Suasana peringatan Hari Perhubungan Nasional tahun ini membawa pesan kuat tentang pentingnya konektivitas di negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam momentum penuh makna yang mengusung tema "Indonesia Terkoneksi, Indonesia Maju", arah kebijakan sektor transportasi nasional kembali menjadi sorotan utama. Keberadaan infrastruktur perhubungan yang solid bukan sekadar persoalan membangun jalan tol atau dermaga pelabuhan, melainkan tentang bagaimana menyambungkan urat nadi perekonomian rakyat dari Sabang sampai Merauke secara efisien, aman, dan inklusif.
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono yang akrab disapa Ibas, menegaskan pentingnya mewujudkan sistem perhubungan nasional yang terintegrasi, aman, terjangkau, serta ramah lingkungan. Menurutnya, pembenahan menyeluruh pada sektor perhubungan menjadi salah satu pilar utama dan fondasi yang tidak terpisahkan dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.
Pilar Utama Konektivitas Masa Depan
Ibas menyampaikan bahwa transformasi moda transportasi modern tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik sarana dan prasarana semata. Aspek keselamatan pengguna, keterjangkauan harga tiket bagi seluruh lapisan masyarakat, serta inklusivitas layanan bagi penyandang disabilitas dan masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) harus menjadi prioritas mendasar dalam setiap perencanaan infrastruktur.
"Membangun sistem perhubungan nasional yang terintegrasi, aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan adalah salah satu fondasi utama kita untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Transportasi bukan hanya pengangkut barang dan orang, melainkan jembatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Ibas dalam keterangannya di Jakarta.
Tantangan Sektor Perhubungan dan Target Strategis
Meskipun pembangunan infrastruktur secara masif telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tantangan mendasar masih membayang-bayangi sektor perhubungan nasional. Ketimpangan akses transportasi antara Pulau Jawa dan luar Jawa, tingginya biaya logistik nasional yang mencapai angka 14 persen dari PDB, hingga emisi karbon dari sektor transportasi yang terus meningkat menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan lewat sinergi antar-lembaga.
| Aspek Transportasi | Kondisi Saat Ini | Target Indonesia Emas 2045 |
|---|---|---|
| Biaya Logistik | ~14% dari PDB | Di bawah 8% dari PDB |
| Konektivitas Wilayah | Masih terkonsentrasi di pusat ekonomi | Terintegrasi penuh hingga daerah 3T |
| Transisi Energi | Dominasi Bahan Bakar Fosil | Penggunaan Kendaraan Listrik (EV) & Energi Bersih |
Mendorong Sinergi Kebijakan dan Investasi Hijau
Lebih lanjut, Ibas menyoroti perlunya dorongan regulasi yang ramah investasi serta keberanian untuk beralih ke moda transportasi berkelanjutan (green transportation). Penggunaan kendaraan listrik umum, digitalisasi sistem tiket terpadu antar-moda, dan modernisasi armada transportasi massal menjadi langkah krusial yang harus dikawal bersama oleh pemerintah dan DPR RI.
"Kita harus memastikan bahwa konektivitas antar-moda—baik darat, laut, maupun udara—bisa berjalan secara seamless tanpa hambatan birokrasi dan biaya yang membengkak. Kunci utamanya ada pada sinergi antar-lembaga dan keberanian beralih ke teknologi ramah lingkungan," tegas anggota legislatif dari dapil Jawa Timur VII tersebut.
Peringatan Hari Perhubungan Nasional kali ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa perjalanan menuju target Indonesia Emas 2045 memerlukan fondasi sistem perhubungan yang tangguh. Dengan perbaikan regulasi dan tata kelola yang konsisten, cita-cita melihat Indonesia yang benar-benar terkoneksi dan maju bukan lagi sekadar impian di atas kertas, melainkan kenyataan yang dirasakan oleh seluruh rakyat di pelosok negeri.
Comments (0)