Sep 17, 2026
Hukum

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Tembus 100 Dolar AS

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam menyusul meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kontrak minyak mentah jenis Brent menembus

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Tembus 100 Dolar AS

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam menyusul meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kontrak minyak mentah jenis Brent menembus level psikologis 100 dolar AS per barel, didorong oleh kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global serta memuncaknya konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki bulan ketujuh.

Pada perdagangan pasar komoditas terkini, minyak mentah Brent mencatat lonjakan lebih dari satu persen hingga menyentuh level tertinggi di angka $100,19 per barel, level tertinggi sejak Juli lalu. Di saat yang sama, patokan minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), terus melaju kencang mendekati ambang batas $95 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni.

Eskalasi Militer dan Ancaman Jalur Distribusi Minyak

Ketegangan antara Washington dan Teheran kian buntu tanpa indikasi de-eskalasi yang jelas. Pasukan Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania, merespons aksi balasan militer Amerika Serikat terhadap kapal-kapal Iran di kawasan Selat Hormuz sebelumnya.

Jalur maritim strategis di Selat Hormuz—yang menjadi urat nadi perlintasan minyak dan gas dunia—semakin terancam setelah Teheran memperingatkan akan menargetkan kapal tanker minyak di perairan lepas pantai Kuwait dan Bahrain. Kantor berita resmi Iran, IRNA, bahkan mendesak seluruh awak kapal untuk segera meninggalkan armada mereka.

Kondisi jalur pasokan kian diperparah oleh saling serang antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman. Milisi Houthi menargetkan sejumlah fasilitas kilang minyak dalam operasi militer menuju titik sempit (chokepoint) Bab al-Mandab di Laut Merah, yang selama ini menjadi jalur alternatif pengiriman minyak mentah Saudi saat Selat Hormuz mengalami hambatan.

"Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah mempertahankan kekhawatiran besar terhadap gangguan pasokan minyak, dan hal itu pada gilirannya memicu kepanikan investor terkait konsekuensi inflasi akibat tingginya harga energi," tegas Fawad Razaqzada, analis pasar di FOREX.com.

Dilema Bank Sentral Hadapi Ancaman Inflasi

Lonjakan tajam biaya energi global ini memicu kekhawatiran baru akan potensi kembalinya gelombang inflasi konsumen di berbagai negara. Situasi tersebut memberikan tekanan berat kepada bank-bank sentral global, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat, untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.

Para pelaku pasar saat ini tengah mengarahkan fokus penuh pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat. Data inflasi tersebut dipandang sebagai penentu utama apakah The Fed akan mengambil langkah agresif menaikkan suku bunga pinjaman pada pertemuan pekan depan atau tetap mempertahankan kebijakan moneternya saat ini.

  • Kenaikan Signifikan: Brent melesat ke $100,19 per barel dan WTI mendekati $95 per barel.
  • Titik Rawan Logistik: Hambatan operasional terjadi di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab.
  • Risiko Moneter: Tekanan inflasi energi memaksa bank sentral dunia mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan.
Konflik bersenjata antara AS dan Iran yang memasuki bulan ketujuh memicu gangguan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab. Harga minyak Brent melesat ke $100,19/barel, meningkatkan kecemasan pasar terhadap lonjakan inflasi global dan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Baca selengkapnya di Apaberita.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User