Langkah impresif petenis putri tuan rumah, Jessica Pegula, di turnamen Grand Slam US Open terus berlanjut. Bertanding di Arthur Ashe Stadium, New York, petenis unggulan ketiga tersebut berhasil menundukkan kompatriotnya, Emma Navarro, dalam laga perempat final yang berlangsung penuh tekanan fisik dan mental. Kemenangan ini membawa Pegula melangkah ke babak semifinal untuk berhadapan dengan rival beratnya, Aryna Sabalenka.
Pertandingan yang menyedot perhatian publik Flushing Meadows ini tidak didapatkan Pegula dengan mudah. Ia harus bertarung sengit melawan kelembapan udara yang ekstrem serta kebangkitan Navarro di set ketiga sebelum akhirnya mengamankan tiket empat besar. Kemenangan ini sekaligus menegaskan dominasi Pegula atas Navarro dalam rekor pertemuan kedua pemain.
Drama 9 Break Service dan Tekanan Fisik di Arthur Ashe
Duel sesama wakil Amerika Serikat ini berjalan alot sejak awal set pertama. Kedua pemain saling mengandalkan pukulan dari garis belakang (baseline battle) dengan tempo tinggi. Pegula membutuhkan waktu total 2 jam 20 menit untuk menyegel kemenangan setelah sempat tertinggal akibat pematahan servis (break) awal di set penentu.
Sepanjang laga, laga diwarnai oleh 9 kali break service yang memperlihatkan tingginya tekanan bagi kedua pemain saat memegang servis. Kondisi cuaca New York yang sangat lembap turut menguji ketahanan fisik para atlet di lapangan.
- Set Pertama: Pegula mengambil alih kontrol jalannya laga lewat variasi pukulan mendalam dan pengembalian servis yang agresif.
- Set Kedua: Navarro menunjukkan perlawanan gigih dengan memanfaatkan kesalahan sendiri dari Pegula untuk memaksakan set penentu.
- Set Ketiga: Meski sempat tertinggal break lebih dulu, Pegula bangkit meraih poin-poin krusial beruntun hingga menutup laga dengan kemenangan.
“Pertandingan ini sangat berat dan menguras fisik. Udara sangat lembap. Servis saya tidak dalam performa terbaik dan saya harus bertarung melawan banyak tekanan dalam diri saya sendiri hari ini,” ujar Pegula usai laga.
Dominasi Rekor dan Peta Perebutan Takhta Dunia
Hasil manis ini memperpanjang catatan impresif Pegula yang kini memegang rekor kemenangan 5-0 atas Navarro. Navarro sendiri, yang merupakan mantan petenis peringkat delapan dunia, tengah membangun kembali kariernya setelah sempat jeda panjang akibat masalah kesehatan. Kemenangan gelar pertamanya dalam lebih dari setahun di Strasbourg pada Mei lalu sempat menjadi sinyal bahaya bagi Pegula.
Pegula, yang telah mengoleksi dua gelar juara pada musim ini, tiba di Flushing Meadows sebagai salah satu dari tiga pemain yang berpeluang menggeser Sabalenka dari puncak peringkat tunggal putri dunia. Petenis berusia 32 tahun itu wajib merengkuh gelar Grand Slam pertamanya di New York jika ingin memiliki peluang mengklaim takhta nomor satu dunia.
| Petenis | Usia | Status Unggulan | Pencapaian Terbaik US Open |
|---|---|---|---|
| Jessica Pegula | 32 Tahun | Unggulan ke-3 | Semifinal (2024) |
| Aryna Sabalenka | 26 Tahun | Unggulan Utama / Defending Champion | Juara (2024), Finalis (2023) |
Dinamika Peringkat Teratas WTA
Meski Pegula berambisi mengejar predikat nomor 1 dunia, kalkulasi peringkat bisa berubah sebelum laga semifinal digelar pada Kamis malam. Petenis peringkat dua dunia, Elena Rybakina, memiliki skenario paling terbuka untuk mengamankan posisi teratas tanpa memedulikan hasil pemain lain, dengan catatan ia mampu mengalahkan wakil Tiongkok, Zheng Qinwen, di babak perempat final.
Bagi Pegula, fokus utamanya kini tercurah penuh pada laga semifinal melawan Sabalenka. Pertemuan ini mengusung misi balas dendam tersendiri. Sabalenka merupakan sosok yang mengalahkan Pegula pada laga final US Open 2024 serta menghentikannya di babak semifinal tahun sebelumnya dalam perjalanannya mengamankan gelar Grand Slam kedua.
Comments (0)