NEW DELHI — Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap sentralitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) saat menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India. Di hadapan para pemimpin dunia, Manila menekankan bahwa stabilitas kawasan Asia Tenggara dan kepatuhan terhadap hukum internasional tetap menjadi prioritas mutlak diplomasi luar negeri Filipina.
Kehadiran Filipina dalam forum multilateral ini mempertegas peran aktif negara-negara Asia Tenggara dalam menjembatani dialog global di tengah polarisasi geopolitik dunia yang semakin menajam.
Kronologi Diplomasi Filipina di Forum KTT BRICS
Dalam agenda pertemuan tingkat tinggi tersebut, delegasi Filipina memaparkan sejumlah poin strategis terkait posisi geopolitik dan geoekonomi kawasan. Berikut adalah rangkaian agenda serta pernyataan utama yang disampaikan:
- Sesi Pembukaan dan Dialog Kemitraan: Presiden Marcos Jr. menghadiri sesi dialog *outreach* BRICS yang melibatkan negara-negara berkembang dan mitra strategis global, menyuarakan pentingnya tatanan dunia yang inklusif.
- Penyampaian Pernyataan Resmi: Manila secara terbuka menyerukan penguatan persatuan internal ASEAN sebagai fondasi utama menjaga perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.
- Pertemuan Bilateral Terbatas: Delegasi Filipina mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pemimpin negara berkembang guna membahas ketahanan pangan, energi, dan diversifikasi rantai pasok.
- Penegasan Supremasi Hukum: Menutup partisipasinya, Filipina menggarisbawahi pentingnya penyelesaian sengketa secara damai berdasarkan hukum internasional yang diakui universal.
Sentralitas ASEAN dan Kepatuhan pada Hukum Internasional
Di tengah dinamika pergeseran kekuatan ekonomi dunia, Presiden Marcos Jr. menggarisbawahi bahwa forum-forum ekonomi seperti BRICS harus melengkapi kerangka kerja multilateral yang sudah ada, bukan justru menciptakan perpecahan baru.
"Filipina percaya bahwa dialog berkelanjutan, persatuan ASEAN, serta kepatuhan mutlak terhadap hukum internasional adalah pilar utama dalam menciptakan stabilitas dan kemakmuran bersama," tegas Presiden Ferdinand Marcos Jr. dalam pidatonya.
Filipina juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982) sebagai instrumen vital dalam menjaga keamanan maritim dan kebebasan navigasi, khususnya di kawasan perairan Asia Tenggara yang rentan terhadap eskalasi konflik.
Dampak Ekonomi dan Posisi Strategis Kawasan
Keterlibatan Filipina dalam KTT BRICS di New Delhi membawa sejumlah implikasi penting bagi arsitektur kawasan Asia Tenggara:
- Keseimbangan Diplomasi: Menunjukkan kemampuan ASEAN untuk tetap independen dan tidak memihak pada satu blok kekuatan tertentu.
- Peluang Ekonomi Baru: Membuka akses perluasan pasar ekspor, investasi infrastruktur, dan kerja sama teknologi hijau bagi negara-negara berkembang.
- Ketahanan Rantai Pasok: Memperkuat posisi negara berkembang dalam perundingan perdagangan internasional yang berkeadilan.
Melalui langkah diplomasi ini, Manila berupaya memastikan bahwa suara negara-negara Asia Tenggara tetap diperhitungkan dalam pengambilan keputusan global, sembari terus menjaga keutuhan integrasi ekonomi di kawasan ASEAN.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyerukan penguatan persatuan ASEAN, dialog berkelanjutan, dan kepatuhan terhadap hukum internasional seperti UNCLOS dalam KTT BRICS di India. Langkah ini mempertegas diplomasi independen Asia Tenggara di panggung global. Baca selengkapnya di Apaberita.com
Comments (0)