Momen Haru PM Inggris Keir Starmer Bahas Istri-Anak Saat Umumkan Mundur
Suasana di depan Downing Street mendadak hening ketika Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyampaikan pidato pengunduran dirinya yang penuh emosi, Senin (22/6/2026). Keputusan mengejutkan itu di
Suasana di depan Downing Street mendadak hening ketika Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyampaikan pidato pengunduran dirinya yang penuh emosi, Senin (22/6/2026). Keputusan mengejutkan itu diambil setelah ia memimpin negeri Ratu Elizabeth itu kurang dari dua tahun. Dalam pernyataan yang disiarkan langsung, Starmer tak kuasa menahan haru saat menyinggung dukungan keluarganya, menjadikan momen perpisahan itu bukan sekadar pernyataan politik, melainkan pengakuan seorang suami dan ayah.
Starmer, yang mulai menjabat pada Juli 2024, memang tengah menghadapi berbagai tekanan domestik dan internal partai. Namun, dalam pidato terakhirnya, ia memilih menutup masa jabatannya dengan nada personal. Sorot matanya berkaca-kaca, suaranya beberapa kali bergetar, terutama ketika menyebut sang istri, Victoria Starmer. Baginya, menyelesaikan tugas kenegaraan bukan berarti kehilangan identitasnya sebagai kepala keluarga. "Saya meninggalkan pekerjaan terbesar di negara ini," ujarnya, "dan akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang paling penting." Kalimat itu sontak mengundang keheningan sekaligus simpati dari kerumunan yang hadir.
Penghormatan kepada Sang Istri
Di sepanjang masa jabatannya yang singkat, Victoria memang jarang tampil di depan publik. Namun, di mata Starmer, perempuan yang mendampinginya sejak 2007 itu adalah fondasi utama karier politiknya. Dalam pidato perpisahan itu, ia menyebut Victoria sebagai "penopang terkuat" yang tak pernah lelah berada di sisinya, bahkan di tengah badai kritik dan jadwal kenegaraan yang padat. Tanpa kehadiran Victoria dan anak-anak mereka, ia mengaku tak akan mampu melewati setiap ujian sebagai pemimpin nomor satu Inggris.
"Dan ketika saya meninggalkan pekerjaan terbesar di negara ini, saya akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan yang paling penting — menjadi suami dan ayah yang baik."
Pengakuan itu mengakhiri pidatonya dengan isak pelan yang nyaris tertahan. Banyak yang menilai momen ini sebagai pengingat bahwa di balik segala tampuk kekuasaan, ada sisi manusiawi yang kerap terlupakan. Meski belum ada pernyataan resmi mengenai sosok penggantinya, spekulasi politik mulai bermunculan. Namun, bagi Starmer, hari itu adalah awal dari peran yang menurutnya jauh lebih krusial dibanding jabatan apa pun: berada di rumah, membersamai orang-orang yang paling ia cintai.
Comments (0)