Khofifah Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Lestarikan Sungai Jatim

SURABAYA, Apaberita — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka peringatan Hari Sungai Nasional 2026 di Taman Surya, Surabaya, Kamis (23/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, i...

Khofifah Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Lestarikan Sungai Jatim

SURABAYA, Apaberita — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka peringatan Hari Sungai Nasional 2026 di Taman Surya, Surabaya, Kamis (23/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk melestarikan fungsi dan keberlanjutan sungai-sungai di wilayah Jawa Timur.

Mengenakan pakaian dinas khaki lengkap, Khofifah tampak semangat menyampaikan orasi mengenai peran vital sungai bagi kehidupan masyarakat. Hadir dalam acara tersebut jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para bupati/wali kota se-Jawa Timur, akademisi lingkungan, serta puluhan komunitas peduli sungai yang telah aktif merehabilitasi bantaran.

Peringatan Hari Sungai Nasional 2026

Peringatan yang mengusung tema “Sungai Bersih, Masyarakat Sehat” tahun ini menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus merancang strategi baru pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) di Jawa Timur. Menurut Khofifah, sungai tidak boleh hanya dijadikan objek pembangunan, tetapi harus diperlakukan sebagai subjek yang hidup dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

“Kita semua, baik pemerintah, swasta, akademisi, media, maupun masyarakat, memiliki tanggung jawab yang sama. Tidak ada yang bisa bekerja sendiri. Hari Sungai Nasional ini harus menjadi titik awal kolaborasi yang lebih massif dan terstruktur,” tegas Khofifah di hadapan para peserta.

Ia menekankan bahwa kolaborasi tersebut harus diwujudkan dalam bentuk aksi nyata, antara lain melalui gerakan bersih sungai, pengendalian limbah domestik dan industri, penanaman pohon di bantaran, serta pengembangan ekowisata sungai berbasis masyarakat.

Kondisi Sungai di Jawa Timur

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur per Desember 2025, dari total 428 sungai besar dan kecil yang terdata, sekitar 62 persen di antaranya mengalami penurunan kualitas air akibat pencemaran. Sumber pencemaran terbesar berasal dari limbah rumah tangga (42 persen), industri (30 persen), dan pertanian (28 persen). Sungai Brantas, sebagai sungai terpanjang kedua di Jawa, terus menerima tekanan ekologis yang mengkhawatirkan.

“Data ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai dasar agar kita semua lebih peduli. Sungai yang tercemar mengancam kesehatan manusia, mengganggu ekosistem, dan menurunkan kualitas air baku,” ujar Khofifah sambil menunjukkan grafik indeks kualitas air beberapa sungai utama Jawa Timur.

Lebih lanjut, ia menyoroti beberapa sungai vital seperti Kali Mas, Kali Surabaya, dan Kali Porong yang harus segera direstorasi. Pencemaran yang terus berlangsung berdampak pada biaya pengolahan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang semakin tinggi, sehingga merugikan konsumen. Sungai Brantas sendiri melayani kebutuhan air bersih bagi lebih dari 15 juta penduduk di Jawa Timur. Tak hanya pencemaran, tingginya sedimentasi di Kali Lamong dan Kali Solo, misalnya, memperparah pendangkalan dan memicu banjir rutin di kawasan hilir. Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, sepanjang tahun 2025 terjadi 47 peristiwa banjir yang dipicu oleh meluapnya sungai akibat daya tampung yang menurun.

“Kita harus memulihkan fungsi resapan dan mengurangi tekanan terhadap sungai. Tidak ada pilihan lain selain gotong royong,” tegas Khofifah.

Komitmen Pemerintah dan Anggaran

Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menetapkan beberapa program prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2024-2029, termasuk program “Jatim Lestari Sungai” yang menargetkan penurunan tingkat pencemaran sebesar 30 persen pada tahun 2029. Untuk mencapai target itu, Khofifah menginstruksikan seluruh perangkat daerah, mulai dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) hingga Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air, agar melakukan sinergi perencanaan dan pembiayaan. Ia juga mendorong partisipasi swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk merehabilitasi sungai di sekitar lokasi operasi.

“Saya sudah memerintahkan Sekretaris Daerah untuk segera menyusun rencana aksi kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi, LSM, dan dunia usaha. Tidak boleh lagi ada ego sektoral. Semua harus dalam satu komando,” ujar Khofifah dengan nada tegas.

Ia juga mengumumkan bahwa pada tahun anggaran 2027, Pemprov Jatim akan mengalokasikan dana sebesar Rp 350 miliar khusus untuk rehabilitasi sungai dan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di kawasan padat penduduk. Anggaran tersebut akan difokuskan pada 15 sungai prioritas yang mengalami tingkat pencemaran berat.

Sinergi Dunia Usaha dan Komunitas

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur, Jajang Nurjaman, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggandeng 20 perusahaan besar dalam program “Industri Hijau Sungai Lestari”. Perusahaan-perusahaan tersebut berkomitmen untuk melakukan pengolahan limbah hingga memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke badan air. Tak hanya perusahaan, TNI dan Polri turut dilibatkan dalam program Karya Bhakti Sungai yang difokuskan pada normalisasi dan pembersihan sampah. Sementara itu, perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya dan ITS memberikan dukungan riset serta pengabdian masyarakat di bantaran sungai.

“Kami rutin melakukan inspeksi mendadak dan uji sampel air. Sejak program ini berjalan 2 tahun, empat perusahaan berhasil menurunkan beban pencemaran hingga 40 persen, namun masih banyak yang perlu ditingkatkan,” jelas Jajang. Ia menambahkan, data laboratorium menunjukkan perbaikan bertahap kualitas air di hilir Kali Brantas, meskipun masih di bawah standar mutu.

Direktur CSR PT Petrokimia Gresik, Andi Santoso, yang turut hadir dalam acara, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendukung penuh program restorasi sungai.

“Kami berkomitmen mendukung penuh program ini dengan menyediakan teknologi IPAL dan pendampingan masyarakat. Kolaborasi dengan pemprov sangat penting untuk keberlanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Peduli Kali Brantas (KPK), Sutikno, yang turut hadir, menyambut baik seruan gubernur. Ia berharap kolaborasi yang dijanjikan tidak berhenti pada seremoni belaka.

“Kami sudah 20 tahun mendampingi masyarakat mengelola Kali Brantas. Dukungan anggaran dan kebijakan dari provinsi sangat kami nantikan. Semoga ini bukan sekadar komitmen di atas kertas,” kata Sutikno.

Acara peringatan Hari Sungai Nasional 2026 ditutup dengan aksi simbolik penebaran ribuan benih ikan nila dan penanaman 500 bibit pohon trembesi di bantaran Kali Mas. Khofifah turun langsung bersama warga dan siswa sekolah untuk melakukan penanaman pohon dan membersihkan sampah di sekitar sungai.

Dengan kolaborasi yang semakin erat, Gubernur Khofifah optimistis bahwa sungai-sungai di Jawa Timur dapat pulih dan kembali menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User