di medan yang ekstrem seperti Gunung Wilis ini memerlukan strategi khusus. Selain kobaran api yang nampak dari kejauhan, material kayu lapuk dan serasah daun tebal di lantai hutan seringkali menyimpan bara api bawah tanah (ground fire) yang sewaktu-waktu bisa memicu letupan api baru saat tertiup angin kencang.

Perjuangan Tim Gabungan Menjinakkan Si Jago Merah

Upaya penanggulangan terus dilakukan secara masif oleh tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perhutani, personel TNI, Polri, serta ratusan relawan dari Masyarakat Peduli Api (MPA). Karena kendala akses medan, sebagian besar aksi pemadaman mengandalkan metode manual menggunakan gebyok (gebyok kayu/bambu) dan pembuat sekat bakar (firebreak) agar api tidak meluas ke permukiman warga.

"Kami terus berkoordinasi dengan seluruh stakeholder untuk melokalisir titik-titik api yang masih aktif. Medan yang sangat terjal menjadi tantangan utama kami di lapangan. Kami sangat menekankan agar keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama," tegas perwakilan BPBD Jawa Timur dalam keterangannya terkait penanganan karhutla Gunung Wilis.

Pemerintah daerah bersama pihak Perhutani juga tidak menutup kemungkinan untuk mengajukan bantuan pemadaman dari udara (water bombing) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) apabila skala kebakaran terus meluas dan sulit dikendalikan lewat jalur darat.

Mitigasi dan Imbauan Waspada Kemarau Ekstrem

Selain fokus pada aksi pemadaman, pihak berwenang mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat sekitar maupun para pendaki untuk meningkatkan kewaspadaan. Faktor kelalaian manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar, pembuangan puntung rokok sembarangan, hingga bekas api unggun yang tidak dipadamkan secara sempurna disinyalir menjadi pemicu utama bencana kebakaran hutan di musim kemarau.

Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan jika melihat asap atau percikan api di area hutan. "Kepatuhan bersama untuk tidak membuat api di kawasan hutan adalah kunci utama mencegah bencana yang lebih besar," pungkas pihak berwenang. Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berada di lokasi untuk melakukan pendinginan (cooling down) di area-area yang berhasil dipadamkan demi memastikan bara api benar-benar padam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User