Sep 16, 2026
Nusa Tenggara Timur

KUPANG — Keluarga Wili Mbuik Minta Jaminan Keamanan Warga NTT di Papua

Suasana duka yang mendalam menyelimuti kediaman keluarga Wili Mbuik saat jenazah korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Jay

KUPANG — Keluarga Wili Mbuik Minta Jaminan Keamanan Warga NTT di Papua

Suasana duka yang mendalam menyelimuti kediaman keluarga Wili Mbuik saat jenazah korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, akhirnya tiba di tanah kelahirannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tangis histeris sanak saudara pecah seketika saat peti kayu yang diselubungi kain duka diturunkan dari mobil jenazah. Tragedi berdarah yang merenggut nyawa pekerja asal NTT ini kembali membuka luka lama terkait rentannya jaminan keselamatan bagi warga sipil dan perantau yang sedang mengadu nasib di tanah Papua.

Insiden tragis yang menimpa Wili Mbuik terjadi di tengah ketidakpastian situasi keamanan yang terus bergejolak di wilayah pegunungan Papua. Korban, yang selama ini bekerja keras demi menopang perekonomian keluarganya di Kupang, harus pulang dalam kondisi sudah tak bernyawa. Kedatangan jenazah di Kota Kupang disambut langsung oleh keluarga besar beserta perwakilan paguyuban masyarakat NTT yang merasa sangat terpukul atas aksi kekerasan tanpa perikemanusiaan yang terus berulang terhadap warga sipil tidak berdosa.

Desakan Jaminan Keamanan bagi Warga Perantau

Di tengah kepedihan yang mendalam, pihak keluarga menyampaikan tuntutan terbuka kepada pemerintah pusat dan aparat penegak hukum. Mereka menilai kekerasan terhadap warga sipil asal NTT di wilayah konflik Papua sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian khusus dari negara.

"Kami keluarga besar sangat kehilangan. Kami meminta dengan tegas kepada Presiden, Kapolri, dan Panglima TNI untuk memberikan jaminan keamanan secara nyata bagi saudara-saudara kami asal NTT yang masih berjuang mencari nafkah di tanah Papua," tegas perwakilan keluarga korban di rumah duka.

Ribuan warga Nusa Tenggara Timur saat ini tersebar di pelbagai pelosok Papua, melakoni berbagai profesi mulai dari pekerja proyek konstruksi, pedagang logistik, hingga tenaga medis dan pengajar. Kerentanan yang dihadapi warga perantau di kawasan rawan konflik seperti Jayawijaya, Nduga, hingga Intan Jaya kian memprihatinkan. Tanpa jaminan perlindungan yang solid dari aparat TNI-Polri, aksi teror KKB berpotensi terus menelan korban jiwa dari kalangan sipil yang sama sekali tidak terlibat dalam konflik politik maupun militer.

Pemetaan Kerentanan Sipil di Wilayah Konflik

Aksi penembakan terhadap warga sipil oleh KKB di wilayah Papua Pegunungan menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan sepanjang beberapa tahun terakhir. Mayoritas korban merupakan perantau yang bekerja di sektor informal dan pembangunan proyek infrastruktur vital. Berikut adalah pemetaan situasi kerentanan pekerja perantau di wilayah rawan:

Wilayah Rawan Sektor Pekerjaan Domestik Tuntutan Perlindungan Sipil
Kabupaten Jayawijaya Pekerja Konstruksi & Perdagangan Penjagaan Terpadu Pos Keamanan TNI-Polri
Kabupaten Nduga Pekerja Pembangunan Jalan & Jembatan Pengawalan Melekat & Operasi Keamanan Terukur
Kabupaten Intan Jaya Transportasi Lokal & Pedagang Kelontong Patroli Keamanan Intensif di Pusat Keramaian

Harapan Penegakan Hukum dan Keadilan

Pemerintah Provinsi NTT bersama tokoh masyarakat mengimbau seluruh perantau NTT di Papua untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus berkoordinasi erat dengan organisasi kerukunan keluarga setempat. Namun, langkah preventif berupa imbauan semata dinilai tidak cukup oleh pihak keluarga. Penegakan hukum yang tegas dan terukur serta penangkapan para pelaku penembakan menjadi harga mati yang terus dituntut demi menuntaskan kasus ini secara adil.

Pihak keluarga menegaskan bahwa gugurnya Wili Mbuik tidak boleh hanya berakhir sebagai deretan angka dalam statistik kekerasan di Papua. Harus ada tindakan konkrit dari aparat keamanan untuk memburu dan menindak tegas kelompok separatis yang bertindak semena-mena terhadap rakyat kecil.

"Kami tidak ingin ada Wili Mbuik lain yang harus dipulangkan dalam peti mati hanya karena negara terlambat hadir melindungi rakyatnya yang sedang mencari makan," pungkas salah seorang kerabat korban dengan nada emosional saat prosesi persemayaman berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User