Lestari Moerdijat Dorong Permudah Akses Bacaan di Masyarakat
Jakarta — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa ketersediaan akses terhadap bahan bacaan harus diiringi dengan langkah yang bersifat massif. Upaya ini dinilai krusial agar akses yan
Jakarta — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa ketersediaan akses terhadap bahan bacaan harus diiringi dengan langkah yang bersifat massif. Upaya ini dinilai krusial agar akses yang sudah terbangun dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat sebagai bagian dari strategi peningkatan literasi nasional.
"Pemanfaatan secara maksimal sumber daya literasi yang ada harus segera direalisasikan dan mampu ikut mendorong minat baca masyarakat," ujar Lestari dalam keterangan tertulis yang diterima media kami, Sabtu (4/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang pada Rabu (1/7) meresmikan integrasi Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) dengan Senayan Library Management System (SLiMS). Integrasi kedua platform ini diharapkan mampu memperluas jangkauan akses buku dan materi bacaan digital ke berbagai lapisan masyarakat.
Pemanfaatan secara maksimal sumber daya literasi yang ada harus segera direalisasikan dan mampu ikut mendorong minat baca masyarakat.
Lebih lanjut, Lestari menyoroti bahwa persoalan literasi di Indonesia tidak bisa hanya diselesaikan dengan menyediakan infrastruktur atau platform digital semata. Dibutuhkan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, institusi pendidikan, hingga komunitas pegiat literasi di tingkat akar rumput.
Data dari berbagai survei internasional kerap menempatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia pada posisi yang masih memerlukan perhatian serius. Kondisi ini, menurut Lestari, harus menjadi pemantik bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja lebih keras dalam membangun budaya membaca sejak usia dini.
Integrasi SIBI dan SLiMS sendiri membuka peluang bagi perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, hingga taman bacaan masyarakat untuk mengakses koleksi buku digital secara lebih mudah dan terstruktur. Sistem ini memungkinkan pengelola perpustakaan melakukan katalogisasi, sirkulasi, hingga pelaporan secara efisien dalam satu ekosistem terpadu.
Lestari berharap momentum peluncuran integrasi sistem ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi titik awal transformasi layanan literasi yang inklusif. Ia juga mendorong agar pemerintah daerah proaktif mengadopsi sistem serupa dan melakukan pendampingan teknis bagi para pengelola perpustakaan di wilayahnya masing-masing.
Comments (0)