Mensos Apresiasi Pameran Seni Inklusif Canvas of Dreams 2026
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya pameran seni rupa bertajuk Canvas of Dreams 2026 yang melibatkan ratusan pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah p...
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya pameran seni rupa bertajuk Canvas of Dreams 2026 yang melibatkan ratusan pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah pertama di Jakarta. Pameran yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026), dinilai menjadi ruang ekspresi yang setara bagi seluruh anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Dalam sambutannya, Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan bahwa kegiatan semacam ini sejalan dengan mandat negara untuk menjamin hak partisipasi dan pengembangan bakat setiap warga negara tanpa terkecuali.
Gelar Karya Ratusan Pelajar dari Berbagai Latar Belakang
Pameran Canvas of Dreams 2026 diikuti oleh 327 siswa dari 42 sekolah di wilayah DKI Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Karya yang dipamerkan mencakup lebih dari 400 lukisan, instalasi seni, serta kolase yang seluruhnya dibuat oleh anak-anak usia 7 hingga 15 tahun. Panitia penyelenggara, yang digawangi oleh Yayasan Lentera Muda dan didukung oleh Kementerian Sosial, secara khusus membuka jalur pendaftaran bagi peserta dari sekolah luar biasa (SLB) dan komunitas inklusi. Tercatat sebanyak 58 peserta penyandang disabilitas terlibat, baik sebagai perupa maupun pemandu pameran.
Ketua Yayasan Lentera Muda, Retno Palupi, dalam laporannya menyebut bahwa tema besar tahun ini adalah “Mimpi dalam Warna”, yang mengajak setiap anak untuk menuangkan cita-cita dan imajinasinya ke atas kanvas tanpa hambatan. “Kami ingin menegaskan bahwa bakat dan kreativitas tidak mengenal batasan fisik maupun mental. Setiap goresan kuas adalah suara yang berharga,” ujarnya di hadapan tamu undangan.
Pesan Inklusivitas dan Pemberdayaan Sosial
Menteri Sosial menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan instrumen pemberdayaan sosial yang konkret. Gus Ipul menyoroti beberapa lukisan yang dibuat oleh anak-anak dengan spektrum autisme, yang menurutnya memiliki kedalaman visual dan keberanian komposisi warna yang luar biasa. “Negara hadir melalui berbagai skema perlindungan dan rehabilitasi sosial, tetapi sesungguhnya pemulihan martabat dan kepercayaan diri seringkali dimulai dari hal yang sederhana, seperti memberi panggung bagi anak-anak ini untuk menunjukkan karyanya,” tegasnya.
“Saya melihat langsung bagaimana mata mereka berbinar ketika karyanya dipajang dan diapresiasi. Ini adalah bentuk pengakuan yang jauh lebih dalam dari sekadar bantuan material. Ini tentang harga diri.”
Gus Ipul juga menambahkan bahwa Kementerian Sosial tengah memperkuat program “Seni untuk Semua”, yang akan diperluas ke 18 provinsi pada tahun anggaran 2027. Program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan kegiatan kesenian ke dalam layanan rehabilitasi sosial bagi anak-anak penyandang disabilitas, anak jalanan, serta anak yang berhadapan dengan hukum. Dalam konteks itu, pameran Canvas of Dreams menjadi salah satu model kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas yang akan direplikasi.
Sinergi Multi-Pihak dan Dukungan Regulasi
Pameran ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili oleh Direktur Sekolah Dasar, Muhammad Hasbi. Ia menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler berbasis seni terbukti meningkatkan kemampuan kognitif dan sosial siswa, terlebih jika dilakukan secara inklusif. Berdasarkan data Riset Pendidikan Nasional 2025, sekolah yang menerapkan pendekatan seni inklusif mencatat peningkatan indeks kebahagiaan siswa hingga 23 persen dibanding sekolah konvensional.
Dari sisi regulasi, payung hukum penyelenggaraan kegiatan serupa telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang mewajibkan pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin aksesibilitas di bidang kebudayaan dan pariwisata. Mensos menambahkan bahwa Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2020 tentang Rencana Aksi Nasional Disabilitas juga mendorong terciptanya ruang publik yang ramah dan memberdayakan.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan penghargaan “Pelukis Cilik Inspiratif” kepada tujuh peserta, tiga di antaranya merupakan penyandang disabilitas fisik dan netra. Salah satu penerima, Naurah (12), siswi dari SLB-A Tan Miyat Bekasi, menyelesaikan lukisan panorama pantai dengan teknik raba dan bantuan tekstur pasir. Lukisannya laku senilai Rp12 juta dalam lelang amal yang hasilnya didonasikan untuk pengembangan sanggar inklusi di daerah terpencil.
Komitmen Keberlanjutan
Menutup kunjungannya, Gus Ipul menandatangani prasasti komitmen bersama sembilan lembaga mitra untuk menyelenggarakan pameran serupa secara berkelanjutan. “Kita ingin Canvas of Dreams bukan sekadar peristiwa tahunan, tetapi gerakan kultural yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap disabilitas,” ujarnya. Ia juga menginstruksikan jajarannya untuk melakukan audit aksesibilitas di seluruh balai rehabilitasi sosial milik kementerian agar mampu menggelar kegiatan kesenian yang setara.
Pameran yang berlangsung hingga 2 Agustus 2026 ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk dan menyediakan alat bantu dengar, pemandu bahasa isyarat, serta jalur khusus kursi roda. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan para seniman muda di sesi “Meet the Artist” yang dijadwalkan setiap akhir pekan. Dengan semangat inklusivitas, Canvas of Dreams 2026 membuktikan bahwa mimpi tidak memandang perbedaan, melainkan tumbuh dalam kebersamaan.
Comments (0)