Megawati: Gerakan Asia-Afrika Relevan Jawab Krisis Geopolitik Global

JAKARTA — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa semangat dan prinsip Gerakan Asia Afrika ...

Megawati: Gerakan Asia-Afrika Relevan Jawab Krisis Geopolitik Global

JAKARTA — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa semangat dan prinsip Gerakan Asia Afrika yang lahir dari Konferensi Bandung 1955 tetap memiliki signifikansi strategis dalam merespons dinamika geopolitik abad ke-21. Pernyataan tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” yang digelar di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 10 Mei 2025. Hadir dalam forum tersebut sejumlah kader partai, akademisi, dan diplomat negara-negara sahabat.

Ancaman Disintegrasi Tatanan Dunia

Dalam pemaparannya, Megawati menyoroti fenomena perang dagang yang kian meruncing antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta perang berkepanjangan di Ukraina dan Palestina, sebagai bukti nyata bahwa tata kelola global multilateral tengah berada di bawah tekanan. Ia menekankan bahwa negara-negara berkembang, terutama di kawasan Asia dan Afrika, kembali menjadi arena persaingan kuasa besar yang rentan memicu konflik terbuka.

"Fenomena ini bukanlah cerita baru. Dulu, di era Perang Dingin, kita juga berdiri di persimpangan yang serupa. Dan di situlah Bung Karno, bersama para pemimpin Asia Afrika lainnya, melahirkan Dasasila Bandung—sebuah pedoman untuk tidak berpihak pada blok manapun dan mengutamakan kemandirian politik," ujar Megawati mengutip pidato Presiden Soekarno pada Konferensi Asia Afrika 1955.

Dasasila Bandung sebagai Kompas Geopolitik

Megawati menjelaskan bahwa 10 prinsip Dasasila Bandung yang mencakup penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai, masih menjadi fondasi yang kokoh untuk merespons krisis di Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea, dan kudeta-kudeta konstitusional di Afrika. Ia menekankan, alih-alih terjebak dalam aliansi militer yang dipaksakan, negara-negara Asia Afrika seharusnya memperkuat mekanisme penyelesaian konflik berbasis dialog.

"Kita sudah punya resepnya. Kenapa kita harus meminjam resep dari luar? Dasasila Bandung adalah warisan emas yang menawarkan jalan tengah—bukan netral pasif, tetapi netral responsif yang menolak segala bentuk hegemoni," tegas Megawati dalam forum tersebut.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu juga menekankan bahwa solidaritas Asia Afrika harus diwujudkan dalam bentuk kerja sama konkret, mulai dari ketahanan pangan, transisi energi, hingga pembangunan kapasitas militer yang defensif. Ia meminta agar Konferensi Asia Afrika yang akan datang dapat menghasilkan konsensus baru mengenai strategi ekonomi kolektif guna mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan global yang didominasi negara-negara Utara.

Komitmen PDI Perjuangan terhadap Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Di hadapan kader partai, Megawati menegaskan bahwa PDI Perjuangan akan terus mengawal implementasi politik luar negeri bebas aktif yang diamanatkan oleh Konstitusi. Ia menyayangkan adanya tendensi "ikut-ikutan" dalam sejumlah kebijakan luar negeri pemerintah yang dinilainya kurang mencerminkan kemandirian. Dalam konteks inilah, Sekolah Partai diharapkan menjadi pusat inkubasi gagasan-gagasan strategis yang menghubungkan kader dengan jaringan progresif global.

"Partai ini lahir dari rahim sejarah pergerakan bangsa. Maka, tidak boleh ada satu langkah pun yang memutus hubungan kita dengan visi para pendiri republik, termasuk dalam hal hubungan internasional. Sebab kemerdekaan sejati adalah ketika kita bebas menentukan sikap tanpa tekanan apapun," kata Megawati.

Seminar ini juga diisi dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, guru besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Dr. Evi Fitriani, serta Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia. Para panelis sepakat bahwa Gerakan Asia Afrika memerlukan revitalisasi melalui diplomasi publik dan penguatan South-South Cooperation.

Di akhir pidatonya, Megawati mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak melupakan sejarah serta menjadikan nilai-nilai Asia Afrika sebagai kompas moral dan politik dalam menyikapi krisis global. Seminar ini pun ditutup dengan pembacaan kembali Deklarasi Bandung oleh para peserta sebagai simbol komitmen terhadap perdamaian dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User