Kisah Wagino, 25 Tahun Jualan Buku di DU Kini Pasrah Digusur

Bandung - Di tengah hiruk-pikuk pembongkaran bangunan liar di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, Rabu (24/6/2026), seorang pria berusia lanjut masih terlihat tenang

Jul 08, 2026 - 05:41
0 0
Kisah Wagino, 25 Tahun Jualan Buku di DU Kini Pasrah Digusur

Bandung - Di tengah hiruk-pikuk pembongkaran bangunan liar di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, Rabu (24/6/2026), seorang pria berusia lanjut masih terlihat tenang merapikan tumpukan buku di kiosnya. Suara gemuruh alat berat yang meruntuhkan satu per satu bangunan liar di sekitarnya seolah tak menggoyahkan ketenangannya. Pria itu adalah Wagino, seorang pedagang buku yang telah menghabiskan lebih dari dua dekade hidupnya di atas trotoar kawasan Dipatiukur.

Wagino, yang kini berusia 64 tahun, bukanlah wajah baru di kawasan tersebut. Selama 25 tahun terakhir, ia menjadikan lapak buku sederhana yang berdiri di atas trotoar sebagai sumber penghidupan utama bagi keluarganya. Dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan judul buku bekas yang tertata rapi di rak-rak kayu, Wagino telah menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Jalan Dipatiukur. Namun, hari itu menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan panjangnya di tempat yang sama.

Ketika petugas gabungan dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan aparat keamanan melakukan penertiban massal terhadap puluhan bangunan liar yang menguasai trotoar, Wagino hanya bisa pasrah. Kios bukunya termasuk dalam daftar bangunan yang harus diratakan dengan tanah. Meski raut kesedihan terlihat jelas di wajah tuanya, ia tak melakukan perlawanan berarti. Baginya, penertiban ini adalah realitas pahit yang harus diterima.

Sepotong Kenangan di Trotoar Dipatiukur

Untuk seorang Wagino, trotoar Jalan Dipatiukur bukan sekadar tempat berdagang. Tempat itu adalah saksi bisu perjuangan hidupnya, tempat ia membesarkan anak-anaknya dari hasil menjual buku-buku bekas. Selama 25 tahun, ia telah melalui berbagai peristiwa penting di Kota Bandung—dari hiruk-pikuk reformasi hingga modernisasi yang terus menggerus ruang-ruang pedagang kecil seperti dirinya.

"Saya sudah di sini sejak tahun 2000-an awal. Buku-buku ini mungkin terlihat tua, tapi dari sinilah saya hidup. Sekarang ya harus ikhlas, demi ketertiban kota," ujar Wagino lirih sambil tetap merapikan beberapa buku yang masih bisa diselamatkannya.

Penertiban ini merupakan bagian dari revitalisasi kawasan yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung. Trotoar-trotoar yang selama ini dikuasai pedagang kaki lima (PKL) dan bangunan liar akan difungsikan kembali sesuai peruntukannya, yaitu untuk pejalan kaki. Kawasan Dipatiukur dan Singaperbangsa yang selama puluhan tahun semrawut oleh lapak-lapak liar, kini mulai dibersihkan.

Meski pasrah, Wagino mengaku bingung harus memulai lagi dari mana. Di usianya yang tidak lagi muda, menjajakan buku di tempat baru bukanlah pilihan mudah. "Saya tidak punya tempat lain. Buku-buku ini mungkin nanti saya simpan dulu di rumah, sambil berpikir mau bagaimana," katanya dengan tatapan kosong ke arah tumpukan buku yang mulai berdebu.

Kisah Wagino hanyalah satu dari sekian banyak potret pedagang kecil yang tergusur oleh kebijakan penataan kota. Di balik gemuruh alat berat yang merobohkan bangunan liar, tersimpan kisah-kisah manusia yang bertahun-tahun menggantungkan hidup di tempat yang sama. Namun, di sisi lain, penertiban ini menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi trotoar dan menciptakan ruang publik yang lebih tertata.

Apaberita.com masih terus memantau perkembangan pelaksanaan penertiban dan upaya pemerintah dalam mencarikan solusi bagi para pedagang yang terdampak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Editor Olahraga. Editor sepak bola, MotoGP, dan timnas.

Comments (0)

User