Bogor – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa para relawan kebencanaan di Indonesia perlu menjadikan Jepang sebagai rujukan utama dalam mempelajari strategi penanggulangan bencana. Penegasan itu ia sampaikan saat membuka Pelatihan Relawan Tanggap Bencana “Sigap Bangsa” yang berlangsung di kawasan Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Di hadapan ratusan peserta pelatihan, Muhaimin menyatakan bahwa kemiripan kondisi geologis antara Indonesia dan Jepang menjadikan negara tersebut sebagai laboratorium hidup yang relevan untuk dipelajari. “Kita tidak perlu ragu untuk melihat langsung bagaimana Jepang membangun kultur siaga bencana. Negeri itu berdiri di atas pertemuan lempeng yang sama aktifnya, tetapi mampu menekan angka korban jiwa secara signifikan melalui pendekatan yang sistematis dan disiplin kolektif,” ujarnya.
Urgensi Kesiapsiagaan di Tengah Cincin Api
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 3.200 kejadian bencana yang meliputi gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, dan tanah longsor. Posisi geografis di antara tiga lempeng tektonik aktif—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—serta keberadaan 127 gunung api aktif menempatkan seluruh wilayah Tanah Air dalam bayang-bayang ancaman yang nyaris konstan. Data tersebut menegaskan bahwa risiko tidak dapat dihilangkan, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui investasi serius pada kapasitas sumber daya manusia, terutama di level komunitas dan relawan.
Pemerintah, melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, sebenarnya telah meletakkan fondasi bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Namun, menurut Muhaimin, kesenjangan antara kerangka hukum dan implementasi di lapangan masih menganga lebar. “Regulasi kita sudah cukup maju. Tetapi tanpa kesiapsiagaan teknis dan mental yang mumpuni, regulasi tidak akan menyelamatkan nyawa saat gempa mengguncang atau air bah datang secara tiba-tiba,” tegasnya.
Belajar dari Sistem Mitigasi Jepang
Jepang telah lama diakui sebagai negara dengan sistem mitigasi bencana paling matang di dunia. Negeri Sakura itu secara rutin menggelar latihan evakuasi massal yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak sekolah hingga pekerja sektor swasta, pada hari dan jam yang telah ditetapkan dalam kalender nasional. Infrastruktur peringatan dini mereka terintegrasi langsung ke telepon seluler warga, sementara bangunan tahan gempa menjadi standar wajib yang diatur ketat dalam kode konstruksi. Tidak hanya itu, pendidikan pengurangan risiko bencana telah menjadi bagian dari kurikulum wajib sejak jenjang pendidikan dasar.
Muhaimin meminta relawan untuk tidak sekadar mempelajari aspek teknis, tetapi juga menyerap nilai budaya yang melandasinya. “Ketangguhan Jepang bukan semata-mata karena teknologinya, melainkan karena kesadaran kolektif yang telah mengakar selama puluhan tahun. Di sana, warga tidak panik saat sirine berbunyi. Mereka tahu harus ke mana, apa yang harus dibawa, dan siapa yang harus dibantu. Pola pikir inilah yang harus kita transplantasikan ke komunitas-komunitas tangguh bencana di Indonesia,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga merujuk pada pengalaman Aceh pasca-tsunami 2004 yang mendapat banyak bantuan teknis dari Jepang. Pelajaran dari masa rehabilitasi itu, katanya, menunjukkan bahwa transfer pengetahuan kebencanaan lintas negara memang efektif jika dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan. Program-program kerja sama seperti pembangunan escape building dan pemasangan sirine peringatan tsunami di sejumlah titik rawan merupakan contoh nyata yang dapat direplikasi lebih luas melalui jejaring relawan.
Arahan Strategis untuk Relawan Sigap Bangsa
Pelatihan “Sigap Bangsa” sendiri merupakan bagian dari rangkaian program Penguatan Kapasitas Relawan Nasional yang dikoordinasikan oleh Kemenko PM bersama BNPB dan kementerian terkait lainnya. Pada gelombang pertama tahun 2026, pelatihan ini menargetkan 5.000 relawan dari 34 provinsi dengan modul yang meliputi evakuasi korban, pertolongan pertama, penanganan trauma psikososial, hingga logistik darurat. Muhaimin menginstruksikan agar kurikulum tersebut segera diperkaya dengan studi kasus dan praktik terbaik dari Jepang, termasuk kemungkinan pengiriman delegasi relawan untuk mengikuti pelatihan langsung di pusat-pusat simulasi bencana di Kobe dan Tokyo.
“Saya ingin para relawan tidak hanya terampil membawa tandu atau mendirikan tenda pengungsian. Mereka harus mampu membaca ancaman, mendidik warga di lingkungan masing-masing, dan menjadi motor penggerak perencanaan kontingensi berbasis komunitas. Untuk mencapai level itu, kita harus banyak belajar dari Jepang,” ujarnya seraya menambahkan bahwa pemerintah akan mendorong skema pendanaan hibah dari lembaga kerja sama internasional Jepang, Japan International Cooperation Agency (JICA), guna mendukung program pertukaran relawan.
Dalam arahannya, Muhaimin juga menyoroti pentingnya membangun jaringan informasi cepat antardaerah yang memungkinkan relawan saling berbagi data pra-bencana, seperti tinggi muka air sungai atau pergerakan tanah. Ia meyakini bahwa teknologi sederhana yang dioperasikan oleh warga terlatih dapat menjadi sistem peringatan dini yang jauh lebih responsif dibandingkan infrastruktur terpusat yang kerap terkendala birokrasi. Di titik ini, pengalaman Jepang dalam memberdayakan jishubo—organisasi sukarelawan penanggulangan bencana berbasis lingkungan—menjadi model yang ingin ia kontekstualisasikan ke dalam struktur Rukun Tetangga dan Rukun Warga di Indonesia.
Menutup sambutannya, Muhaimin Iskandar menekankan bahwa percepatan pembangunan kapasitas relawan tidak boleh ditunda, mengingat siklus bencana besar yang kerap berulang dalam periode tertentu. “Jangan menunggu bencana datang untuk menyadari pentingnya kesiapsiagaan. Saat tanah masih tenang, di situlah waktu yang tepat untuk berlatih. Dan Jepang adalah guru yang telah membuktikan bahwa latihan yang serius mampu menyelamatkan ribuan nyawa,” pungkasnya.
Comments (0)