Mensos Saifullah Yusuf Apresiasi Pameran Seni Inklusif Anak Jakarta

Jakarta, 27 Juli 2026 – Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, secara resmi memberikan apresiasi terhadap gelaran pameran seni rupa anak bertajuk Canvas of Dreams 2026 di Jakart...

Mensos Saifullah Yusuf Apresiasi Pameran Seni Inklusif Anak Jakarta

Jakarta, 27 Juli 2026 – Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, secara resmi memberikan apresiasi terhadap gelaran pameran seni rupa anak bertajuk Canvas of Dreams 2026 di Jakarta, Minggu (27/7). Pameran yang berlangsung di Ruang Serbaguna Kementerian Sosial ini menjadi panggung bagi 157 pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari 92 sekolah di Jabodetabek untuk menunjukkan karya terbaik mereka. Lebih dari sekadar ajang pamer, kegiatan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mewujudkan pendidikan inklusif, khususnya di ranah seni dan kreativitas.

Pameran Tanpa Sekat: 42 Peserta Disabilitas Turut Serta

Ketua Panitia Canvas of Dreams 2026, Dr. Irwansyah, M.Sn., mengungkapkan bahwa dari total 157 peserta, sebanyak 42 di antaranya adalah anak-anak penyandang disabilitas. Mereka terdiri dari penyandang tunarungu, tunanetra, tunadaksa, dan autisme, yang berasal dari sekolah-sekolah inklusif maupun Sekolah Luar Biasa (SLB). Proses kurasi dilakukan selama tiga bulan dengan melibatkan dewan juri yang beranggotakan seniman profesional, psikolog anak, dan perwakilan komunitas disabilitas. “Kami menilai setiap karya bukan dari siapa pembuatnya, melainkan dari gagasan, orisinalitas, dan pesan yang disampaikan,” ujar Irwansyah. Setiap peserta mendapatkan pendampingan intensif dari 15 fasilitator terlatih yang telah dibekali metode pengajaran seni inklusif.

Apresiasi Penuh dari Menteri Gus Ipul

Sesaat setelah membuka pameran, Menteri Saifullah Yusuf menyusuri setiap sudut ruangan dengan didampingi sejumlah pejabat eselon I Kemensos. Ia tampak terkesima ketika berhenti di depan lukisan berjudul “Langit Tanpa Asap” karya Mutiara (11), siswi tunanetra dari SLB A Yayasan Karya Murni, Medan. Sambil memegang lukisan bertekstur yang sengaja dibuat agar bisa dinikmati secara taktil, Gus Ipul menyampaikan,

“Ini bukti bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Anak-anak ini mampu menginspirasi kita semua. Saya berharap pameran ini tidak hanya menjadi event tahunan, tetapi juga memicu lahirnya komunitas seni inklusif di seluruh Indonesia.”
Menteri juga mengumumkan alokasi dana khusus dari Kementerian Sosial untuk pengadaan alat-alat seni ramah disabilitas di 50 sekolah percontohan di tahun anggaran 2027.

Padat Karya Seni: Dari Pelatihan Guru Hingga Kurikulum

Canvas of Dreams 2026 bukan sekadar pameran dadakan. Kegiatan ini merupakan puncak dari Program Padat Karya Seni yang telah berlangsung sejak awal tahun 2026. Sebanyak 150 guru SD dan SMP di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi telah mengikuti pelatihan intensif bertajuk “Mengajar Seni Tanpa Batas”. Pelatihan yang berlangsung selama 12 minggu tersebut mencakup teknik dasar seni rupa, psikologi perkembangan anak, serta metode komunikasi dengan anak berkebutuhan khusus. Salah satu peserta pelatihan, Ibu Kartini, guru seni di SDN 03 Menteng, mengaku mendapatkan pencerahan.

“Sebelumnya saya ragu bagaimana mengajari anak tunarungu melukis, tapi setelah pelatihan ini saya tahu tekniknya dan lebih percaya diri. Sekarang saya bisa memandu mereka tanpa hambatan,”
tuturnya. Program ini juga menghasilkan modul ajar seni inklusif yang akan didistribusikan ke ribuan sekolah di Indonesia secara bertahap.

Suara Haru Orang Tua dan Peserta

Suasana haru menyelimuti ruang pameran saat sejumlah orang tua peserta penyandang disabilitas menyaksikan karya anak mereka terpajang dengan baik. Rina Marlina (35), ibu dari Fathir (9), penyandang autisme yang melukis “Rumahku di Hutan”, mengaku meneteskan air mata.

“Saya selalu khawatir Fathir tidak bisa seperti anak-anak lain. Tapi hari ini saya melihat dia bisa berprestasi. Pameran ini membuka mata saya bahwa anak istimewa juga punya hak yang sama untuk diakui,”
ucapnya. Sementara itu, Fathir sendiri dengan malu-malu tetapi jelas mengatakan, “Senang bisa lihat lukisanku dipajang. Aku mau jadi pelukis besar!” Para pengunjung pun ramai memberikan apresiasi dan membeli beberapa karya yang dijual untuk amal.

Landasan Hukum dan Komitmen Anggaran

Keberpihakan negara terhadap pendidikan inklusif sesungguhnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam Pasal 10 disebutkan bahwa penyandang disabilitas berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu dan layanan pendidikan inklusif. Kementerian Sosial mencatat, per Juni 2026, terdapat 2,1 juta anak penyandang disabilitas usia sekolah di Indonesia, namun baru sekitar 30 persen yang mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Melalui program Padat Karya Seni dan pameran Canvas of Dreams, Kemensos berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan pendekatan non-formal yang lebih menyentuh. Anggaran yang digelontorkan untuk program ini mencapai Rp4,7 miliar, yang sebagian besar digunakan untuk pelatihan, pengadaan alat, dan beasiswa seni bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Penutup: Mengundang Masyarakat untuk Peduli

Menutup rangkaian acara, Menteri Gus Ipul berpesan agar momentum ini tidak terhenti di sini.

“Kami mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, swasta, hingga masyarakat luas, untuk berkolaborasi dalam memperluas program serupa di seluruh pelosok negeri. Seni adalah alat pemersatu dan pemberdaya. Mari kita gunakan untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif,”
tegasnya. Pameran Canvas of Dreams 2026 akan berlangsung hingga 3 Agustus 2026 dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Masyarakat diharapkan datang dan merasakan langsung energi kreatif dari para calon seniman muda yang luar biasa ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User