Kronologi Sutrimo Ditemukan Meninggal di Depan Klinik Mordent

Jakarta – Jasad seorang pria bernama Sutrimo ditemukan tak bernyawa di pelataran Klinik Mordent, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin dini hari (27/7/2026). Penemuan yang menggegerkan...

Kronologi Sutrimo Ditemukan Meninggal di Depan Klinik Mordent

Jakarta – Jasad seorang pria bernama Sutrimo ditemukan tak bernyawa di pelataran Klinik Mordent, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin dini hari (27/7/2026). Penemuan yang menggegerkan warga sekitar itu kini tengah diselidiki secara intensif oleh jajaran Polres Metro Jakarta Selatan dan tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri.

Kepolisian belum menetapkan penyebab pasti kematian korban. Meski demikian, keterangan para saksi di lokasi kejadian mulai mengungkap rangkaian detik-detik terakhir sebelum Sutrimo meregang nyawa. Aparat bergerak cepat mengamankan tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan bukti, dan memeriksa sejumlah warga yang berada di sekitar klinik milik dokter gigi tersebut pada jam-jam rawan.

Kesaksian di Halaman Klinik

Seorang saksi mata, Santoso (52), yang berprofesi sebagai petugas keamanan lingkungan, menuturkan bahwa dirinya sedang melakukan patroli rutin saat mendapati korban. Ia mengaku melihat seorang pria berjalan dengan langkah tidak stabil sebelum akhirnya ambruk.

“Saya sedang berkeliling di sekitar pertigaan dekat klinik sekitar pukul 03.00 WIB. Tiba-tiba saya melihat seorang laki-laki dewasa berjalan sempoyongan sambil memegangi dada. Tidak lama kemudian, dia terjatuh di depan pintu klinik dan langsung tidak bergerak sama sekali,” ujar Santoso saat dimintai keterangan di lokasi.

Santoso segera mendekat dan mendapati pria tersebut sudah tidak menunjukkan respons. Ia lantas berteriak meminta tolong kepada warga sekitar dan menghubungi Polsek Kebayoran Baru. Tak berselang lama, personel kepolisian tiba dan langsung memasang garis polisi untuk sterilisasi area.

Saksi lainnya, Ratih (34), pemilik warung kelontong yang berjarak sekitar 20 meter dari klinik, membenarkan bahwa ia sempat mendengar langkah kaki dan suara mengerang beberapa saat sebelum keributan terjadi. “Saya tidak berani keluar karena sudah larut malam. Setelah ada teriakan pak hansip, barulah saya berani melihat,” katanya.

Olah TKP dan Identifikasi Korban

Tim Inafis Polres Metro Jakarta Selatan bersama Puslabfor Polri langsung menggelar olah TKP begitu hari mulai terang. Berdasarkan pantauan di lokasi, petugas tampak mengumpulkan sejumlah barang bukti dari sekitar tubuh korban, termasuk sebuah dompet berisi kartu tanda penduduk (KTP) atas nama Sutrimo, sebuah ponsel, serta sebungkus obat yang diduga milik korban.

Identitas korban berhasil dikonfirmasi dari KTP yang ditemukan. Sutrimo (45) tercatat sebagai warga Kelurahan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Sejumlah kerabat korban telah dihubungi dan datang ke Rumah Sakit Fatmawati tempat jenazah dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pihak keluarga menyebut Sutrimo bekerja sebagai buruh bangunan harian dan telah lama mengeluhkan gejala nyeri dada.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Raden Bagoes Wibisono, di lokasi kejadian, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah kematian Sutrimo disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau tindak pidana.

“Kami masih menunggu hasil lengkap pemeriksaan forensik dan visum dari rumah sakit. Segala kemungkinan masih terbuka. Namun, sejauh ini dari hasil pemeriksaan awal di TKP tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang signifikan pada tubuh korban,” tegas AKBP Raden Bagoes.

Ia menambahkan, timnya telah mengamankan rekaman CCTV dari beberapa bangunan di sekitar lokasi. Rekaman tersebut sedang dianalisis di Laboratorium Forensik Digital Polda Metro Jaya untuk melacak pergerakan korban beberapa jam sebelum kejadian. “Kami juga akan memeriksa rekam medis korban untuk mengetahui riwayat penyakit yang bersangkutan. Ini penting untuk mempersempit arah penyelidikan,” imbuhnya.

Klinik Tutup dan Penyelidikan Berlanjut

Klinik Mordent sendiri dalam kondisi tutup saat peristiwa terjadi. Berdasarkan keterangan pengelola, klinik tersebut beroperasi khusus praktik dokter gigi pada jam kerja normal, yakni pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, dan tidak memiliki layanan gawat darurat 24 jam. Pihak klinik telah menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada kepolisian.

Salah seorang asisten dokter di klinik tersebut, yang enggan dikutip namanya, mengaku terkejut mendengar kabar adanya jenazah di halaman klinik. “Kami tidak tahu apa-apa. Pagi hari saat akan buka praktik, tiba-tiba area depan sudah dipasangi garis polisi,” ucapnya singkat.

Kepolisian juga telah meminta keterangan dari pihak keluarga korban. Adik kandung Sutrimo, Mulyani (40), menyatakan bahwa kakaknya memang sering mengeluh kelelahan dan sempat berobat ke Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan dua pekan sebelumnya. “Dokter mendiagnosis beliau punya tekanan darah tinggi dan diminta istirahat. Tapi sebagai buruh lepas, beliau tetap bekerja,” tutur Mulyani sambil terisak.

Hingga berita ini disusun, aparat kepolisian masih melanjutkan pendalaman dan akan menggelar gelar perkara internal begitu seluruh hasil uji laboratorium serta visum et repertum diterima secara lengkap. Masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi dan mempercayakan proses hukum sepenuhnya kepada pihak berwenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User