Sep 17, 2026
Hukum

Beban Ekonomi Dengue di Indonesia Capai Hampir Rp9 Triliun

Apaberita.com, JAKARTA — Ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia tidak hanya berdampak serius pada sektor kesehatan masyarakat, tetapi ju

Beban Ekonomi Dengue di Indonesia Capai Hampir Rp9 Triliun

Apaberita.com, JAKARTA — Ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia tidak hanya berdampak serius pada sektor kesehatan masyarakat, tetapi juga memicu kerugian finansial yang sangat besar. Berdasarkan hasil studi terbaru, estimasi beban ekonomi akibat infeksi dengue di tanah air pada tahun 2024 diperkirakan menembus 550,9 juta dolar AS atau setara dengan hampir Rp9 triliun.

Besarnya angka tersebut mencerminkan tingginya biaya langsung untuk perawatan medis di rumah sakit, pembelian obat-obatan, hingga biaya tidak langsung akibat hilangnya produktivitas kerja pasien maupun keluarga yang merawat.

Eskalasi Beban Finansial dan Dampak Sistem Kesehatan

Kajian ekonomi kesehatan ini menyoroti bahwa dengue tetap menjadi salah satu tantangan epidemiologis terbesar bagi sistem jaminan kesehatan nasional. Tingginya angka rawat inap selama siklus lonjakan kasus musiman membebani fasilitas pelayanan kesehatan, baik di tingkat puskesmas maupun rumah sakit rujukan.

"Beban ekonomi yang mencapai hampir Rp9 triliun ini menjadi peringatan nyata bahwa dengue bukan sekadar masalah infeksi musiman, melainkan ancaman fiskal dan produktivitas bangsa jika tidak ditangani dengan strategi preventif yang komprehensif," ungkap laporan riset tersebut.

Kerugian ekonomi ini terbagi ke dalam beberapa komponen utama yang membebani masyarakat dan negara:

  • Biaya Medis Langsung (Direct Medical Costs): Meliputi biaya rawat inap, pemeriksaan laboratorium intensif, pengobatan simtomatik, dan fasilitas perawatan kritis.
  • Biaya Non-Medis Langsung (Direct Non-Medical Costs): Transportasi menuju fasilitas medis, akomodasi keluarga pasien, serta kebutuhan logistik selama masa perawatan.
  • Biaya Tidak Langsung (Indirect Costs): Hilangnya hari kerja produktif bagi pasien dewasa dan hilangnya pendapatan pendamping pasien (caregiver).

Kronologi dan Urutan Penguatan Intervensi Pengendalian

Guna menekan laju lonjakan kasus dan meminimalkan kerugian finansial di masa mendatang, otoritas kesehatan bersama para pakar merekomendasikan langkah-langkah terstruktur melalui tahapan berikut:

  1. Penguatan Deteksi Dini: Mengoptimalkan penggunaan alat diagnostik cepat (RDT antigen NS1) di fasilitas kesehatan tingkat pertama agar penanganan tidak terlambat hingga fase syok.
  2. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Terpadu: Menggiatkan kembali gerakan 3M Plus secara serentak di lingkungan pemukiman, sekolah, dan tempat kerja secara berkala.
  3. Penerapan Teknologi Inovatif: Memperluas implementasi pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di berbagai kota endemik untuk menekan replikasi virus dengue.
  4. Pemanfaatan Vaksinasi Dengue: Mendorong akses dan edukasi terkait vaksinasi dengue sebagai perlindungan spesifik tambahan bagi kelompok rentan dan anak-anak.

Menjadikan Pencegahan Sebagai Prioritas Nasional

Para pakar kesehatan menegaskan bahwa alokasi anggaran untuk program promotif dan preventif terbukti jauh lebih hemat biaya (cost-effective) dibandingkan menanggung biaya kuratif saat wabah merebak. Sinergi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mencapai target nol kematian akibat dengue (Zero Dengue Death) pada 2030.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User