LCC Empat Pilar MPR Dorong Semangat Persatuan di Papua Barat Daya
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Robert Joppy Kardinal, secara resmi membuka ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR di wilayah Papua Barat Daya, Jumat (18/7/20...
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Robert Joppy Kardinal, secara resmi membuka ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR di wilayah Papua Barat Daya, Jumat (18/7/2026). Kegiatan yang digelar di aula utama Kantor Gubernur Papua Barat Daya itu diikuti oleh puluhan pelajar tingkat sekolah menengah atas dari lima kabupaten/kota di provinsi tersebut. Dalam sambutannya, legislator Fraksi Partai Golkar itu menegaskan bahwa penyelenggaraan lomba ini bukan sekadar adu pengetahuan, melainkan ikhtiar strategis untuk menanamkan nilai-nilai fundamental berbangsa dan bernegara kepada generasi muda di ujung timur Indonesia.
Menyemai Wawasan Kebangsaan Melalui Empat Pilar
Kardinal menyampaikan bahwa Empat Pilar MPR—Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika—adalah fondasi ideologis yang tak dapat ditawar. “Di tengah tantangan global yang kian kompleks, pemahaman yang utuh terhadap Empat Pilar menjadi vaksin ideologis bagi anak-anak kita. Mereka harus tahu, mengapa Indonesia ada, dan untuk apa kita bersatu,” ujarnya di hadapan peserta, guru pendamping, dan pejabat daerah yang hadir. Ia menekankan bahwa Papua Barat Daya, sebagai provinsi termuda hasil pemekaran pada 2022, memerlukan penguatan identitas kebangsaan yang inklusif agar seluruh warganya merasa sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI. LCC ini, menurutnya, menjadi wadah untuk mendorong pelajar menggali lebih dalam esensi dari setiap pilar dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi Pelibatan Generasi Muda
Kompetisi yang berlangsung selama dua hari itu dirancang dengan format yang menekankan pemahaman konseptual dan penerapan praktis. Peserta diuji melalui babak penyisihan, semi final, dan final yang mencakup soal-soal berbasis studi kasus, sehingga para pelajar tidak hanya menghafal pasal-pasal, tetapi juga mampu menghubungkan Pancasila dan UUD 1945 dengan persoalan aktual seperti intoleransi, radikalisme, dan disintegrasi. Kardinal yang juga duduk di Komisi X DPR RI ini mengapresiasi antusiasme para peserta. “Saya melihat semangat yang luar biasa dari adik-adik di sini. Ini pertanda bahwa benih-benih kebangsaan masih subur di tanah Papua Barat Daya,” katanya. Data dari panitia menunjukkan bahwa sebanyak 75 tim dari 25 sekolah ikut serta, naik 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lomba ini juga menjadi bagian dari program nasional MPR yang menargetkan penyebaran pemahaman Empat Pilar di seluruh provinsi, khususnya di daerah-daerah yang tingkat literasi politiknya masih perlu ditingkatkan.
Persatuan dalam Keberagaman sebagai Kunci
Anggota MPR itu secara khusus menyoroti pilar Bhinneka Tunggal Ika. Ia mengingatkan bahwa keragaman suku, bahasa, dan budaya di Papua Barat Daya adalah cerminan Indonesia mini. “Dari sini kita bisa belajar bahwa perbedaan itu kekuatan, bukan ancaman. Lomba ini mengajarkan bahwa kita semua terikat oleh satu nasib yang sama sebagai bangsa Indonesia,” ucapnya. Ia juga menyinggung pentingnya peran tokoh adat, guru, dan orang tua dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kearifan lokal. Kantor Gubernur Papua Barat Daya menyatakan komitmennya untuk memasukkan materi Empat Pilar ke dalam kurikulum muatan lokal guna memperkuat dampak dari kegiatan ini. Acara pembukaan LCC diakhiri dengan pembacaan ikrar kebangsaan oleh seluruh peserta yang dipandu oleh Kardinal, menandai dimulainya rangkaian lomba yang akan melahirkan duta-duta muda pemersatu bangsa dari Bumi Cenderawasih. Pengumuman pemenang dijadwalkan pada Sabtu (19/7/2026) dan akan dihadiri langsung oleh pimpinan MPR RI.
Comments (0)