Manado — Dokter PPDS RSUP Kandou Meninggal di Rumah Orang Tua
Manado — Seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, dr. Adrian (28), ditemu
Manado — Seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, dr. Adrian (28), ditemukan meninggal dunia di kediaman orang tuanya di Kelurahan Malalayang Satu Barat, Kecamatan Malalayang, Kota Manado, pada Selasa (7/1/2025) pagi. Jenazah almarhum kemudian dibawa ke Morowali, Sulawesi Tengah, untuk dimakamkan di kampung halaman keluarga.
Kronologi Penemuan Jenazah
Peristiwa bermula sekitar pukul 06.30 WITA, saat ibu korban, Ny. Maria (56), berniat membangunkan putranya untuk sarapan. Ketika memasuki kamar, ia mendapati dr. Adrian terbaring tak bergerak di tempat tidur. Setelah berupaya membangunkan tanpa respons, keluarga segera menghubungi layanan darurat.
- Pukul 06.30 WITA — Ibu korban menemukan dr. Adrian tidak sadarkan diri di kamarnya. Keluarga langsung menelepon ambulans RSUP Kandou.
- Pukul 06.52 WITA — Tim medis dari IGD RSUP Kandou tiba di lokasi dan melakukan pemeriksaan awal. Dokter yang bertugas menyatakan korban sudah dalam kondisi meninggal dunia, diperkirakan beberapa jam sebelumnya.
- Pukul 07.15 WITA — Tim Inafis Polresta Manado tiba di rumah orang tua korban untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Identitas korban tercatat sebagai dr. Adrian, lahir 10 Maret 1996, residen PPDS tahun ketiga di Bagian Ilmu Bedah RSUP Kandou.
- Pukul 08.45 WITA — Pemeriksaan luar oleh dokter forensik RSUP Kandou tidak menemukan tanda-tanda kekerasan. Tidak ada luka tusuk, bekas jeratan, maupun memar yang mencurigakan.
Proses Evakuasi dan Dugaan Penyebab
Kapolresta Manado, Kombes Pol. Julianto Sirait, melalui Kasat Reskrim AKP Ronald Rantung, menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan indikasi tindak pidana. “Dari olah TKP dan keterangan saksi, kuat dugaan korban meninggal akibat serangan jantung mendadak atau gangguan kesehatan akut lainnya. Namun, untuk memastikan penyebab pasti kematian, kami masih menunggu hasil pemeriksaan toksikologi jika keluarga menghendaki autopsi,” ujarnya di lokasi.
Pihak keluarga, melalui adik korban, Ronald Adrian (24), mengungkapkan bahwa dr. Adrian tidak memiliki riwayat penyakit kronis yang diketahui. “Kakak sempat mengeluh kelelahan setelah jaga malam panjang di rumah sakit dua hari sebelumnya. Tapi kami pikir hanya kelelahan biasa,” kata Ronald dengan suara bergetar. Ia menambahkan, pada Senin (6/1/2025) malam, korban masih sempat makan malam bersama keluarga dan beristirahat lebih awal.
Kronologi medis yang tercatat di RSUP Kandou menunjukkan dr. Adrian menjalani shift jaga malam selama 30 jam berturut-turut pada Sabtu-Minggu (4-5/1/2025), sebuah praktik yang dikritisi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terkait beban kerja residen. Namun, pihak rumah sakit belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kelelahan sebagai faktor penyebab kematian.
Pemulangan Jenazah ke Morowali
Setelah koordinasi dengan pihak kepolisian dan rumah sakit, keluarga memutuskan untuk tidak melakukan autopsi dan segera membawa jenazah ke Morowali, kampung halaman ayah korban, Alm. Bpk. Hendrik Adrian. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan adat dan keinginan almarhum semasa hidup. “Kami ingin kakak dimakamkan di samping makam ayah kami di Desa Bungku,” jelas Ronald.
Jenazah diberangkatkan dari rumah duka pada pukul 11.30 WITA menggunakan ambulans milik RSUP Kandou. Rombongan keluarga mengambil rute darat Manado-Makassar via Trans-Sulawesi, lalu menyeberang menggunakan kapal ferry menuju Morowali. Total perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar 20 jam. Pihak rumah sakit menugaskan dua perawat pendamping untuk memastikan penanganan jenazah selama perjalanan jauh tersebut.
Humas RSUP Kandou, dr. Grace Sumampow, menyampaikan belasungkawa dan mengonfirmasi bahwa dr. Adrian adalah residen berprestasi yang dikenal disiplin. “Kami kehilangan salah satu dokter muda terbaik. Manajemen akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait beban kerja residen pascakejadian ini,” ujarnya.
Kepergian dr. Adrian meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kolega. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung di Morowali pada Rabu (8/1/2025) sore, setelah jenazah tiba dan disemayamkan sejenak di rumah keluarga besar.
Comments (0)