Kisah Pedagang Daging di Pasar Senggol Rawa Belong Bertahan Hadapi Zaman

Jakarta - Gelombang modernisasi yang kian deras, terutama di sektor keuangan digital, nyaris menyentuh setiap sudut kehidupan masyarakat. Dampaknya pun tak luput dirasakan oleh para pedagang tradisio

Jul 07, 2026 - 23:27
0 0
Kisah Pedagang Daging di Pasar Senggol Rawa Belong Bertahan Hadapi Zaman

Jakarta - Gelombang modernisasi yang kian deras, terutama di sektor keuangan digital, nyaris menyentuh setiap sudut kehidupan masyarakat. Dampaknya pun tak luput dirasakan oleh para pedagang tradisional di Pasar Senggol Rawa Belong, Jakarta Barat. Di antara deretan lapak yang menggeliat setiap pagi di sepanjang Jalan Ayub, Arif (45) menjadi salah satu sosok yang tetap gigih mempertahankan usaha jualan daging sapinya, sembari perlahan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.

Memulai Sejak Remaja

Arif telah menggeluti dunia perdagangan daging sejak dirinya menginjak usia 16 tahun. Lokasi lapaknya di Jalan Ayub, Gang Yahya, Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, setiap pagi disulap menjadi pasar tumpah yang ramai oleh aktivitas jual beli. Di sana ia tidak sendirian—beberapa penjual daging lain turut meramaikan persaingan di kawasan yang oleh warga setempat lazim disebut ‘pasar senggol’. Meski telah puluhan tahun berjibaku dengan ketidakpastian rezeki, Arif tetap memilih bertahan karena keterampilan ini adalah warisan berharga yang ia miliki.

Saat reporter Apaberita.com menemuinya pada Minggu (21/6) sekitar pukul 10.20 WIB, pria bersahaja itu tampak tengah melepas lelah di sela-sela aktivitasnya. Sesekali ia mengobrol dengan sesama pedagang sembari memainkan ponsel pintar di tangannya—sebuah pemandangan yang sepintas kontras dengan kesan pasar tradisional. Maklum, lapaknya sudah buka sejak pukul setengah enam pagi, namun hingga menjelang siang, dagangannya baru laku sekitar tiga kilogram.

Digitalisasi di Pelataran Pasar

Kehadiran ponsel pintar di tangan Arif bukan sekadar hiburan. Ia mengaku, tuntutan transaksi digital menjadi salah satu tantangan baru yang harus ia taklukkan. “Dulu pembeli cukup bawa uang tunai, sekarang makin banyak yang ingin bayar pakai QRIS atau dompet digital. Kalau saya tidak bisa ikutin, bisa kehilangan pelanggan,” ujar Arif kepada Apaberita.com.

“Dulu pembeli cukup bawa uang tunai, sekarang makin banyak yang ingin bayar pakai QRIS atau dompet digital. Kalau saya tidak bisa ikutin, bisa kehilangan pelanggan.”

Adaptasi ini tentu tidak mudah. Modal awal untuk menyediakan kode pembayaran digital memaksanya merogoh kocek lebih, namun lambat laun justru membantu memperluas jangkauan konsumen—mulai dari ibu rumah tangga yang tak lagi suka membawa uang banyak, hingga anak muda yang terbiasa dengan layanan keuangan modern.

Arif sadar, tantangan tidak berhenti di situ. Musim paceklik ketika permintaan daging menurun dan persaingan antar sesama pedagang yang semakin sengit membuat hari-harinya penuh kalkulasi. Namun, semangat untuk terus berjualan dan menafkahi keluarga membuatnya rela membuka lapak sejak fajar menyingsing. “Rezeki sudah ada yang ngatur, tugas saya cuma jaga kualitas daging dan layani pembeli dengan baik,” tambahnya mantap.

Kehadiran pasar senggol Rawa Belong yang hanya beroperasi pada pagi hari sebenarnya memberikan batasan waktu tersendiri. Sekitar pukul 11.00, aktivitas pasar mereda dan lapak-lapak kembali berganti menjadi jalan biasa. Momen inilah yang menentukan apakah seorang pedagang harus pulang dengan senyum lega atau justru menenteng sisa dagangan yang masih utuh. Bagi Arif, setiap kilogram daging yang terjual bukan sekadar nominal, melainkan wujud ketangguhan seorang pejuang kecil di tengah pusaran zaman.

Di tengah gempuran ritel modern dan layanan belanja daring, pasar tradisional seperti Rawa Belong tetap memiliki daya tarik emosional yang sulit tergantikan. Arif dan rekan-rekannya adalah penjaga terakhir denyut ekonomi kerakyatan yang, meski tertatih, terus melangkah mengikuti irama modernitas. Kisah mereka menjadi potret nyata bahwa usaha kecil bisa tetap relevan, asal mau bergerak seiring perubahan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Editor Olahraga. Editor sepak bola, MotoGP, dan timnas.

Comments (0)

User