Kepergian Dini Yuliani, Istri Bupati Purwakarta yang Mendampingi Om Zein
PURWAKARTA — Kabar duka menyelimuti lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Dini Yuliani, istri dari Bupati Purwakarta Saepul Bahri Bin Zain yang akrab disapa Om Zein, meninggal dunia pada Selas...
PURWAKARTA — Kabar duka menyelimuti lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Dini Yuliani, istri dari Bupati Purwakarta Saepul Bahri Bin Zain yang akrab disapa Om Zein, meninggal dunia pada Selasa (28/10) pagi. Informasi yang dihimpun Apaberita menyebutkan, Dini Yuliani mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 06.15 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih, Purwakarta, setelah menjalani perawatan intensif akibat penyakit yang telah lama dideritanya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta masyarakat Purwakarta yang mengenal sosoknya sebagai pendamping setia pemimpin daerah.
Kronologi dan Suasana Duka di Kediaman Resmi
Berdasarkan keterangan dari pihak protokol dan kehumasan Pemkab Purwakarta, Dini Yuliani telah berada dalam pengawasan ketat tim dokter selama beberapa hari terakhir. Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa almarhumah sempat menjalani sesi pengobatan di ruang VIP RSUD Bayu Asih sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir saat didampingi langsung oleh Bupati Saepul Bahri, ketiga anaknya, serta sejumlah kerabat dekat.
Jenazah kemudian disemayamkan di Rumah Dinas Bupati Purwakarta di Jalan Gandanegara Nomor 25, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Purwakarta. Sejak Selasa pagi, pelayat dari berbagai unsur mulai berdatangan — mulai dari pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para kepala perangkat daerah, tokoh agama, hingga warga biasa yang hendak memberikan penghormatan terakhir.
Sosok Pendamping Setia di Balik Kepemimpinan Om Zein
Dini Yuliani bukan sekadar istri seorang kepala daerah. Selama Saepul Bahri menjabat sebagai Bupati Purwakarta, ia dikenal aktif mendorong sejumlah program sosial kemasyarakatan. Salah satu inisiatif yang lekat dengan namanya adalah Gerakan Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (GPKIA) Purwakarta, yang gencar mengurangi angka stunting dan kematian ibu melahirkan di wilayah perdesaan. Melalui program itu, ia kerap turun langsung ke posyandu dan puskesmas, mendampingi kader kesehatan, serta memastikan distribusi makanan tambahan bergizi tepat sasaran.
Ia juga menjadi motor penggerak pembentukan Forum Komunikasi Istri Bupati se-Wilayah Priangan Timur, wadah yang menghimpun gagasan para pendamping kepala daerah untuk memperkuat ketahanan keluarga. Dalam forum itu, Dini Yuliani kerap menekankan pentingnya pendidikan karakter anak di tengah derasnya arus digitalisasi. "Ibu Dini selalu bilang, kemajuan teknologi harus dibarengi penguatan iman dan budi pekerti, karena anak-anak kita akan mewarisi Indonesia di masa depan," ujar Nurhayati, salah satu pengurus PKK yang pernah mendampingi almarhumah dalam kunjungan kerja ke Kecamatan Sukatani, awal Oktober lalu.
Di mata para aktivis perempuan, Dini Yuliani dianggap sebagai figur yang mampu menjembatani aspirasi kaum ibu ke dalam kebijakan pemerintah daerah. Ia disebut-sebut turut mendorong terbitnya Peraturan Bupati Nomor 12 Tahun 2024 tentang Perlindungan Pekerja Perempuan di Sektor Informal, sebuah regulasi yang memberikan jaminan sosial dasar bagi buruh rumahan dan pedagang pasar tradisional.
Dukungan dan Ucapan Belasungkawa dari Berbagai Pihak
Begitu kabar duka tersiar, ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai penjuru. Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin menyampaikan dukacita mendalam melalui sambungan telepon yang diterima langsung oleh Om Zein. "Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, saya menyampaikan duka yang mendalam. Semoga almarhumah husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," tutur Bey sebagaimana dikutip oleh staf protokol gubernur.
Senada dengan itu, Ketua DPRD Purwakarta Sri Puji Rahayu menginstruksikan seluruh fraksi untuk menghentikan sementara agenda paripurna sebagai bentuk penghormatan. Rapat koordinasi yang sedianya membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD 2026 diundur hingga Kamis (30/10). Fraksi-fraksi di DPRD kompak menyatakan ikut berduka dan siap membantu kelancaran proses pemakaman.
Dari kalangan ulama, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin KH. Ahmad Fauzi menyebut Dini Yuliani sebagai sosok yang rutin hadir dalam pengajian bulanan dan kerap menyumbang santunan anak yatim tanpa publikasi. "Beliau sosok yang tenang dan bersahaja, tidak ingin segala kebaikannya diekspos media," katanya usai memimpin doa bersama di Masjid Agung Baing Yusuf.
Rencana Pemakaman dan Penghormatan Terakhir
Berdasarkan hasil koordinasi antara pihak keluarga, sekretariat daerah, dan kepolisian resor setempat, jenazah akan dishalatkan di Masjid Agung Baing Yusuf pada Selasa sore pukul 15.30 WIB, dilanjutkan dengan prosesi pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nagrog, Kecamatan Purwakarta, pada pukul 16.30 WIB. Pemerintah Kabupaten Purwakarta telah menerbitkan pengumuman resmi yang mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) mengenakan pita hitam selama tiga hari ke depan sebagai tanda berkabung. Selain itu, Bupati Saepul Bahri akan mengambil cuti selama tujuh hari untuk menyelesaikan urusan keluarga dan menyambut masa idah.
Di tengah suasana duka, publik Purwakarta mendoakan agar Dini Yuliani mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Kepergiannya yang mendadak menjadi pengingat bahwa di balik kekuasaan dan hiruk-pikuk politik lokal, ada sosok pendamping yang diam-diam menopang jalannya pemerintahan dengan kerja-kerja sunyi. Masyarakat akan mengenangnya sebagai ibu yang merangkul semua kalangan, tanpa membedakan latar belakang partai maupun strata sosial.
Baca juga:
Comments (0)